
Malam harinya, Alex dan Adiba sedang berada di dalam kamar. Mereka hanya saling diam tanpa berpikir memecahkan keheningan yang ada, perlahan tangan Alex terulur menyentuh punggung tangan Adiba. Hal itu membuat Adiba tersentak kaget, dia melotot dan menelan air ludah dengan kasar. Jantungnya berdegup sangat kencang, meski ini bukan pertama kalinya dia ingin bercinta tetapi dengan pria yang berbeda tentu membuatnya sangat gugup. Belum lagi dia tidak terlalu mengenal pria itu.
"Diba," panggil Alex dengan suara lembut.
Adiba mengangguk, mereka saling tatap.
"Maaf, jika malam ini aku belum bisa menyentuhmu."
Adiba menghela napas pelan. "Kenapa, Mas? Aku kamu berubah pikiran untuk menitipkan benihmu di rahimku? Apakah semua itu karena aku mantan wanita malam yang tidak bisa menjaga diri? Tetapi aku masih menjaga kehormatanku pada masa itu, Mas." sambung Adiba yang pikirannya tertuju ke masa lalu.
"Tidak, Adiba. Kamu salah paham, aku hanya masih belum siap dan tidak tega jika mengingat posisi Vania."
Adiba merasa iri, Vania sangat beruntung karena mendapatkan suami seperti Alex. Walaupun dihidangkan daging segar dirinya tetap berpikir terlebih dahulu untuk menyantapnya.
"Baiklah, aku mengerti." Adiba beranjak dari ranjang. "Aku permisi ke kamar mandi," lanjutnya lalu berjalan pergi.
Sementara di kamar sebelah, Vania berdiri di atas balkon dengan menatap ke atas langit. Dia melihat begitu banyak ribu bintang disana dan ada satu bulan yang menemani. Vania menggosokkan kedua telapak tangan tepat di lengannya. Malam ini sangat dingin sekali, sangat cocok untuk bermadu kasih. Perlahan matanya terpejam, dia membayangkan jika saat ini Adiba dan Alex sedang bercumbu.
Vania menghela napas, ada kesedihan di hatinya tetapi dia harus tetap mencoba tegar.
"Aku harap semuanya akan berjalan dengan lancar dan sesuai rencana." gumamnya seraya masuk ke dalam kamar.
Vania mengambil bingkai foto dimana ada dia dan Alex sedang tersenyum bahagia di dalam bingkai itu. Bagaimana tidak, foto tersebut adalah potret pernikahan mereka.
"By, kamu gak akan mengkhianati aku 'kan? Aku percaya denganmu, aku mohon jangan kecewakan aku. Maafkan diriku yang telah mengambil keputusan sebesar ini." Vania memeluk bingkai foto itu.
Dia membaringkan badan di atas ranjang dan matanya terpejam dengan posisi miring sambil memeluk bingkai foto.
Keesokan paginya.
Vania bangun terlebih dahulu dibandingkan Alex dan Adiba. Selesai mandi dirinya bergegas menuju kamar sang pengantin baru, sesampainya di depan pintu, Vania membuka pintu itu dan ternyata tidak dikunci. Dia harus mengumpulkan mental kuat dan kesabaran jika nanti melihat kejadian yang mungkin membuat hatinya terguncang.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu itu terbuka, tidak ada suara dari dalam kamar hal itu menandakan jika salah satu penghuni kamar tersebut belum ada yang bangun. Vania menerobos masuk, dia melihat ke arah ranjang dan terkejut ketika mendapati Adiba tertidur sendirian disana.
"Kok Adiba sendirian? Apa Alex sudah bangun?" gumamnya pelan.
Vania berniat pergi dari kamar itu, tetapi ada sesuatu yang seperti mengganjal di matanya. Vania melongo ketika mendapati Alex tertidur di sofa.
"Alex? Kenapa dia tidur di sofa? Berarti mereka berdua tidur terpisah? Apa-apaan ini, bagaimana Adiba ingin cepat hamil?" Vania menghela napas, dia bergegas pergi dari kamar itu dan akan menanyakan pada Adiba siang nanti.
Menjelang siang, kedua kelopak mata itu terbuka dan manik mata indah berwarna hitam milik Adiba menatap ke seluruh atap kamar. Dia melirik ke tempat tidur sampingnya ternyata dia baru sadar jika Alex berkata ingin tidur di sofa. Diba turun dari ranjang, dia berjalan mendekati Alex yabg masih terlelap. Perlahan Diba membungkukkan badannya, saat ini dia dapat melihat wajah tampan milik Alex.
"Ternyata Tuan Alex sangat tampan meksipun dia sedang tertidur," tanpa sengaja senyuman tipis terbit di kedua sudut bibir Adiba.
Tiba-tiba kelopak mata Alex terbuka dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah manis Adiba. Dirinya terkejut lalu segera duduk. Alex berulang kali mengusap wajah dan dia baru teringat jika dirinya sudah menikah dengan Diba.
"Maaf, Mas." ucap Adiba tidak enak hati.
"Tidak masalah, aku hanya terkejut karena wajahmu terlalu dekat denganku." jawab Alex mencoba tenang.
"Baiklah, hari sudah menjelang siang dan sebaiknya kamu bangun. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi," Adiba berjalan pergi untuk menyiapkan kebutuhan mandi Alex.
"Meskipun dia tahu tujuanku menikah dengannya, tetapi dia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri." gumam Alex salut dengan sikap Adiba.
Selesai bersiap, keduanya pun keluar bersama dari kamar. Mereka berjalan menuruni anak tangga dengan beriringan tetapi menjaga jarak. Adiba terlihat sangat canggung.
Sesampainya di lantai bawah, mereka melihat Vania yang sudah ada di meja makan. Vania pun tersenyum ke arah keduanya.
"Morning," sapa Vania diselingi senyuman manis.
"Morning, Honey." Alex mengecup pucuk kepala Vania.
Mereka pun akhirnya duduk bersama.
"Sayang, ini semua masakan kamu?" Alex menatap menu sarapan yang ada di meja makan.
__ADS_1
"Iya, aku tadi terbangun duluan dan memutuskan untuk membuat sarapan. Ayo makan, Adiba. Setelah ini kita baru memutuskan akan melakukan apa," ucap Vani tetap dengan senyum manisnya.
Adiba menjadi semakin tidak enak hati, dia berpikir jika Vania pasti telah menduga dirinya dan Alex sudah berhubungan maka dari itu bangun terlambat.
Setelah selesai makan, Adiba sah Vania membereskan piring. Mereka membawanya ke dapur, Adiba pun langsung mencuci piring kotor itu sementara Vania membilas di sebelahnya.
"Adiba, bagaimana?" Vania menaik-turunkan alisnya.
"Bagaimana apanya?" Diba terkekeh pelan.
"Ck, jangan pura-pura polos deh." Vania memutar bola matanya.
Adiba hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Vania pun mengikuti gerakan kepala Adiba, dia menepuk dahinya. "Belum? Alex belum menyentuhmu sama sekali?''
Adiba lagi-lagi menggeleng. "Bahkan tadi malam Mas Alex meminta agar dia tidur di sofa, aku tidak bisa melarangnya maka dari itu aku izinkan saja." ucap Diba.
"Astaga, Adiba Khanza. Jika kalian berdua tidak berhubungan bagaimana bisa agar kamu cepat hamil? Mengulur waktu saja." Vania mendengus heran.
"Sabar, Van. Nanti pasti akan ada waktu yang tepat, aku tidak ingin memaksa atau merayu Mas Alex karena aku takut jika dia berpikir bahwa aku memanglah wanita murahan."
"Tapi, jika kamu tidak merayunya terlebih dahulu pasti membutuhkan waktu yang lama untuk kalian melakukan hubungan suami-istri!" Vania terus mendorong Adiba.
"Van, aku akan berbicara baik-baik tanpa harus merayunya. Kamu tenang saja ya, doakan agar hanya sekali berhubungan benihnya langsung jadi di dalam sini." Adiba menunjuk perutnya yang rata.
Vania hanya bisa pasrah, dia melirik Alex yang duduk di sofa sambil membaca koran.
'Apa aku terlibat dalam masalah Alex tidak mau menyentuh Adiba? Apa Alex ingin menjaga perasaanku? Tetapi ini 'kan memang tujuannya agar bisa dapat keturunan.' Vania akan berbicara pada Alex nanti.
•
•
__ADS_1
TBC