Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 46 DTH


__ADS_3

Ditengah keterpurukannya, Elza menenangkan diri dengan cara berada di diskotik. Entah mengapa sebotol wine bisa membuat pikirannya sedikit lega, sudah tiga kali Elza meminum air itu dan tanpa sepengetahuan Ica ataupun keluarga lainnya. Sudah hampir dua jam dia disana, merenungi setiap ucapan yang keluar dari mulut Alvin.


"Dia tidak mencintaiku, cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku adalah perempuan bodoh yang mengharapkan cinta dari pria seperti Alvin. Aku tidak menyangka jika selama ini Alvin sudah menganggapku sebagai saudari kandungnya, aku bagaikan pungguk merindukan bulan. Sesedih inikah perjalanan cintaku?" ucap Elza dengan suara lirih dan mata sayu, Elza hanya minum sedikit karena dia takut mabuk.


Setelah bosan berada di tempat itu, Elza pun memutuskan untuk pulang. Dia keluar dari diskotik dan menuju ke mobil gede miliknya.


Di tempat lain.


Rizi sedang menunggu Ica, sudah hampir lima belas menit Ica tidak menghubunginya padahal dia sudah menunggu di cafe tempat mereka janjian. Ica mengatakan pada Rizi jika dia akan pergi ke cafe sendiri dan tidak perlu di jemput. Namun, Ica terlambat tanpa menghubungi Rizi.


Tak berselang lama, sebuah pesan masuk ke aplikasi hijau milik Rizi. Dia segera membuka pesan itu yang ternyata dari Ica.


[Kak, maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Teman-temanku datang ke rumah tanpa sepengetahuanku, mereka sengaja ingin merundingkan tentang kompetisi model di luar kota. Kami semua memutuskan untuk mengikuti kompetisi itu supaya nama butik dan desain kami dikenal oleh banyak orang.]


Rizi hanya menghela napas pelan, dia sedikit kecewa tetapi itu semua demi pekerjaan Ica. Rizi tidak ingin terlalu mengekang Ica.


[Baiklah, semoga berhasil. Aku mencintaimu.] balas Rizi.


[Aku juga mencintaimu,] jawab Ica lalu diberikan emot love oleh Rizi.


Rizi memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celana, dia pun bergabung dengan para temannya dan mereka memulai pembukaan pesta pelepas lajang itu.


Satu jam kemudian, Rizi merasakan kepalanya sangat pusing padahal dia tidak terlalu banyak minum. Rizi berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, semua temannya pun paham dengan apa yang terjadi pada Rizi dan ternyata semua itu adalah ulah dari seorang pemuda bernama Megi. Dia sangat membenci Rizi sebab bisa mendapatkan perempuan seperti Ica, Megi sangat iri karena pada awalnya dialah yang tertarik dan ingin menjadikan Ica sebagai kekasihnya.


Tetapi, Rizi selangkah lebih maju di depan Megi yang mana membuat Megi harus memendam isi hatinya kepada Ica. Dia tersenyum tipis kala melihat Rizi berjalan sempoyongan, Megi berharap agar Rizi kecelakaan dan meninggal di tempat. Jika semua itu terjadi, maka dia memiliki kesempatan untuk dekat dengan Ica.


Di dalam mobil.

__ADS_1


Rizi merasa tidak baik-baik saja, kepalanya sangat berat tetapi dia tetap berusaha untuk menyetir mobil. Mobil tersebut oleng dan hampir saja menabrak seorang pengendara motor. Rizi menginjak pedal rem sangat dalam, dia syok dengan apa yang ingin terjadi tadinya. Dia melihat dari kaca spion tetapi tidak nampak apa pun, hanya ada samar-samar di kaca spion tersebut.


Seorang pengendara yakni Elza terkejut ketika ada mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya, dia dengan segera menghampiri mobil yang terhenti itu.


"Aku seperti mengenal mobilnya." gumam Elza menatap plat mobil milik Rizi.


"Eh, ini bukannya mobil kak Rizi? Iya, mobil kak Rizi!" pekik Elza menyadari jika itu milik Rizi terbukti dari plat mobilnya yang bertuliskan huruf RV yakni Rizi Veronica.


Elza mengetuk jendela mobil, dia juga berteriak memanggil nama Rizi.


"Kak, kak Rizi! Are you okey? Buka pintunya, kak!" teriak Elza karena sedikit khawatir dengan keadaan Rizi.


Pintu mobil terbuka dan terlihat Rizi dalam keadaan kacau.


"Kak, kamu kenapa?" Elza mencium bau alkohol dari mulut Rizi. "Astaga, dia mabuk." lanjutnya sambil melihat Rizi.


El mendorong motornya ke rumah salah atau warga sekitar, dia mengatakan jika dirinya ingin menitipkan motor itu dan akan mengantarkan temannya yang sedang mabuk untuk pulang ke rumah. Setelah itu, Elza kembali ke mobil milik Rizi. Dia tidak bisa melihat calon kakak iparnya menyetir mobil sendiri dalam keadaan mabuk karena bisa membahayakan nyawanya.


"Kak, aku akan mengantarmu pulang." ucap Elza pelan dan dia memindahkan Rizi ke kursi belakang.


Mobil pun melaju pergi, Elza akan membawa Rizi ke apartemen karena dia sudah pernah dibawa kesana oleh Ica sewaktu mengantarkan makanan untuk Rizi.


"Apartemen kakak berada di dekat sini bukan? Jadi, aku akan mengantarkan kakak ke apartemen saja, tidak ke rumah." ucap Elza berbicara sendiri karena Rizi sudah tidak merespon.


Dua puluh menit perjalanan, sampailah mereka di apartemen milik Rizi. Elza memapah tubuh Rizi masuk ke dalam kamar, sesampainya di kamar, dia merebahkan tubuh Rizi di atas ranjang.


"Baik, sudah selesai. Aku akan memesan taksi online untuk kembali mengambil motorku." Elza melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Tetapi, saat dia hendak melangkah, Rizi menarik lengannya hingga dia terjatuh di atas tubuh Rizi.


"Jangan tinggalkan aku, Ica. Cukup Mona saja yang pergi dari hidupku selamanya, aku tidak bisa kehilangan cintaku untuk kedua kali. Tetaplah bersamaku dan jangan tinggalkan aku." rancau Rizi dengan mata sayu.


Elza mencoba melepaskan genggaman tangan Rizi yang sangat kuat.


"Meskipun dalam keadaan mabuk tetapi tenaganya sangat kuat. Kak Ica beruntung memiliki calon suami seperti kak Rizi." gumam Elza pelan dan terus mencoba melepaskan genggaman Rizi.


Entah apa yang Rizi pikirkan saat ini, dia mencium paksa bibir Elza sehingga El memukul kepala Rizi.


''Kak, apa-apaan kamu? Sadar, kak! Sadar!" teriak Elza tidak terima dan takut.


"Kamu mengatakan jika kamu mencintaiku, tetapi hanya sekedar ciuman saja mengapa kamu menolaknya, hm?" Rizi menarik kepala Elza hingga pada akhirnya ciuman pun terjadi.


Dalam pandangan Rizi, saat ini dia sedang berkhayal sudah menikahi Ica dan mereka sedang berbulan madu.


"Jangan gila, kak! Aku bukan kak Ica, aku Elza!" teriak El hingga urat lehernya menegang.


Rizi tidak peduli, dia bahkan enggan untuk melepaskan tubuh Elza dari tubuhnya. Elza terus memberontak tetapi biar bagaimanapun tenaga seorang pria lebih kuat daripada wanita. Apalagi Rizi, dia sering pergi ke gym untuk berolahraga.


Air mata sudah menetes ketika Rizi kembali menciumnya dengan buas, tangan Elza ingin menggapai vas bunga yang ada di meja, tetapi sayang sekali tangannya tidak sampai untuk mengambil itu.




TBC

__ADS_1


__ADS_2