Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 9.


__ADS_3

Revan lagi-lagi termenung di balkon apartemennya padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia tak bisa berhenti memikirkan Dafa serta sikap Diana tadi, dia yakin Dafa adalah darah dagingnya dan Diana sedang berusaha menutupi semua itu darinya.


Revan tertunduk meremas rambutnya sambil mengembuskan napas yang kian terasa berat, dadanya benar-benar sesak menerima kenyataan mengejutkan ini. Dia sungguh tak menyangka perbuatannya malam itu bisa menghasilkan seorang anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Dia pikir Diana sudah mengonsumsi obat pencegah kehamilan seperti wanita-wanita penghibur yang biasanya dia bayar, makanya dia menumpahkan cairan kental nan hangat miliknya di dalam rahim wanita itu. Tapi nyatanya tidak, Diana malah hamil dan melahirkan anaknya.


"Ya Tuhan, kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Empat tahun aku mengabaikan anakku begitu saja!" ujar Revan penuh sesal.


Revan tak bisa diam saja, dia harus bicara pada Diana. Anaknya itu harus tahu siapa ayahnya.


Di tempat berbeda, Diana juga sedang melamun sambil memeluk Dafa yang sudah tertidur pulas. Dia heran kenapa takdir harus mempertemukan dia dengan Revan lagi? Selama ini hidupnya sudah baik-baik saja, tapi dalam sekejap kacau balau gara-gara kehadiran pria itu.


Diana memejamkan mata, cairan bening langsung menetes dari sudut matanya. Dia tak tahu apakah yang dia lakukan ini benar atau salah, yang dia inginkan hanyalah melindungi Dafa dari Revan.


Dia kembali membuka mata lalu menatap Dafa dengan sendu, "Maafkan Bunda, ya, Nak. Bunda memang egois, tapi itu karena Bunda sangat menyayangi mu. Bunda takut kehilangan kamu."


Diana mengusap pipi Dafa, lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


***


Keesokan harinya, Diana sedang melakukan pekerjaannya seperti biasa, walaupun dia kurang tidur semalam, tapi dia tetap bersemangat untuk melakukan aktivitas.


Eliana tiba-tiba menghampiri Diana, "Di, ada yang mencari kamu, tuh!"


Diana mengernyit, "Siapa, Bu?"


"Enggak tahu, seorang pria dan agak sombong. Itu dia lagi nungguin kamu di luar, temuin sana!" Sejujurnya Eliana kurang suka ada pria lain yang mendekati Diana, sebab dia berharap karyawannya itu bisa menikah dengan sang putra.


"Iya, Bu." Diana bergegas ke keluar, perasaannya tidak enak tapi dia penasaran siapa orang yang mencarinya.


Betapa terkejutnya Diana saat tahu jika Revan lah yang datang menemuinya.


"Kau? Mau apa kau ke sini? Dan bagaimana kau bisa tahu aku bekerja di tempat ini?" cecar Diana heran.


"Cukup mudah untuk mengetahui di mana kau berada," jawab Revan santai.


"Sebaiknya kau pergi dari sini! Jangan ganggu aku!"


"Aku enggak akan pergi sebelum kau jawab pertanyaan ku?"


"Pertanyaan apa?" tanya Diana ketus.

__ADS_1


"Dafa itu anakku, kan?" Revan bertanya tanpa basa-basi.


Diana terhenyak, dia seketika panik bercampur tegang. Dia takut Eliana mendengar semua itu.


"Kenapa kau diam? Itu benar, kan?" Revan memastikan.


"Diam kau! Jangan sembarang bicara! Dia anakku dan mendiang suamiku," bantah Diana berbohong.


Revan tertawa lalu berkata, "Kau pikir bisa segampang itu membohongi aku?"


Diana semakin ketakutan dan panik, "Aku enggak berbohong! Itu kenyataannya! Jadi pergi sekarang juga!"


Revan lantas mengeluarkan selembar foto dari dalam saku dan menunjukkannya kepada Diana, "Kau lihat ini!"


Diana mengamati foto tersebut, dan kemudian tercengang saat melihat seorang bocah laki-laki yang sangat mirip dengan Dafa.


"Ini foto ku, dan Dafa sangat mirip denganku sewaktu kecil. Jadi aku yakin dia adalah anakku."


"Enggak! Dia bukan anakmu! Itu hanya kebetulan saja!" sanggah Diana gugup.


"Aku sudah tahu semua tentangmu, kau hamil setelah kejadian malam itu dan kau enggak pernah menikah. Jadi jangan menutupinya lagi dariku!"


"Diana!" tegur Raka yang baru datang.


Diana terkesiap dan langsung menoleh ke arah pria hitam manis itu, "Mas Raka?"


Revan pun ikut mengalihkan pandangannya ke Raka, dia ingat pemuda itu.


"Ada apa ini, Di?" tanya Raka, dia menatap Diana dan Revan bergantian dengan curiga.


Diana semakin panik dan takut, "Hem, enggak ada apa-apa, Mas."


Raka memicingkan mata dengan alis mengerut, "Mas ini bukannya pria yang waktu itu bersama Sofia, ya?"


"I-iya, Mas. Dia ini pacarnya Sofia," sahut Diana cepat.


"Oh, kalau begitu kenalin, aku Raka, teman Sofia." Raka mengulurkan tangannya ke hadapan Revan, tapi pria itu tak merespon sama sekali.


Karena kalah malu, Raka pun menarik kembali tangannya dan tersenyum kikuk. Diana yang menyaksikan semua itu merasa tak enak pada Raka.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pulang, nanti aku akan bicara pada Sofia," ujar Diana pura-pura, dia tak ingin Raka tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Revan terkejut mendengar Diana bersandiwara seolah-olah tadi mereka sedang membahas tentang Sofia.


"Permisi!" Diana hendak pergi tapi Revan sigap menarik lengannya.


"Tunggu! Kita belum selesai bicara!" ujar Revan dingin.


"Lepas!" Diana menepis tangan Revan hingga cekalan nya terlepas.


Raka yang melihat itu merasa bingung, dia curiga ada yang tidak beres antara Diana dan kekasih Sofia itu.


"Silakan pergi, aku masih harus bekerja!" Diana segera berlalu dari hadapan Revan, dan Raka pun bergegas menyusulnya.


Revan mengeraskan rahangnya menahan geram dan kesal karena sikap Diana itu.


"Walaupun kau berusaha memungkirinya, aku tetap yakin itu adalah anakku, dan aku enggak akan menyerah begitu saja untuk membuat kau mengakuinya," batin Revan, dia pun meninggal tempat jasa mencuci itu.


Di dalam laundry, Raka mengejar Diana dan mencecar wanita itu dengan pertanyaan, "Di, sebenarnya ada apa? Kalian ada masalah? Kenapa dia mendatangi mu sampai ke sini?"


Diana semakin gugup, namun dia berusaha menguasai diri agar tetap tenang, "Oh, enggak ada, kok. Dia cuma lagi ribut dengan Sofia karena salah paham, jadi dia minta bantuan aku untuk bicara dengan pacarnya itu. Mas kan tahu seperti apa tabiat Sofia, dia egois dan keras kepala."


Dalam hati Diana merasa bersalah karena sudah berbohong pada Raka dan mengatai sepupunya sendiri, walaupun memang kenyataan jika Sofia itu egois dan keras kepala.


"Iya, juga, sih! Sofia memang enggak bisa diajak bicara baik-baik kalau lagi marah, dia selalu mau menang sendiri," balas Raka yang memang tahu karakter Sofia, itulah alasannya dia tak pernah tertarik dengan sepupu Diana itu.


"Ya sudah, aku ke dalam lagi, soalnya masih banyak kerjaan."


"Kalau gitu mari aku bantu! Kebetulan hari ini aku enggak ada kerjaan."


"Eh, enggak usah, Mas! Biar aku kerjakan sendiri aja!" tolak Diana sungkan.


"Sudah, enggak apa-apa! Ini kan usaha Mama aku, jadi wajar kan kalau aku juga bantu-bantu?" ucap Raka.


"Iya, sih!"


"Makanya, yuk!" Raka segera berjalan mendahului Diana.


Walaupun keberatan dan sungkan, mau tak mau Diana tetap menerima bantuan Raka, meski bayang-bayang Revan masih memenuhi kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2