Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 31.


__ADS_3

Diana dan semua orang terkejut mendengar seorang pria meminta Raka untuk keluar, karena posisi mereka sedang berada di dalam, mereka tak tahu siapa yang datang.


"Siapa itu?" tanya Eliana penasaran bercampur bingung.


"Entahlah, Ma. Biar aku lihat dulu!" ujar Raka lalu segera berjalan keluar, tapi wajahnya langsung berubah tegang dan panik ketika melihat dua orang yang dia kenal sedang berdiri di depan laundry.


"Sial! Bagaimana mereka bisa tahu tempat ini?" batin Raka heran bercampur gelisah.


"Akhirnya kita bertemu lagi," ujar seorang pria yang tak lain adalah karyawan bar tadi semalam.


"Dari mana kalian tahu tempat ini?" Raka bertanya dengan pelan, dia takut Eliana dan Diana dengar.


"Itu enggak penting, sekarang juga bayar hutang mu atau kami akan membuat keributan di sini," ancam karyawan bar itu.


"Iya, nanti aku bayar. Sekarang kalian pergi, jangan membuat keributan di sini," ujar Raka.


"Aku enggak mau tertipu lagi, bayar sekarang juga!" Karyawan bar itu bersikeras.


"Ada apa, Ka? Siapa orang-orang ini?" cecar Eliana yang akhirnya keluar sebab merasa cemas.


Diana juga ikut keluar bersama calon mertuanya itu.


Raka menelan ludah, tamat sudah riwayatnya karena kali ini Diana dan sang mama pasti akan tahu apa yang selama ini dia sembunyikan.


"Mereka teman aku, Ma. Ada sedikit salah paham," kilah Raka gugup.


"Dia bohong, Bu! Kami ke sini karena ingin menagih hutangnya yang sudah lama sekali enggak dia bayar," sela karyawan bar itu.


Eliana mengernyit, "Hutang apa?"


Raka semakin panik dan langsung membatah, "Dia bohong, Ma. Aku enggak pernah berhutang padanya!"


Eliana dan Diana kebingungan. Sementara pemuda itu naik darah dan ingin menyerang Raka.

__ADS_1


"Jangan bohong!" bentak pemuda itu sembari ingin menarik baju Raka, untung dengan sigap temannya menahan dirinya


"Eh, jangan main tangan! Saya bisa lapor polisi!" ancam Eliana yang langsung menjadi tameng untuk sang putra.


"Kalau begitu aku juga akan laporkan anak ibu ke polisi karena dia sudah menipu!" Pemuda itu balik mengancam.


Raka bertambah panik, keadaan jadi semakin panas. Eliana pun jadi semakin bingung dengan apa yang terjadi. Sedangkan Diana hanya bergeming mengamati mereka, dia tak ingin ikut campur meskipun juga merasa kebingungan.


"Baiklah, kita bicarakan baik-baik!Sebenarnya ada apa ini?" Eliana melembutkan suaranya.


Raka langsung menatap tidak setuju pada Eliana, "Ma, enggak perlu! Usir saja mereka dari sini!"


"Tunggu dulu! Mama harus tahu masalahnya apa!" ujar Eliana, lalu menatap karyawan bar itu, "katakan ada apa!"


Raka kembali menelan ludah, kali ini habislah dia.


"Dia meminjam uang dariku sebesar dua belas juta rupiah dan sampai sekarang belum dibayar, jika ditagih dia cuma janji-janji aja, bahkan semalam dia berusaha kabur dari bar karena aku memaksanya untuk bayar," terang pemuda itu.


Diana dan Eliana terkesiap, mendengar pengakuan pemuda itu. Bahkan Eliana sontak menatap Raka dengan tajam.


"Sudah ku bilang dia bohong, Ma! Jadi usir saja mereka!" Raka masih berusaha berkelik.


"Aku ada buktinya jika dia sering ke bar tempat aku bekerja untuk bermain judi," sambung pemuda itu.


Eliana dan Diana lagi-lagi terkejut mendengar semua itu.


"Apa? Kamu berjudi?" Eliana syok mengetahui kelakuan buruk anaknya itu.


Diana pun juga kaget setengah mati, dia tak menyangka Raka yang terlihat baik dan polos nyatanya punya kebiasaan berjudi.


"Ma, itu enggak benar!" sanggah Raka.


Karyawan bar itu mengeluarkan telepon genggamnya lalu menyodorkannya ke Eliana, "Ini bukti rekaman cctv bar! Hampir tiap malam dia datang ke sini dan meminjam uang padaku."

__ADS_1


Eliana menonton rekaman video yang menunjukkan Raka memang ada di tempat bercahaya remang-remang itu, bahkan yang parahnya lagi Raka bermain judi ditemani beberapa wanita seksi. Diana juga ikut menonton rekaman video itu.


Hati Eliana kecewa dan marah, dia tak menyangka jika putra kesayangannya itu melakukan perbuatan yang tidak terpuji seperti ini.


Plak.


Dengan penuh emosi, Eliana pun melayangkan tamparan keras ke pipi Raka, "Mama kecewa sama kamu! Selama ini Mama pikir kamu anak yang baik, tapi ternyata Mama salah!"


Raka terkejut dan langsung memegangi pipinya yang perih, "Ma, aku minta maaf."


Diana tak menyangka Eliana akan menampar putranya itu di depan dirinya dan dua orang asing tersebut. Sejujurnya dia juga merasa kecewa melihat tabiat buruk Raka yang baru dia ketahui sekarang.


"Mama enggak mau tahu, pokoknya kamu bayar hutang kamu dan selesaikan masalah ini! Jangan bicara pada Mama kalau kamu masih belum berubah!" kecam Eliana dan bergegas masuk ke dalam laundry dengan berlinang air mata.


Diana segera menyusul atasannya itu dan meninggalkan Raka bersama dua pemuda yang masih berdiri di depan laundry.


"Puas kalian sudah membuat keributan?" bentak Raka.


Karyawan bar itu tersenyum, "Ini akibatnya jika kau mempermainkan kami, sekarang bayar hutang mu! Atau aku akan benar-benar lapor polisi, karena aku punya buktinya."


"Berengsek! Aku akan bayar nanti!" sahut Raka.


"Sekarang, aku enggak mau termakan janjimu lagi!" desak pemuda itu.


"Tunggu di sini!" Raka bergegas masuk ke dalam laundry untuk menemui Eliana, dia tak ada pilihan lagi selain meminjam uang pada sang mama.


Sementara itu di seberang jalan, Revan memarkirkan mobilnya dan sejak tadi mengawasi laundry dengan senyum penuh kemenangan. Dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, dan dia senang sebab berhasil bersekongkol dengan karyawan bar itu untuk membongkar tabiat buruk Raka di depan Diana, dia berharap wanita tersebut akan berubah pikiran dan membatalkan lamaran Raka.


Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, Adam menelepon. Revan segera menjawab panggilan masuk dari teman dekatnya itu.


"Halo, Dam."


"Van, kau sudah lihat berita viral tentang mu hari ini?"

__ADS_1


***


__ADS_2