
Lenny sudah pergi satu jam yang lalu, tapi mood Revan masih buruk, pikirannya benar-benar kacau hari ini. Tadi pagi dia berseteru dengan Diana dan barusan berdebat dengan sang mama. Belum lagi dia galau karena tak tahu keberadaan Dafa saat ini.
"Aku harus tanya ke siapa lagi? Aku enggak bisa diam aja!"
Tiba-tiba Revan teringat seseorang yang kemungkinan besar juga tahu tempat tinggal Diana yang baru.
"Sofia. Dia pasti tahu tempat tinggal Diana, aku akan tanya dia!" Revan segera menghubungi nomor kekasihnya itu, tapi tak dijawab sama sekali.
"Ck, kenapa enggak dijawab, sih!" gerutu Revan.
"Aku harus temui dia di lokasi syuting!" Revan beranjak dan buru-buru meninggalkan apartemennya.
Satu jam kemudian Revan tiba di lokasi syuting, ternyata Sofia baru saja selesai dan sedang bercengkrama dengan para kru. Dengan langkah yang lebar, Revan berjalan mendekati Sofia.
"Sofia!"
Sofia menoleh dan sontak tersenyum, dia berpikir Revan ingin mengajaknya baikkan, "Mas Revan?"
"Aku ingin bicara!" ujar Revan tegas.
"Ya sudah, bicara di sini aja."
"Kita bicara ditempat lain!"
"Baiklah." Sofia beranjak dan hendak menggandeng lengan Revan, tapi dengan cepat pria itu mengelak dan berjalan meninggalkannya.
Para kru yang melihatnya langsung berbisik-bisik. Sofia merasa kesal dan malu, tapi dia mencoba bersikap biasanya aja dan segera menyusul Revan.
Setelah berada di tempat sepi, Revan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sofia dengan dingin.
"Apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya Sofia saat mereka sudah berdiri berhadapan.
"Apa kau tahu di mana Diana tinggal sekarang?" cecar Revan tanpa basa-basi.
Wajah Sofia langsung cemberut dan langsung naik darah, "Mas! Kamu ini enggak punya perasaan banget, sih! Bisa-bisanya kamu bertanya tentang dia padaku! Kamu enggak hargai aku!"
__ADS_1
"Sof, aku bukan ingin bertengkar denganmu, aku hanya ingin tahu alamat Diana yang baru. Jika kamu tahu, tolong katakan padaku!"
"Aku enggak tahu, kalaupun aku tahu, aku enggak akan memberitahukannya kepada Mas!" ucap Sofia yang memang enggak tahu di mana Diana tinggal sekarang sebab Siska tak mau memberitahukan keberadaan sepupunya itu.
Revan mengembuskan napas, "Sof, kamu pasti tahu. Mamamu pasti mengatakannya padamu, jadi aku mohon beritahu aku!"
"Sudah ku bilang aku enggak tahu, dan enggak mau tahu ke mana dia pindah!" sungut Sofia semakin kesal karena Revan terus mendesaknya.
"Baiklah kalau begitu!" Revan berbalik dan hendak pergi tapi ucapan Sofia menghentikan langkahnya.
"Mas! Kenapa kamu tega menyakiti aku seperti ini? Padahal aku sudah memberikan segalanya untukmu, aku juga sangat mencintaimu." Sofia bicara sambil meneteskan air matanya.
"Maaf, tapi selama ini aku enggak pernah mencintaimu. Aku hanya ingin bermain-main saja denganmu," balas Revan jujur, dia tak mau berpura-pura lagi dan terus memberikan harapan pada Sofia.
"Jadi kamu hanya mempermainkan aku?" Sofia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Revan mengangguk, "Jadi mulai sekarang kita akhiri semuanya, dan jangan ganggu aku lagi!"
Sofia tercengang, hatinya semakin terasa sakit mendengar Revan mengakhiri hubungan mereka.
Revan tak membalas dan memilih melanjutkan langkahnya meninggalkan Sofia yang masih terpaku dengan air mata berlinang.
"Aku enggak terima disakiti seperti ini! Aku akan membalas mu, Revan Adiguna!" gumam Sofia sembari mengusap air mata yang jatuh menetes di pipinya.
***
Revan benar-benar bingung, dia tak tahu harus bertanya pada siapa lagi? Diana dan Siska tak mau buka mulut, sementara Sofia tidak tahu. Rasanya ingin sekali dia memaksa Diana sampai mau mengatakan semuanya, tapi dia tak mau membuat masalah yang membuat semuanya menjadi semakin runyam dan wanita itu semakin membencinya.
Revan pun memutuskan kembali ke laundry, dia memarkirkan mobilnya di seberang jalan dan mengawasi ruko berlantai dua tempat Diana bekerja. Dia akan menunggu sampai Diana pulang, lalu mengikuti wanita itu sampai ke rumah barunya. Revan melirik arlojinya, masih pukul satu siang dan masih ada beberapa jam lagi Diana keluar. Dia akan menunggu, dia bahkan mengabaikan rasa lapar yang mulai menyerangnya.
Satu jam, dua jam ... mata Revan mulai perih dan berair, sejak tadi dia sudah berulang kali menguap. Dia mengantuk sebab semalam tak bisa tidur, ditambah lagi tubuhnya yang lelah karena kurang istirahat.
Sementara itu, Diana yang sudah mulai tenang kembali melakukan aktivitasnya, dia menyetrika pakaian milik pelanggan dengan tidak bersemangat. Raka yang sejak tadi memperhatikan Diana pun mendekatinya.
"Kamu masih memikirkan kejadian tadi, ya?" tanya Raka.
__ADS_1
"Enggak, Mas," jawab Diana bohong.
Raka tahu Diana sedang berbohong, tapi dia tak mau memaksa wanita itu mengakuinya.
"Hem, Di. Nanti malam aku mau ajak kamu dan Dafa jalan-jalan, kamu mau, kan?"
"Lain waktu aja, ya, Mas? Soalnya aku sedang malas ke mana-mana," tolak Diana.
"Ayolah, Di! Aku tahu kamu lagi sedih dan galau, makanya aku ajak kamu jalan-jalan buat cari hiburan."
"Tapi aku benar-benar sedang malas keluar, Mas!"
"Pergilah, Diana! Ibu dan Tante kamu juga akan ikut bersama kalian, kita akan makan malam bersama," sela Eliana.
Diana terkesiap, "Ibu dan Tante Siska juga akan ikut?"
Eliana mengangguk dan tersenyum.
"Tadi Mama menelepon Tante kamu dan menceritakan semua yang terjadi. Tante kamu setuju buat pergi bersama kita," sambung Raka.
Diana terdiam, dia tak menyangka Eliana akan secepat ini mengatakan semuanya pada Siska, padahal dia sendiri saja belum sempat cerita apa-apa ke tantenya itu.
"Gimana, Di? Mau, ya?" Raka memandang Diana dengan tatapan memohon.
Diana pun akhirnya mengangguk setuju sebab merasa tak enak, walaupun sebenarnya dia sedang malas kemana-mana.
Raka tertawa senang, "Baiklah, kalau begitu nanti pukul tujuh aku jemput kamu."
"Iya, Mas." sahut Diana.
Raka dan Eliana saling pandang sembari melempar senyuman penuh arti, ibu dan anak itu sudah menyiapkan sebuah rencana tanpa sepengetahuan Diana.
***
Maaf ya kalau belakangan ini aku slow update.🙏🏼
__ADS_1
Aku lagi sibuk banget, jadi mohon pengertiannya.🙏🏼