
Di dalam kamarnya, Diana langsung memeluk Dafa dengan sangat erat, air matanya berlinang. Perasaannya tak karuan, dia takut, kesal dan sedih karena Revan terang-terangan mengganggunya.
"Bunda, kenapa?" tanya Dafa yang bingung karena Diana menangis.
"Enggak apa-apa, sayang. Bunda lagi pingin meluk kamu aja, kok," dalih Diana.
"Tapi kenapa Bunda menangis?"
Diana terdiam gugup, dia bingung harus menjawab apa.
"Ada yang jahat sama Bunda, ya?"
Diana melepaskan pelukannya dan menggeleng, "Enggak, kok. Bunda cuma teringat ayah dan ibunya Bunda aja, jadinya Bunda merasa sedih."
Diana terpaksa berbohong, dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada buah hatinya itu.
"Bunda jangan nangis, dong! Nanti aku juga ikutan sedih kalau Bunda sedih." Dafa mengusap jejak-jejak air mata di pipi Diana.
Tapi bukannya berhenti, air mata Diana kian bertambah banyak, dia benar-benar tak bisa membendung perasaan sedihnya saat ini.
"Bunda." Dafa gantian memeluk Diana dan ikutan mewek.
"Maafkan Bunda, sayang," ucap Diana dalam hati.
Sementara itu di ruang tamu, Sofia bergelayut manja pada Revan, "Mas kok enggak bilang-bilang mau datang? Kan aku bisa tungguin Mas di rumah dan enggak pergi ke salon."
"Aku mau buat kejutan," sahut Revan bohong.
"Mas manis banget, sih!" Sofia tersipu.
Sebenarnya Revan memikirkan Diana, dia masih ingin bertemu dan bicara dengan wanita itu.
"Oh iya, kira-kira kapan Mas mau ajak aku kenalan dengan orang tua Mas?" tanya Sofia.
Revan termangu mendengar pertanyaan Sofia, sedikit pun dia tak berniat mengenalkan wanita itu kepada orang tuanya, dia hanya ingin bermain-main saja dengan model cantik tersebut.
"Nanti, ya! Saat ini orang tua aku sedang berada di luar negeri," jawab Revan yang lagi-lagi berbohong.
"Kapan mereka pulang?"
"Belum tahu, tapi nanti kalau mereka sudah pulang, aku pasti mengajakmu bertemu mereka."
"Benar, ya?"
Revan terpaksa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Sofia tersenyum senang, dia sudah bertekad untuk membuat produser ganteng dan kaya itu menjadi suaminya.
***
Keesokan harinya, Diana sedang sarapan bersama Siska dan Sofia, sedangkan Dafa masih terlelap.
"Gimana pekerjaan kamu, sayang? Lancar?" tanya Siska pada sang putri.
"Lancar, Ma!"
"Kamu masih berhubungan dengan produser itu?" Siska bertanya lagi, karena setahu dirinya, sang putri tak pernah betah lama-lama menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Masih, dong, Ma! Malah rencananya dia mau ajak aku bertemu dengan orang tuanya kalau mereka sudah pulang dari luar negeri, kami akan menikah," beber Sofia bangga, dia sudah tak sabar dan ingin cepat-cepat menikah dengan Revan.
Diana terkesiap mendengar pengakuan Sofia, jantungnya berdebar kencang. Dia tak bisa membayangkan apa jadinya jika sepupunya sampai menikah dengan ayah dari anaknya itu.
"Benarkah? Kamu sudah yakin ingin menikah dengan dia?" cecar Siska.
"Yakinlah! Dia ganteng, baik dan kaya. Apa lagi yang harus aku ragukan? Lagian aku enggak mau kelamaan hidup sendiri kayak Diana." Sofia menyindir Diana dengan sinis.
"Sofi! Kenapa bawa-bawa Diana segala, sih?" protes Siska.
Sementara Diana hanya diam membisu meskipun dia merasa tersinggung dengan kata-kata Sofia, tapi saat ini pikiran dan hatinya benar-benar kacau, dia sedang tak ingin bicara apalagi berdebat.
"Kan benar, Ma. Lihatlah, sampai sekarang dia masih betah hidup sendiri dan menumpang pada kita," sindir Sofia lagi.
"Iya, kamu hati-hati di jalan!"
Diana mengangguk dan bergegas pergi sambil menahan kesal. Dia sadar apa yang Sofia katakan itu benar, walaupun hatinya terluka.
"Kamu ini kalau bicara jangan suka asal! Pikirkan perasaan Diana!" Siska mengomeli Sofia setelah Diana pergi.
"Ma, yang aku katakan kan memang kenyataan! Buktinya dia enggak marah, berarti dia membenarkan itu," balas Sofia.
"Tapi jangan terang-terangan seperti tadi, bagaimana pun juga dia itu masih saudara kamu. Hargai dia!" kesal Siska yang tak habis pikir melihat sikap kasar putrinya itu terhadap Diana.
Sofia tak menjawab, dia hanya memasang wajah masam sebab kesal lagi-lagi sang mama membela sepupunya itu.
"Oma!" rengek Dafa yang tiba-tiba muncul.
Siska langsung mengalihkan pandangannya ke bocah gemas itu, "Eh, kamu sudah bangun rupanya. Sini sarapan sama Oma!"
Kaki kecil Dafa melangkah mendekati Siska lalu naik ke pangkuan wanita paruh baya itu.
"Kamu sarapan, ya? Habis itu mandi."
__ADS_1
Dafa mengangguk patuh.
"Sampai kapan Mama akan terus mengurus anak ini? Mama sudah tua, sudah saatnya tenang dan menikmati hidup, bukan malah capek-capek begini!" protes Sofia, sejak dulu dia memang tidak terlalu suka dengan Dafa, sama seperti dia tidak menyukai Diana.
"Mama senang, kok! Setiap hari Mama jadi ada temannya dan enggak kesepian di rumah."
"Tapi Mama bukan baby sitter!"
"Sudahlah, Sof! Kita sudah membahas masalah ini berkali-kali, dan Mama enggak ingin ujung-ujungnya kita ribut lagi. Kamu nikmati aja hidup kamu! Toh, Dafa kan enggak ganggu dan nyusahin kamu!"
Wajah Sofia semakin cemberut, dia pasti kesal setiap kali membahas hal ini. Dia heran kenapa sang mama begitu menyayangi Diana dan Dafa.
***
Diana sedang menyetrika pakaian milik pelanggan, tapi sejak tadi dia enggak bisa fokus bekerja sebab terus kepikiran kata-kata Sofia.
"Lihatlah, sampai sekarang dia masih betah hidup sendiri dan menumpang pada kita."
Diana mengembuskan napas berat, harus kah dia angkat kaki dari rumah Siska dan hidup berdua dengan Dafa saja? Tapi dia mau tinggal di mana? Gajinya tidak akan cukup untuk mengontrak rumah. Terus siapa yang akan menjaga Dafa saat dia bekerja?
"Diana! Kamu kenapa melamun?" tegur Eliana yang sejak tadi mengawasi karyawannya itu.
Diana tersentak dan sontak menoleh, "Maaf, Bu."
"Memangnya kamu lagi mikirin apa? Kamu ada masalah?"
Diana terdiam, sejujurnya dia ingin mengatakan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini, tapi dia merasa sungkan dan tak enak hati.
"Di, kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita pada Ibu! Siapa tahu Ibu bisa bantu."
"Enggak ada apa-apa, kok, Bu! Aku cuma kurang enak badan saja," kilah Diana, dia berusaha menutupi kegalauan dan kegundahan hatinya.
"Kalau begitu kamu istirahat saja, enggak usah kerja! Nanti kamu makin sakit." Eliana seketika heboh.
"Enggak usah, Bu! Aku bisa, kok!" bantah Diana.
"Di, jangan dipaksakan, nanti kamu tambah parah!" Eliana tampak cemas.
"Aku enggak apa-apa, Bu. Sungguh!"
"Ya sudahlah, tapi kalau kamu ngerasa enggak sanggup, langsung istirahat! Jangan dipaksakan!"
"Iya, Bu."
"Ibu ke dalam dulu!" Eliana menepuk pundak karyawannya itu.
__ADS_1
Diana mengangguk dan tersenyum, dia merasa senang dan bersyukur karena memiliki bos yang baik serta pengertian seperti Eliana. Tapi dia tetap tak bisa menerima tawaran wanita itu.
***