
Pagi hari.
Berita kecelakaan yang menimpa Adiba dan Alex sampai di telinga Vania, kabar tersebut menjadi perbincangan hangat dan terbaru di dunia entertainment. Vania membekap mulutnya kala jenazah sahabat dan mantan suaminya di eksekusi oleh polisi. Alex meninggal di tempat sementara Adiba kehilangan nyawa saat berada di dalam perjalanan. Namun, putri dari pasangan Adiba dan Alex selamat dalam tragedi mengerikan itu.
"Adiba, Alex," lirih Vani dengan tetesan air mata, dia tidak sanggup menahan kesedihannya mengingat pernah memiliki kenangan bersama dengan kedua orang itu.
Pintu rumah diketuk dan Vania segera membukanya, dia melihat Robi yang sudah berdiri disana.
"Kak, apa kamu sudah melihat berita hari ini?"
Robi mengangguk. "Aku datang kesini sengaja ingin mengabarimu tetapi ternyata kamu sudah tahu duluan."
"Kak, aku mohon antar aku ke rumah sakit. Aku ingin melihat mereka untuk yang terakhir kalinya," Vania memohon dengan deraian air mata.
Robi tidak sanggup dengan tangisan itu, dia mengangguk dan akan mengantar Vania ke rumah sakit dimana jenazah Alex berada. Robi heran melihat Vania, meski hatinya sudah disakiti tetapi dia tetap ingin melihat kedua pengkhianat itu.
🌺🌺🌺🌺🌺
Di rumah sakit.
Polisi masih melakukan olah TKP melalui CCTV dan polisi juga mencari pengendara truk yang mengatakan jika saat itu dia dalam keadaan mengantuk hingga tidak terlalu melihat keadaan depan. Sopir truk tersebut sudah diamankan sementara Elza, dia berada di rumah sakit bersama dengan Dokter Anelka.
Vania dan Robi sampai di rumah sakit itu, mereka bergegas masuk dan segera menemui suster lalu mengatakan ingin melihat korban kecelakaan mobil terguling tadi malam. Suster mengantar mereka ke kamar jenazah, ketika pintu kamar Jenazah dibuka, disana Vania dapat melihat begitu banyak manusia terkapar di atas ranjang dengan kain kafan yang menutupi seluruh tubuhnya mereka.
Perlahan, langkah Vani membawanya ke dua brangkar yang berdampingan, suster mengatakan jika itulah korban kecelakaan tadi malam. Vania dan Robi di perbolehkan melihat karena mereka mengaku sebagai keluarga dari korban. Vani membekap mulutnya dan tubuhnya hampir saja terjatuh ke lantai. Tangannya gemetaran ketika melihat secara langsung kabar berita duka yang ternyata benar adanya.
"A—alex," lirih Vania hingga tak bersuara, untung saja saat ini Ica berada bersama dengan Robi di luar ruangan.
Mata Vani beralih menatap Adiba, dia sangat terpuruk akan kepergian sosok yang pernah memiliki kenangan banyak bersamanya.
__ADS_1
"A—adiba," panggil Vani dengan Isak tangis yang tak tertahankan.
Dia mengeluarkan segala emosionalnya, dirinya menangis tanpa bersuara.
"Lex, kenapa kalian bisa pergi secepat ini? Apa kalian tidak ingin melihat anak kalian tumbuh menjadi dewasa? Apa kalian tidak ingin membantu dia bagaimana caranya berjalan dan berbicara? Aku mohon bangun, kalian berdua harus bangun." ucap Vani disela tangisannya.
"Aku, aku sudah memaafkan kesalahan kalian berdua maka dari itu bangunlah karena kalian sudah tidak memiliki salah lagi denganku, ayo bangun!" Vania menatap wajah Alex yang terdapat banyak lebam juga ada bekas kaca yang menancap di sana.
Air mata terus mengalir, dadanya terasa sesak menahan semua ini. Vania benar-benar tidak menyangka jika umur mantan dan sahabatnya hanya sampai disini.
"Perjuangan kalian hanya sampai disini? Kalian menyerah begitu saja, kenapa?"
Vania terdiam, tak terasa sudah hampir lima belas menit dia berada di dalam sana hingga suara tangisan bayi membuyarkan lamunannya. Dirinya segera keluar dari kamar jenazah tersebut, dia mencari asal suara bayi itu yang diyakini jika bayi tersebut bukanlah bayinya.
"Dokter!" Vania berteriak memanggil Dokter hingga membuat langkah sang Dokter terhenti.
Dokter itu melirik bayi dalam gendongannya, dia mengangguk.
"Dimana, Dok? Saya, saya adalah keluar dari korban dan saya sedang mencari bayi itu."
"Bayi itu sedang bersama saya."
Vania melirik bayi yang Dokter gendong, dia tersenyum lega.
"Dokter ingin membawanya kemana?"
"Saya berniat untuk mengadopsi bayi ini karena saya pikir dia sebatang kara."
"Tidak, Dokter! Keluarganya masih ada dan sayalah salah satunya. Tunggu sebentar!" Vania mengeluarkan ponsel dan beberapa bukti lainnya agar Dokter itu tidak curiga terhadapnya.
__ADS_1
Dokter tersenyum mengangguk percaya dengan semua bukti yang Vania berikan, dia menyerahkan Elza kepada Vania.
"Jaga dia baik-baik, kedua orangtuanya sudah tiada dan hanya Andalah tujuannya saat ini."
Vania paham, dia memeluk Elza dengan sangat erat.
"Syukurlah kamu masih selamat, Nak. Tante pasti akan menjagamu, merawatmu hingga dewasa dan tante tidak akan pilih kasih." gumam Vani dengan tetesan air mata, dia mengecup dahi Elza.
Robi datang menghampiri Vania.
"Sa, aku pikir kamu belum keluar dari—" ucapan Robi terpotong. "Sa, bayi siapa itu?" lanjutnya sambil menunjuk bayi dalam gendongan Vania.
"Ini, bayi Alex dan Adiba."
"Hah!" pekik Robi terkejut. "Lalu, kenapa bayi itu bisa bersamamu?"
"Kak, aku sudah membuat keputusan jika aku akan merawatnya. Aku akan membesarkan dia seperti anakku sendiri, dulu ketika dia masih berada di dalam kandungan Adiba, aku juga pernah ikut merawatnya, memberikan yang terbaik agar dia sehat di dalam kandungan. Meski akhirnya penghianatan dan kesedihan yang ku dapatkan tetapi aku sudah melupakan itu semua. Intinya, saat ini tujuanku hanya satu yaitu membesarkan dan merawat kedua putriku dengan baik." Vania memeluk Elza lalu tangan sebelahnya mengelus pucuk kepala Ica.
Robi kagum dengan sifat sosok Vania, dia benar-benar tidak menyangka jika Vania memiliki hati yang sangat suci seperti ini.
'Varsa, kamu adalah sosok wanita idaman banyak lelaki. Tetapi sayang sekali lelaki yang sudah berhasil mendapatkan hatimu begitu bodoh, dia meninggalkanmu begitu saja dan lebih memilih wanita lain. Jujur semakin kesini aku makin jatuh cinta padamu, aku harus memendam semua ini daripada kamu menjauh dariku karena merasa risih dengan sikapku yang tidak tahu diri ini.' batin Robi mengagumi Vania dalam diam.
Mereka memutuskan pergi dari sana dan akan membantu menyiapkan prosesi pemakaman.
•
•
TBC
__ADS_1