
Pagi ini Revan terlihat sangat gembira, dia tak bisa berhenti tersenyum dan menatap Diana dengan penuh cinta, sampai-sampai istrinya itu malu dan risih. Semalam usai berbagi perasaan dalam suasana yang mengharu biru, mereka memutuskan untuk tidur. Meskipun sudah berdamai, tapi Revan tak mau memaksa Diana untuk ber-cinta layaknya pengantin baru, dia hanya memeluk Diana sampai pagi walaupun harus mati-matian menahan gejolak hasrat di dalam dirinya. Semua itu Revan lakukan demi membuat Diana nyaman, dia ingin melakukannya jika Diana benar-benar siap.
Lenny yang memperhatikan Revan jadi kepo dan meledek putranya itu, "Ehem, kayaknya ada yang lagi senang, nih!"
Revan hanya tersenyum lebar tanpa membalas ledekan mamanya itu.
"Gimana tidur kalian semalam, nyenyak enggak?" sindir Lenny.
"Nyenyak banget, Ma!" jawab Revan, lalu menatap Diana dengan mesra, "iya, kan, sayang?"
Diana yang malu hanya mengangguk kemudian menundukkan kepalanya.
"Uluh-uluh, manisnya pengantin baru! Jadi iri!" Lenny kembali meledek Revan dan Diana.
"Mama ini seperti enggak pernah muda saja! Mama kan juga pernah jadi pengantin baru, jadi berhenti menggoda mereka!" sela Adiguna.
"Tapi kan beda, Papa!" keluh Lenny.
"Beda apanya? Papa waktu muda juga enggak kalah manis dan romantisnya dari Revan, bahkan mungkin Papa lebih romantis dari dia," ujar Adiguna tak mau kalah.
"Romantis apanya? Orang malam pertama kita, Papa malah ketiduran sampai pagi," protes Lenny dengan bibir yang manyun.
"Waktu itu Papa kelelahan, habis seharian meladeni ratusan tamu undangan. Mama sanggup Papa bertempur lagi," dalih Adiguna.
"Alah, alasan!" rajuk Lenny.
Revan dan Diana yang mendengar perdebatan sepasang suami istri paruh baya itu hanya tertawa. Di dalam hati Diana bisa merasakan kehangatan keluarga yang utuh, kehangatan yang sudah lama tak dia rasakan sejak kematian kedua orang tuanya, selama ini dia hanya menghabiskan hidupnya bersama Siska dan Dafa.
Tak lama kemudian Dafa yang sudah bangun turun bersama asisten rumah tangga Lenny, bocah gemas itu langsung berlari menghampiri Diana, "Bunda!"
"Hai, sayang." Diana mengecup pipi tembam putranya itu.
__ADS_1
"Bunda sudah selesai bikin adik untuk aku?" Dafa tiba-tiba kembali bertanya dengan polos, dan Diana langsung menutup mulut putranya itu dengan telapak tangan.
Semua orang kaget mendengar pertanyaan Dafa, bahkan Revan yang lagi makan sampai tersedak dan batuk-batuk. Sedangkan Diana, wajahnya langsung merah menahan malu.
"Sayang, jangan tanya seperti lagi, ya! Enggak boleh!" bisik Diana, dan seperti biasa Dafa mengangguk patuh meskipun dia tak mengerti kenapa sang bunda melarangnya bertanya seperti itu.
Setelah batuknya reda, Revan pun mengangkat Dafa lalu mendudukkan bocah itu di pangkuannya, "Kamu sabar, ya! Ayah janji akan secepatnya bikinin adik untuk kamu."
Diana yang mendengar ucapan blak-blakan Revan itu sontak menatap sang suami dengan kikuk, tapi Revan malah mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Lenny dan Adiguna hanya tertawa senang meyaksikan tingkah putra mereka itu, keduanya bersyukur atas semua kebahagiaan ini.
Telepon genggam Revan yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi, dia melirik benda berlogo apel tergigit itu dan buru-buru menjawabnya setelah siapa si penelepon.
"Halo," sapa Revan.
"Mas, detektif yang aku sewa sudah menemukan siapa dalang dari penculikan anak Mas."
Revan terkesiap, namun dia berusaha tenang agar tidak membuat Lenny dan Adiguna curiga, "Benarkah? Siapa?"
***
"Sofia? Akhirnya kamu pulang juga! Ayo masuk, Nak!"
"Enggak perlu! Aku ke sini bukan untuk pulang! Aku cuma ingin bertanya pada Mama!" sahut Sofia dengan nada tinggi.
Siska mengerutkan keningnya, "Bertanya apa, Nak?"
"Apa benar-benar Diana dan Revan menikah?" cecar Sofia.
Wajah Siska berubah dingin, "Dari mama kamu tahu?"
"Enggak penting dari mana aku tahu! Mama cukup jawab iya atau enggak!" pinta Sofia.
__ADS_1
Siska mengangguk, "Iya."
Air mata Sofia langsung jatuh, sekali lagi hatinya seolah ditusuk ribuan belati, semakin sakit tak tertahankan lagi, "Jadi itu benar? Mereka akhirnya menikah?"
"Iya, mereka menikah tadi malam di rumah orang tua Revan," terang Siska.
"Kenapa Mama biarkan mereka menikah?" bentak Sofia marah.
"Karena itu yang seharusnya terjadi! Revan adalah ayah biologis Dafa, dan Dafa membutuhkannya. Jadi sudah sepantasnya dia bertanggung jawab dengan menikahi Diana."
"Tapi aku enggak rela mereka menikah dan bahagia di atas penderitaan aku, Ma! Aku mencintai Revan, dan seharusnya aku yang dia nikahi! Dia milikku!" sungut Sofia tak terima.
"Sof, sadarlah! Apa yang kamu pikir dan lakukan itu salah! Diana dan Dafa yang lebih berhak memiliki Revan, bukan kamu! Lagipula ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik Diana dan Revan yang jelek karena ulah kamu!"
"Apa maksud Mama?"
"Hari ini Revan dan Diana akan klarifikasi ke publik, mereka akan bilang jika mereka sudah menikah dari empat tahun yang lalu dan Dafa bukan anak haram. Jadi Mama mohon setelah ini berhenti menggangu hidup mereka dan fokuslah pada hidupmu sendiri!"
Sofia terdiam dan bicara dalam hati, "Jadi mereka akan klarifikasi dan membohongi publik? Aku enggak bisa biarkan itu terjadi, aku harus rusak semuanya."
Tanpa bicara sepatah katapun, Sofia bergegas pergi dari hadapan sang mama.
"Sof, kamu mau ke mana lagi? Sofia!" teriak Siska, tapi Sofia tak menggubrisnya dan buru-buru naik taksi yang sudah menunggunya.
Perasaan Siska jadi tidak enak, dia takut Sofia membuat masalah dan mengganggu acara jumpa pers yang diadakan Revan. Dia pun buru-buru menelepon Diana untuk mewanti-wanti kedatangan putrinya itu.
Di dalam taksi Sofia mencoba menghubungi kru yang dia kenal untuk menanyakan di mana Revan akan mengadakan jumpa pers? Dia tersenyum sinis saat mendapatkan apa yang dia cari.
Sofia kemudian menghubungi Raka, dan mengatakan semuanya. Dia tak ingin kerja sendiri, dia harus bersekongkol dengan Raka untuk menghancurkan Diana dan Revan.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi, Revan Adiguna. Aku akan membuatmu malu dan semakin dihujat publik, karir mu akan segera tamat," batin Sofia sembari menyeringai licik.
__ADS_1
***