Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 38.


__ADS_3

Diana sedang melipat pakaian yang baru saja dia setrika, walaupun perasaannya masih sedih dan pikirannya sedang kacau, tapi dia tak ingin terlarut dalam kegalauan, dia ingin mengalihkannya dengan bekerja. Dia bahkan enggak makan apa-apa sejak pagi, tubuhnya mulai lemas dan wajahnya pucat. Sementara Eliana dan Raka sudah pergi, ibu dan anak itu sedang mencari satpam yang akan mereka pekerjaan di laundry.


Siska yang baru selesai menidurkan Dafa melangkah perlahan menuruni anak tangga, dia sesungguhnya juga merasa sedih dan prihatin atas apa yang terjadi pada keponakannya itu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Di, kamu enggak makan?" tegur Siska penuh perhatian.


"Aku enggak lapar, Tante," sahut Diana yang terus melakukan aktivitasnya.


"Tapi nanti kamu bisa sakit."


"Aku baik-baik aja, kok. Tante jangan khawatir!"


Siska mengembuskan napas, dia tahu belakangan ini Diana menjadi lebih keras kepala dari sebelumnya dan tak ingin memaksa keponakannya itu.


"Hem, Di. Boleh Tante bertanya sesuatu?"


"Tanya apa, Tante?"


"Kenapa kamu menolak menikah dengan Nak Raka? Bukankah kamu sudah menerima lamarannya?"


"Aku ragu untuk menikah dengannya, Tante," jawab Diana.


"Karena kamu enggak mencintainya?" tebak Siska.


"Bukan itu saja!"


Siska mengernyit, "Lalu?"

__ADS_1


"Aku baru tahu jika Mas Raka itu suka berjudi dan main ke klub malam, bahkan dia sampai berhutang pada seseorang karena kalah judi," beber Diana kecewa.


Siska tercengang, "Kamu tahu dari mana?"


"Tadi ada dua orang pria datang ke sini dan meminta Mas Raka untuk membayar hutangnya sebesar dua belas juta," adu Diana.


"Ya Tuhan! Padahal Nak Raka itu kelihatan seperti pemuda baik-baik, ya? Tante enggak sangka dia punya kebiasaan seperti itu."


"Aku juga enggak sangka, aku syok dan kecewa banget. Aku ragu menikah dengannya karena aku takut dia enggak bisa berubah."


"Jadi kamu mau membatalkan lamarannya?"


Diana menghela napas panjang, "Entahlah, Tante. Aku juga bingung harus bagaimana? Aku takut melukai perasaan Mas Raka dan Bu Eliana jika membatalkan lamaran itu, tapi aku merasa berat melanjutkannya."


"Kalau begitu kamu terima saja tawaran Nak Revan untuk menikah dengannya?" usul Siska.


Diana sontak menghentikan aktivitasnya dan termangu mendengar saran sang Tante.


Diana berbalik menatap Siska, "Tante kan tahu dari awal jika aku sangat membencinya, aku enggak ingin dia dekat-dekat dengan anakku! Lagipula aku enggak bisa berbohong apalagi pada banyak orang."


"Tapi ini demi kebaikan kalian, Di. Apa kamu mau selamanya dicap buruk oleh publik? Bukan kamu saja, Dafa juga akan terkena imbasnya! Apa kamu enggak kasihan pada anakmu jika dia terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu orang tuanya yang buruk?"


Dia terdiam, sejujurnya di dalam hati kecilnya dia membenarkan apa yang tantenya itu katakan, tapi keegoisan dan kemarahan lebih mendominasi di dalam dirinya.


"Apalagi sekarang kita tahu seperti apa tabiat buruk Nak Raka, Tante enggak mau kamu hidup menderita dan menyesal menikah dengan dia," sambung Siska.


Air mata Diana jatuh menetes, dia memang sedang dihadapkan dengan pilihan yang berat dan seolah apa pun keputusan yang dia ambil tak akan membuatnya bahagia kelak.

__ADS_1


Melihat Diana menangis, Siska langsung menggenggam erat tangan keponakannya itu, "Diana, Tante minta maaf. Tante enggak bermaksud untuk menyudutkan kamu, Tante hanya enggak ingin kalian hidup dalam kesedihan semur hidup, Tante enggak mau kalian terus-terusan dianggap buruk oleh orang lain. Tante berharap kamu dan Dafa bisa bahagia."


Tangis Diana akhirnya pecah, dia tak bisa lagi membendung kesedihannya di depan sang tante. Sesungguhnya semua ini sangat berat, dia tak tahu apakah mampu untuk menahan rasa sakitnya lagi.


"Kenapa hidupku harus seperti ini, Tante? Apa salahku sampai Tuhan begitu kejam menghukum ku? Rasanya aku ingin mati saja daripada terus-terusan menderita seperti ini," ucap Diana lirih, air matanya terus tumpah membasahi pipinya.


Siska langsung memeluk keponakannya, "Eh, jangan bicara seperti itu! Kamu enggak salah apa-apa, bagaimana bisa kamu menganggap ini sebagai hukuman? Kamu itu wanita spesial yang sedang Tuhan beri ujian, jika kamu tabah dan mampu melaluinya dengan ikhlas, kamu pasti akan menemukan kebahagiaan mu bersama Dafa. Percayalah pada Tante!"


"Tapi aku lelah, Tante! Aku ingin menyerah aja," ujar Diana dengan suara bergetar.


"Jangan gitu, sayang! Kamu harus kuat demi Dafa! Dia butuh kamu, dan kamu harus perjuangkan kebahagiaan kalian berdua!" Siska berbicara sembari mengusap air matanya yang juga ikut jatuh. Sejak dulu dia selalu berusaha menguatkan Diana dan mensupport keponakannya itu karena dia merasa prihatin.


Diana terisak-isak di dalam pelukan Siska, dia benar-benar ingin meluapkan emosi yang sejak tadi dia tahan.


"Menangis lah, sayang! Menangis lah sampai semua beban itu keluar dari dada mu." Siska mengusap punggung belakang Diana yang berguncang, membiarkan sang keponakan menumpahkan kesedihan dan rasa sakit yang selama ini membelenggu hidupnya.


Setelah puas meratapi nasibnya dan menangisi hidupnya yang malang, Diana pun mengurai pelukannya lalu mengusap jejak-jejak air mata di pipinya.


"Kamu sudah lebih tenang sekarang?" Siska memastikan, dan Diana hanya mengangguk.


Siska tersenyum seraya mengelus kepala Diana dengan penuh kasih sayang, "Syukurlah!"


"Aku mau ke toilet dulu, Tante." Diana beranjak dari duduknya dan hendak melangkah ke kamar mandi, namun mendadak kepalanya terasa pusing serta berputar, pandangannya pun seketika gelap.


Buukk.


Tubuh Diana melemas dan langsung jatuh menghantam lantai, dia pingsan.

__ADS_1


"Diana!" seru Siska panik dan langsung berlari menghampiri keponakannya itu.


***


__ADS_2