
Revan masih harap-harap cemas menanti jawaban Diana, dia berharap kali ini wanita itu tidak lagi menolaknya dan mau menikah dengannya.
Diana pun akhirnya mengangguk pelan, lalu tertunduk malu, dia sudah memantapkan hatinya untuk menerima Revan dan berusaha berdamai dengan lelaki itu. Toh, apa yang Revan katakan memang benar, hanya itu cara satu-satunya untuk menyelamatkan nama baik mereka dan masa depan Dafa. Lagipula ini juga demi keselamatan dan kebaikan Dafa, dia takut orang-orang jahat tadi kembali mengusik sang putra.
Revan yang melihat Diana mengangguk merasa tak percaya, dia kembali memastikan jika wanita itu benar-benar menerimanya, "Kau serius mau menikah denganku?"
Diana kembali mengangguk tanpa memandang Revan, perasaannya campur aduk, sejujurnya dia masih membenci Revan, tapi dia tak ada pilihan lain lagi.
Revan tertawa senang dan langsung menarik tangan Diana yang masih dia genggam lalu dengan cepat menciumnya.
Diana sontak memutar kepalanya menatap Revan dengan mata melotot dan langsung menarik tangannya, "Apa yang kau lakukan?"
"Mencium tangan calon istriku," jawab Revan enteng.
"Kau jangan cari kesempatan!"
"Cuma cium tangan, kok. Kalau sudah nikah baru cium yang lain," goda Revan genit sembari mengerlingkan matanya.
Wajah Diana langsung merah dan panas, "Biar pun aku bersedia menikah denganmu, jangan pikir kau bisa menyentuhmu!"
Revan hanya tersenyum penuh arti, dia pria dewasa dan berpengalaman dalam urusan ranjang, mana mungkin bisa menolak barang bagus seperti Diana.
Diana yang sadar jika senyum-senyum sendiri langsung melabraknya, "Kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau pasti berpikir yang enggak-enggak, kan?"
Revan langsung memasang wajah tak bersalah, "Enggak, siapa bilang? Aku cuma lagi bahagia karena kau akhirnya menerima ku."
__ADS_1
Diana bergeming namun masih memandang Revan dengan tatapan curiga.
"Oh iya, di mana anakku?" tanya Revan mengalihkan pembicaraan.
"Dafa aku tinggal bersama Bu Eliana."
Revan terkesiap dan langsung panik, "Kenapa ditinggal? Bagaimana kalau orang-orang itu datang lagi?"
"Jangan cemas! Bu El membawa Dafa ke rumahnya, Dafa pasti aman karena di sana banyak satpam. Lagipula sekarang Tante Siska juga sedang menuju ke sana untuk menjaga Dafa," terang Diana.
"Tapi tetap saja aku khawatir!"
"Kau tenanglah! Dafa pasti baik-baik aja! Sekarang yang harus dipikirkan itu keadaan mu, kau harus hubungi keluarga mu agar mereka bisa datang ke sini!"
"Aku enggak akan menghubungi keluarga ku! Aku enggak mau kedua orang tuaku tahu apa yang terjadi dan membuat mereka cemas, apalagi keadaan Papa masih lemah," tolak Revan.
"Kan ada kau!"
"Aku? Maksudmu aku yang akan merawat mu?"
Revan mengangguk, "Bukankah sudah seharusnya kau yang merawat ku? Apalagi aku terluka begini karena menyelamatkan mu."
"Jadi kau enggak ikhlas? Pamrih?" sungut Diana sedikit kesal.
"Bukan begitu, aku hanya mengingatkan mu aja, siapa tahu kau lupa penyebab aku bisa ada di tempat ini."
__ADS_1
Diana terdiam sejenak, kalau dia yang merawat Revan, itu artinya dia harus selalu berada di dekat pria itu. Sementara mereka belum menikah dan dia juga punya kesibukan sendiri. Dia tak mau menimbulkan fitnah lagi.
"Aku enggak bisa! Aku harus bekerja dan mengurus Dafa!" tolak Diana kemudian.
"Kau enggak perlu bekerja lagi, dan kita akan menyewa baby sitter untuk membantu mengurus anak kita. Aku juga akan mempekerjakan asisten rumah tangga agar kau enggak perlu melakukan pekerjaan rumah, kau cukup merawat ku saja!"
Diana mengerutkan keningnya, "Tunggu! Jadi maksudmu kita akan tinggal bersama?"
"Iyalah! Aku akan segera menikahi mu begitu keluar dari sini dan kamu serta Dafa akan tinggal di apartemenku."
Diana terkesiap, dia tak menyangka Revan akan secepat itu menikahinya, mendadak hatinya galau.
"Kenapa? Kau keberatan? Bukankah kau sudah bersedia menikah denganku?" cecar Revan.
"Tapi apa itu enggak terlalu cepat?"
"Lebih cepat, lebih baik. Jadi kita bisa langsung klarifikasi dan membantah rumor yang sedang beredar. Lagipula kita akan menikah siri dulu, jadi enggak butuh waktu lama, kok! Aku akan urus semuanya!"
Diana menghela napas pasrah, "Baiklah, kalau begitu aku akan bicara dengan Tante Siska."
Revan mengangguk dan kembali tersenyum, rasanya dia benar-benar bahagia hari ini. Ternyata ada hikmah di balik musibah, dan Revan bersyukur karena Tuhan memudahkan segalanya.
Ditempat berbeda seseorang sedang tertawa senang karena mendapatkan kabar tentang Revan dari orang-orang suruhan nya, dia puas sebab Revan terluka meskipun dia gagal menculik Dafa.
"Aku harap kau mati dan segera pergi ke neraka, brengsek!" ucapnya dingin, sorot matanya dipenuhi kebencian.
__ADS_1
***