
Menjelang sore, Diana akhirnya selesai memindahkan barang-barangnya ke ruko milik Eliana yang akan dia tempati.
"Ibu kaget saat kamu bilang mau pindah hari ini, soalnya kan anak kamu sedang sakit," ujar Eliana.
"Mumpung aku libur, Bu," dalih Diana, dia tak mungkin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Iya, padahal aku sudah bilang, nanti saja pindahnya setelah Dafa sehat, tapi Diana mau nya hari ini juga," sahut Siska yang ikut mengantarkan keponakannya itu pindah.
"Kayaknya Diana sudah enggak sabar, mudah-mudahan kamu betah tinggal di sini." Eliana memegang pundak Diana.
"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak kerena sudah mengizinkan kami tinggal di sini," balas Diana.
Eliana tersenyum, "Sama-sama, kalau begitu Ibu turun dulu."
Diana mengangguk sambil tersenyum.
"Mari Bu Siska," tegur Eliana, kemudian bergegas turun ke lantai bawah.
Siska mengamati ke sekeliling kamar berukuran empat kali empat itu, memang tidak sebesar dan sebagus kamar di rumahnya, tapi cukup nyaman untuk ditempati oleh Diana dan Dafa.
"Nanti Tante akan sering main ke sini."
"Iya, kapan aja Tante boleh datang, kok."
"Tapi kamu juga main dong ke rumah Tante!" pinta Siska.
"Pasti, Tante. Tapi aku mohon jangan bilang ke Revan kalau sekarang kami tinggal di sini, aku enggak mau dia menggangu Dafa lagi."
"Tapi Tante harus bilang apa kalau dia tanya?"
"Berikan aja alamat yang palsu! Atau bilang kalau aku melarang Tante untuk mengatakannya pada dia!"
"Tapi dia kan tahu kamu bekerja di mana, bagaimana kalau dia datang ke sini?"
"Aku akan menyembunyikan Dafa, aku enggak akan membiarkan dia bertemu dengan anakku!"
__ADS_1
"Di, kamu benar-benar enggak ingin berdamai dengan Nak Revan?" tanya Siska.
Diana menggeleng, "Enggak, Tante. Sampai kapan pun aku enggak akan berdamai dengan dia!"
"Tapi Tante rasa dia berhak mendapatkan kesempatan untuk menjadi ayah yang baik buat Dafa."
"Dafa enggak butuh ayah seperti dia, Tante!" sungut Diana kesal, dia enggak sudi membiarkan Revan mendekati putranya.
Siska mengembuskan napas dan bergeming, selama ini yang dia tahu, Diana itu wanita yang penurut, berhati lembut dan enggak egois. Tapi sejak rahasia tentang Revan dan Dafa mencuat, sang keponakan berubah menjadi sosok yang keras kepala.
***
Malam ini Revan tengah duduk di salah meja bar di sebuah klub malam sambil memandangi layar ponselnya yang terus menyala, sejak satu jam yang lalu sudah puluhan panggilan masuk dari Lenny, tapi tak satu pun yang dia jawab. Dia tahu saat ini mama dan papanya pasti sangat marah karena dia tak datang ke restoran yang telah mereka tentukan, dan dia tak peduli akan hal itu. Dia cuma ingin kedua orang tuanya tahu, jika dia enggan dijodohkan dengan siapa pun.
Revan menenggak vodca di tangannya, rasa pening dari minuman keras itu lebih baik dari apa yang sedang dia rasakan saat ini. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau, dia berharap malam ini bisa sejenak saja melupakan semua itu.
Jari tangan Revan bergerak mengutak-atik telepon genggamnya dan membuka sebuah foto yang baru dia ambil kemarin saat di rumah Siska, yaitu foto Dafa ketika makan ice cream yang dia bawa. Bocah gemas itu terlihat lucu karena mulutnya belepotan ice cream coklat.
Revan mengusap layar ponselnya sambil tersenyum miris, ada rasa sedih bercampur bahagia saat menatap wajah Dafa yang dia yakini adalah darah dagingnya.
"Aduh!" pekik seorang wanita berpakaian seksi saat seseorang tanpa sengaja menabraknya.
"Bukankah dia mucikari sialan itu?" gumam Revan, dia sontak beranjak dan mendatangi wanita seksi yang tak lain adalah Miranti.
Miranti yang sedang menunggu seseorang tak sengaja melihat Revan berjalan ke arahnya, dia pun mendadak panik.
"Mampus aku! Kenapa bisa bertemu dia di sini?" Miranti ketakutan dan bergegas kabur keluar bar.
Melihat orang yang hendak dia tuju berlari, Revan pun mengejarnya. Dia memang sudah lama mencari Miranti sebab wanita itu sudah menipunya setahun yang lalu, namun sebenarnya bukan itu alasan utama dia mengejar Miranti, tapi dia ingin menanyakan perihal kejadian empat tahun silam yang melibatkan dirinya dan Diana.
"Gawat! Dia mengejar aku!" Miranti berlari meninggalkan bar, dia tak menyangka hari ini akan bertemu dengan pria yang paling dia hindari itu.
"Hei, tunggu!" teriak Revan yang terus mengejar Miranti, membuat dia menjadi perhatian semua orang.
"Aku harus kabur!" ujar Miranti yang terus berlari untuk menghindari Revan,
__ADS_1
Tapi rupanya Revan berhasil menyusul Miranti, dia sigap menarik lengan wanita itu dan menariknya ke balik mobil yang terparkir agar tak menjadi perhatian pengunjung lain.
"Mau ke mana kau?"
"Lepaskan aku!" Miranti berontak, tapi Revan dengan kuat mencengkram lengannya.
"Sudah lama aku mencari mu, enak saja kau ingin kabur!"
"Aku minta maaf, aku janji akan mengembalikan uangmu, Tuan. Tapi aku mohon lepaskan aku! Jangan sakiti aku!"
"Melepaskan mu lalu membiarkan kau kabur dariku? Kau pikir aku ini bodoh? Cukup sekali aku tertipu olehmu! Kali ini aku enggak akan membiarkanmu begitu saja!" kecam Revan sembari menatap Miranti dengan penuh kemarahan.
Miranti semakin ketakutan, setahun yang lalu dia memang pernah menipu Revan dengan menjanjikan seorang pelacur baru yang masih perawan seperti Diana. Namun nyatanya dia tak bisa mendapatkan apa yang dia janjikan, sementara bayaran untuknya sudah ditransfer. Karena tak ingin mengembalikan uang yang sudah masuk ke rekeningnya, Miranti lebih memilih untuk kabur dari produser ganteng itu.
"Saat itu aku terdesak, Tuan. Aku butuh uang, sementara sangat sulit menemukan gadis perawan seperti yang Tuan inginkan. Jadi aku terpaksa kabur. Tapi aku janji akan mengembalikan uangmu. Aku bersumpah!" dalih Miranti berharap Revan iba dan mau melepaskan nya.
"Lalu kenapa waktu itu kau gampang sekali menemukan Diana?"
Miranti terdiam gugup sambil menelan ludah, dia tak berani mengatakan jika Diana itu temannya sendiri yang dia jebak dan jual ke Revan.
"Kenapa diam? Ayo jawab! Atau aku akan membuat kau berhenti bernapas sekarang juga!" ancam Revan sembari mencekik leher Miranti.
"Tu-an! Sa-kit!" pekik Miranti terbata-bata sebab kesulitan bicara dan bernapas.
"Makanya jawab! Bagaimana kau bisa menemukan Diana dan membawanya kepadaku?" cecar Revan.
"Le-pas du-lu!"
Revan melepaskan cekikan nya, Miranti terbatuk-batuk dan langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Sekarang cepat jawab!" desak Revan.
"Sebenarnya Diana itu teman aku, dia butuh uang, jadinya aku tawarin dia pekerjaan. Tanpa sepengetahuan dia, aku memberikannya obat perangsang dan menjualnya pada Tuan," terang Miranti takut.
Revan terhenyak mendengar pengakuan mucikari seksi itu, seperti ada batu besar yang menghantam dadanya.
__ADS_1
"Jadi benar yang dia katakan, jika dia dijebak dan dijual," batin Revan, seketika rasa bersalah dan penyesalan menyelusup masuk ke dalam hatinya.
***