Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 57 DTH


__ADS_3

Pemilik mata indah nan bulu mata lentik itu terbuka, dia mengedarkan pandangan dan menguap sambil menutup mulutnya. Imah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi dan dia bergegas turun dari ranjang. Imah berjalan ke kamar mandi, dirinya akan membersihkan diri lalu menunaikan ibadah wajib umat muslim.


Selesai mandi dan mengambil wudhu, Imah pun memakai mukenah berwarna hitam dengan motif bunga-bunga gold di sekelilingnya. Dia bersiap untuk menjalankan ritual pagi yang selalu di anjurkan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Imah mendidik dia akan agama yang sangat kental.


Tujuh menit kemudian, Imah menengadahkan kedua tangannya dan memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.


"Ya Allah, tolong bantu hamba untuk menggapai cinta hamba. Namun, jika menurut Engkau bang Ali bukan jodoh hamba maka jauhkan hamba darinya. Hamba tidak ingin melawan takdirmu, Ya Allah. Tetapi apa salahnya jika hamba mencoba mengubah takdir itu? Hamba tahu jika jodoh, maut, rezeki, pertemuan dan lainnya adalah ketentuanmu. Maka dari itu, hamba memanjatkan doa tulus agar semua keinginan hamba untuk bisa bersanding dengan bang Ali segera tercapai. Amin amin ya Rabbal Al-Amin." Imah mengakhiri doanya dengan mengusap seluruh wajah dengan lembut.


Dia berjalan mengambil Al-Qur'an lalu kembali duduk dan mulai melantunkan ayat-ayat cinta Allah.


Fajar menjelang, hari ini seperti biasanya, Imah menyapu halaman dengan membaca sholawat badar. Suaranya yang merdu tentu akan membuat siapapun terpesona, begitu banyak pemuda di desa yang menyukai Imah tetapi Imah tidak merespon mereka.


Seorang pemuda berusia tiga puluh tahun berjalan lewat dari depan rumah Imah, dia tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.


"Assalamualaikum, bang Mamad. Mau pergi bekerja, ya?'' sapa Imah penuh kelembutan.


"Waalaikumsalam, neng Imah. Iya, Abang mau pergi bekerja. Duh Gusti, pagi-pagi udah lihat calon makmum yang makin hari makin bening aja." goda Mamad dengan malu-malu.


"Bang Mamad bisa aja." Imah membalas senyuman Mamad agar tidak di pikir sombong. "Ya sudah lekas jalan, bang. Nanti bang Mamad kesiangan sampai kantor." lanjutnya mengusir secara halus karena Mamad pasti bisa betah mengobrol dengannya.


"Ya udah, neng. Kalau begitu, Abang permisi, ya. Mari! Assalamualaikum." Mamad menunduk sopan.


"Waalaikumsalam," Imah menjawab salam dari Mamad.


Mamad adalah pekerja kantoran, dia staff biasa di perusahaan AJ Group yang berdiri di bidang properti. Di usianya yang sudah kepala tiga, Mamad masih lajang karena dia belum menemukan tipe wanita idamannya. Namun, Mamad sempat menaruh hati pada Imah akan tetapi dia yakin jika Imah pasti akan menolaknya. Warga desa banyak yang tahu jika diam-diam Imah menyukai Ali Ismail.


Meninggalkan mereka, di rumah lain terlihat seorang gadis cantik dengan pakaian terbukanya. Dia sedang menyiram tanaman tanpa menghiraukan tatapan lapar dari para lelaki dewasa yang memandangnya. Gadis itu bernama Hanum, dia saat ini berusia dua puluh tujuh tahun dan bekerja sebagai seorang model.

__ADS_1


Hanum jarang pulang ke rumah, kali ini dia ada di rumah orang tuanya karena sedang libur bekerja. Hanum paling lama menginap selama dua Minggu, selebihnya dia pulang ke apartemen yang ada di luar kota tempatnya bekerja.


Hanum mendengus kala siulan para lelaki itu menyakitkan telinganya, dia melemparkan pipa air lalu berjalan menuju keran dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Orang tua Hanum adalah orang terkaya nomor satu di desa itu, mereka memiliki bisnis toko emas di beberapa kota. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka sombong bahkan mereka berteman dengan siapapun. Kecuali Hanum, dia sangat sombong karena merasa orang tuanya nomor satu di desa tersebut dan kekayaannya tidak tertandingi oleh yang lainnya.


Di desa sumber sari, rata-rata para penduduk bekerja sebagai petani, mereka berladang dan bersawah.


"Sayang, kamu kenapa?" Bunda Hanum— Siska bertanya kepada sang putri yang wajahnya terlihat jutek.


"Aku kesel, Bun. Tadi di depan banyak laki-laki yang bersiul seperti mereka sedang memanggil burung."


"Apa mereka sengaja bersiul di depanmu?"


Hanum mengangguk. "Ya, tentu saja dan aku tahu itu. Memangnya, ada yang salah denganku?" lanjutnya sambil menatap penampilan.


Hanum menaikkan sebelah alisnya. "Bahkan di kota tempatku bekerja banyak yang lebih terbuka dari ini, Bun. Tetapi aku melihat para lelaki disana biasa saja memandangnya, sangat beda dengan di desa."


"Kehidupan di kota dan desa tentu saja berbeda jauh, Sayang." Siska mengelus lembut rambut Hanum, dia memperlakukan Hanun masih sama seperti anak kecil.


"Apa bedanya, Bun?"


"Masa kamu tidak tahu, usia kamu sudah dua puluh tujuh tahun loh, Nak. Hal sepele seperti itu kamu tidak mengerti?"


Hanum menggeleng diiringi mengedikkan bahu. "Aku tidak pernah mencari tahu karena aku tidak suka akan hal itu."


"Begini, jika ada orang kota masuk desa pasti pakaian dan penampilan mereka terbuka, namun mereka biasa saja. Tetapi pandangan orang desa itu berbeda karena mereka tidak pernah memakai pakaian terbuka seperti itu. Nah, kalau orang desa masuk kota? Pakaian mereka pasti tertutup dan terbilang cukup kuno apalagi tidak bergaya mengikuti zaman, pasti orang kota mengatakan jika pakaian itu norak dan kampungan. Namun, kita orang desa biasa saja melihatnya. Apa kamu paham sampai disini?"

__ADS_1


Hanum terlihat sedang berpikir, dia mencerna ucapan Bundanya dengan baik. Sejenak kemudian, Hanum menggeleng lalu dia kembali mengedikkan bahu.


"Entahlah, Bun. Aku akan mencoba memahaminya, bye! Aku ingin melanjutkan tidurku dulu, tadi malam live streaming bersama dengan teman-temanku sampai pukul dua pagi. Hoam, aku sangat mengantuk."


Cup!


Hanum mengecup pipi Siska. "Bye, Bunda."


Dirinya segera melangkahkan kaki berlari kecil menaiki anak tangga. Siska yang melihat kelakuan putrinya hanya menggeleng saja, dia terdiam karena teringat dengan putri bungsunya yang telah tiada dua puluh tahun lalu akibat kecelakaan. Siska dan sang suami sangat memanjakan Hanum sejak Via Putri bungsu mereka tiada. Hal tersebut membuat Hanum terbiasa manja hingga dia dewasa seperti sekarang.


Suami Siska— Bahri Kurniawan, menepuk pundak Siska hingga sang empunya terlonjak kaget.


"Astaga, Yah. Kenapa hobi sekali membuatku terkejut?" Siska mengelus dadanya yang hampir melompat keluar.


Bahri hanya tertawa pelan. "Habis tadi aku lihat kamu sedang melamun, Bun. Apa sih yang kamu pikirkan, hm?" tanyanya sambil merangkul pundak Siska dan mereka berjalan menuju meja makan.


"Biasalah, Yah." Siska tertunduk lesu.


"Via? Dia sudah tenang di surga, Bun. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu kembali dengan putri surga kita." Bahri menenangkan sang istri, dia sebagai tempat bersandar Siska saat sedang bersedih.


Siska menganggukkan kepala, sangat sulit baginya untuk melepaskan kepergian sang putri.




TBC

__ADS_1


__ADS_2