Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 61 DTH


__ADS_3

Imah telah bersiap untuk pergi ke rumah milik Ali, dia membawakan bubur buatannya dan sengaja ingin mencari perhatian kepada Umi Ali. Dia belum tahu jika Ali akan di jodohkan dengan Hanum Kurniawan karena isu itu memang belum tersebar luas di desa. Dirinya segera pergi dari rumah dan berjalan santai menuju ke rumah Ali.


Beberapa menit kemudian, sampailah Imah di depan rumah Ali. Jarak antara rumahnya dan Ali memang tidak jauh, hanya berjarak kurang lebih tiga ratus meter. Imah mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah, terlihat sangat sepi hingga dia meyakini jika tidak ada orang di rumah itu.


"Apa bang Ali dan Umi tidak ada di rumah? Kelihatannya rumah ini sepi sekali." gumam Imah berbicara sendiri, dia berniat untuk kembali pulang tetapi suara benda jatuh dari dalam rumah membatalkan niatnya.


Imah berdiri di depan pintu rumah, dia mengetuknya dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum! Umi, bang Ali!" teriak Imah secara sopan.


Terdengar suara sahutan salam lalu tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan terlihat Umi langsung mengembangkan senyuman.


"Eh, nak Imah. Ada apa, Nak?" tanya sang Umi ketika melihat Imah.


"Ini, Umi. Imah ada bawa bubur untuk Umi dan bang Ali." Imah menyodorkan plastik berwarna putih berisi satu mangkuk bubur.


"Ya ampun, kok repot-repot begini? Terima kasih loh, nak." Umi menerima dengan senang hati.


"Sama-sama, Umi. Gak repot kok, kebetulan tadi Imah buatnya banyak. Abah meminta Imah agar membuatkan bubur durian dan akhirnya Imah terlalu banyak memasaknya."


"Terima kasih sekali lagi, Nak Imah. Oh ya, kamu mau masuk dulu atau bagaimana? Ayo!" ajak Umi mempersilahkan Imah.


"Eh, gak usah, Umi. Maaf Imah langsung pulang saja," jawab Imah seraya melirik ke dalam rumah.


Umi mengerti apa yang Imah cari, dia tersenyum dan langsung mengatakannya.


"Kamu mencari Ali, ya?"


Sontak Imah pun gugup mendengar pertanyaan dari Umi.


"Enggak kok, Umi. Maaf, kalau begitu Imah permisi dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." jawab Umi sambil menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam rumah.


Sementara Ica, dia sudah dua hari sadar dari pingsannya dan saat ini dia sedang jalan-jalan keliling kampung. Dirinya menghirup udara segar di sore hari, rasanya sangat lega dan lagi pemandangan sawah yang hijau mampu membuat Ica tersenyum senang.


Dia sangat ramah dengan warga sekitar, bahkan banyak para pemuda yang mengagumi kecantikan Ica. Mereka terpesona hanya dengan melihat senyum dibibir Ica.


"Selamat sore, Neng Aul." sapa pria berusia dua puluh delapan tahu itu.


"Sore, bang." jawab Ica dengan senyuman.


Pria bernama Anton itu hanya menggeleng, air liurnya hampir saja menetes ketika dia melihat wajah cantik nan polos tanpa make up milik Ica dari jarak dekat.


"Indahnya ciptaan Allah, begitu sempurna dan tidak bosan untuk dipandang." ucap Anton sambil memandang punggung belakang Ica.


Dia kembali melangkah untuk pulang ke rumah karena hari hampir menjelang Maghrib.


Ica terus berjalan menuju ke rumah, dia sudah puas melihat pemandangan sekitar yang mungkin dia lupakan selama ini. Dirinya benar-benar merasa asing dengan tempat tersebut, tetapi Ica mencoba untuk mengingat pesan Siska jika dia tidak boleh terlalu memaksakan ingatannya agar pulih kembali.


Ketika melewati masjid, langkah Ica langsung terhenti ketika dia mendengar suara seseorang sedang mengaji di dalam sana. Suara itu sangat merdu mendayu-dayu dan membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan sulit beralih dari sana. Ica melangkahkan kaki masuk ke area masjid, dia memicing ke dalam masjid untuk melihat siapa pria yang memiliki suara emas itu.


''Kok tidak nampak, ya? Padahal, aku penasaran dengan pemilik suara itu." Ica menunduk, dia kembali melihat ke dalam masjid tetapi seseorang yang mengaji itu tidak terlihat.

__ADS_1


Ica memutuskan untuk pergi dari sana setelah suara mengaji itu berhenti, akan tetapi dia tidak jadi melangkahkan kakinya ketika mendengar sapaan seseorang. Sontak hal itu membuat Ica menoleh dan dia terpanah dengan kehadiran pria tampan nan manis yang sudah berdiri di belakangnya.


"Assalamualaikum," Ali menyapa dengan mengucapkan salam.


Ica hanya terdiam sambil terus menatap wajah Ali, dia seperti terhipnotis oleh ketampanan itu.


"Assalamualaikum!" ucap Ali lagi dengan suara sedikit kencang karena melihat Ica yang hanya diam mematung.


"Waalaikumsalam," jawab Ica dengan spontan.


Ali tersenyum tipis. "Maaf, Anda cari siapa, ya?" tanyanya.


Pasalnya, Ali belum tahu jika gadis di depannya saat ini adalah putri angkat dari keluarga Kurniawan. Dia tidak mendengar kabar berita tentang gadis hanyut yang di temukan tepat di tepi sungai. Pekerjaan Ali bukan hanya menjadi guru ngaji tetapi dia juga bekerja sebagai guru honor di salah sekolah menengah pertama.


Ali pulang kerja pukul tiga sore, dia menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak mengaji pada pukul lima sore sampai delapan malam sehabis sholat isya. Semua warga mengenal Ali dengan sangat baik, mereka bahkan berterima kasih karena Ali karena sudah bersedia mengajarkan anak mereka tentang bacaan Al-Qur'an dan lain sebagainya.


"Saya, saya tadi tidak sengaja lewat dan mendengar ada suara mengaji dari dalam sana." Ica menunjuk masjid. "Apa itu suara Anda?" tanyanya untuk memecahkan rasa penasaran.


''Iya," sahut Ali singkat dengan senyum tipis.


"Suara Anda sangat merdu, Pak.'' ucap Ica memanggil Ali dengan sebutan Bapak.


Ali hanya terkekeh pelan ketika Ica memanggilnya seperti itu.


"Ada apa?" tanya Ica heran.


"Sebelumnya, terima kasih karena Anda sudah mengatakan jika suara saya merdu. Akan tetapi, kenapa Anda memanggil saya dengan sebutan Pak?"


"Anda bisa panggil saya dengan sebutan bang seperti semua warga di desa ini saat memanggil saya."


"Bang? Bang siapa? Maksud saya, apa saya boleh tahu siapa nama Anda?"


"Ali." sahut Ali memperkenalkan namanya.


"Saya Aulia," Ica mengulurkan tangan tetapi Ali tidak membalas uluran itu, dia lebih memilih mengatupkan kedua tangan di depan dada.


Ica malu dan pada akhirnya dia mengelap tangannya di ujung baju.


"Maaf!" ucap Ali merasa tidak enak. "Kita bukan mukhrim jadi tidak boleh saling bersentuhan."


Ica semakin kagum melihat Ali, sikapnya, sifatnya, membuat Ica terpesona dan langsung menyukai Ali. Dia baru kali melihat pria seperti Ali yang memiliki kesopanan sangat terjaga.


"Rumah Anda dimana? Sepertinya saya baru kali ini melihat Anda," Ali bertanya sambil menatap Ica.


"Saya keluarga Kurniawan, mengapa Anda baru melihat saya? Bukannya, saya terlahir dan besar di desa ini?" Ica menjadi heran akan ucapan yang Ali lontarkan.


"Tapi—" ucapan Ali terpotong karena panggilan dari Uminya.


"Ali!" panggil sang Umi sedikit kencang hingga mengalihkan padangan kedua anak muda itu.


Umi berjalan cepat ke arah Ali dan Ica.


"Assalamualaikum," sapa sang Umi setelah berada di dekat Ali.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," sahut Ali dan Ica secara bersamaan.


Umi tersenyum ke arah Ica. "Ali, apa kamu lupa ini sudah pukul berapa? Sebentar lagi Maghrib dan kamu harus segera mengumandangkan adzan, Nak."


Ica melihat ke arah langit, cuaca memang hampir gelap dan itu membuat Ica memutuskan pamit pulang.


"Bu, saya pamit pulang, ya? Cuaca sudah hampir gelap." ujar Ica tersenyum ramah.


"Iya, Nak. Maaf, Umi menganggu kalian berdua. Lain kali kalian masih bisa mengobrol ulang." ucap sang Umi yang memang sengaja membuat Ica agar pergi dari sana.


Ica mengucapkan salam dan di jawab oleh Umi juga Ali. Setelah Ica pergi, Umi melirik Ali dengan tajam.


Ali mengerutkan dahi karena heran dengan sikap sang Umi.


"Umi kenapa? Kok wajahnya seperti itu?"


"Apa kamu tidak tahu siapa dia?" tanya sang Umi.


"Tentu saja Ali tahu, dia mengatakan jika namanya adalah Aulia dan dia dari keluarga Kurniawan. Benarkan, Umi? Tetapi, mengapa Ali baru kali ini melihatnya, apa dia keponakan bibi Siska?"


Umi menepuk pundak Ali dengan sedikit kencang.


"Kamu tidak mengatakan atau bertanya apa pun dengannya 'kan?"


"Memangnya kenapa, Umi? Ada apa dengan gadis itu?"


Umi mulai menceritakan jika Aulia adalah gadis yang ditemukan hanyut dan tergeletak di tepi sungai. Dia mengalami amnesia karena benturan keras di kepala. Berhubung wajahnya mirip dengan Almarhumah Aulia, Putri bungsu keluarga Kurniawan, membuat Siska dan Bahri memungutnya menjadi anak. Umi mendengar berita itu saat dia ke warung tadi dan Bu kepala desa bercerita kepadanya.


Ali hanya mengangguk, pantas saja dia melihat wajah Ica yang keheranan saat dirinya mengatakan jika dia baru melihat Ica di desa itu.


"Maka dari itu, Umi minta agar kamu jangan bertanya apa pun soal Aulia atau keseharian dan lainnya. Kamu paham 'kan, Nak?" tanya sang Umi.


Ali mengangguk paham.


Umi pun bisa menghela napas dengan lega karena putranya belum sempat mengatakan apa pun pada Ica, jika tadi dirinya terlambat datang dan Ali sudah mengatakan apa yang membuat Ica akan berpikir keras, maka entah apa yang terjadi nantinya.


Sementara Ica, dia masih saja memikirkan dan heran akan ucapan Ali tadi padanya.


"Dia bilang baru melihatku di desa ini? Memang selama ini aku ads dimana?" gumam Ica sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


Dia berhenti memikirkan hal tersebut karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri.




TBC


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR 🤗


__ADS_1


__ADS_2