
Satu bulan kemudian.
Ica tidak pernah lagi mendapatkan pesan dari Alvin, entah mengapa dia sangat merindukan pria itu. Saat ini Ica pun bahkan tidak mengetahui keberadaan Alvin, dia pun memutuskan untuk bertanya kepada Elza. Dirinya mengambil ponsel yang ada di ranjang dan mulai mencari nomor kontak milik Elza.
Setelah panggilan tersambung, Ica langsung bertanya hal yang memang dia ingin ketahui.
"El, apa kamu tahu dimana Alvin sekarang?"
π±"Dia berada di luar negeri bersama dengan keluarganya." jawab Elza yang kala itu sedang duduk di halaman belakang bersama dengan Rizi.
"Kamu tahu alamatnya? Aku harus bertemu dengannya, El. Selama ini aku sadar jika aku salah meragukan cintanya." ujar Ica menyesal.
π±"Aku tahu alamatnya karena beberapa hari yang lalu kami sempat berkomunikasi. Tetapi, aku tidak mengatakan padanya tentang kakak yang sudah selamat dari tragedi kecelakaan itu."
"Berikan aku alamatnya, dan mengapa kamu tidak mengatakan pada Alvin jika aku sudah selamat?"
π±"Alvin akan segera menikah, aku tidak bisa merusak rencana pernikahannya."
Ica menutup rapat mulutnya, dia heran karena nyatanya Alvin sama seperti pria lain. Dia berkata jika mencintai Ica tetapi saat ini dirinya malah ingin menikah dengan wanita lain.
π±"Kak, kamu jangan salah paham dulu. Alvin di jodohkan oleh kedua orang tuanya, dia tidak bisa menolak karena kamu tidak menerima cintanya waktu itu, dan pada akhirnya dia dengan terpaksa menyetujui pernikahan itu." jelas Elza yang sudah yakin jika saat ini Ica pasti salah paham.
Ica bisa bernapas lega, dia meminta nomor ponsel Alvin dan Elza pun memberikan.
Selesai berbicara, panggilan terputus dan Ica mulai menghubungi Alvin. Dia harus mengungkapkan isi hatinya sebelum semuanya terlambat.
Panggilan terhubung dan Ica segera menyapa.
"Haβ" ucapan Ica terpotong karena mendengar suara wanita di seberang sana.
π±"Halo, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Vio.
"Dimana Alvin? Bukankah ini nomor kontak milik Alvin?"
Terdengar suara tawa jahat di seberang sana.
π±"Aku seperti mengenal suaramu."
"Ya, aku Ica. Veronica Mahendra."
Tawa Vio semakin keras, dia sengaja mengambil kartu ponsel milik Alvin agar sewaktu-waktu tidak ada yang bisa menghentikan rencana pernikahan mereka. Ternyata dugaan Vio benar, kewaspadaannya selama ini tidak sia-sia.
π±"Kau mencari Alvin? Dia tidak ada!"
Ica seakan peka jika wanita yang sedang bicara dengannya saat ini tidak begitu menyukai dirinya.
"Punya masalah apa kau denganku? Aku hanya ingin bicara dengan Alvin, berikan ponsel ini padanya sekarang juga!"
Lagi-lagi Vio tertawa.
π±"Apa kau bodoh? Aku adalah calon istri Alvin, jadi mana mungkin aku membiarkan calon suamiku bicara dengan wanita lain? Aku yakin pasti kau ingin mengatakan hal yang akan membuat Alvin berubah pikiran lalu dia tidak jadi menikahimu. Benarkan?"
"Aku tidak punya masalah denganmu dan aku hanya ingin bicara dengan Alvin!" Ica tetap bersikeras.
π±"Sayang sekali aku tidak akan mewujudkan semua permintaanmu. Oh ya, ternyata kau bisa selamat juga dari tragedi kecelakaan itu. Padahal, aku berharap kau mati dan tidak ada lagi yang akan menjadi penghalang diantara hubunganku dengan Alvin."
Ica kaget dengan perkataan kasar yang Vio lontarkan.
π±"Kenapa kau diam, hm? Kau heran karena aku bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Vio dengan nada mengejek.
"Apa maksudmu, apa kau ada hubungannya dengan kecelakaan yang aku alami?"
Vio tertawa renyah, dia seakan-akan sedang membodohi Ica.
π±"Tepat sekali!" jawab Vio, dia akan mengungkapkan semuanya saat ini karena dirinya dan Alvin besok akan menikah.
Ica kaget bukan kepalang, dia memiliki ide untuk merekam semua percakapan mereka. Mungkin saja, rekaman itu bisa saja berguna untuknya.
"Kenapa kau melakukan semua itu? Apa salahku?"
π±"Kau tidak memiliki salah, Veronica. Kau hanya sedikit membuatku kesal karena Alvin lebih memilihmu dibandingkan aku. Aku sengaja melakukan kejahatan dengan cara mencelakaimu dan akhirnya usahaku itu tidak sia-sia. Kau memang telah kembali, tetapi semuanya sudah terlambat karena aku dan Alvin akan besok akan menikah. Kami akan segera resmi menjadi pasangan suami-istri. Hah, aku sangat puas dan lega." pikir Vio padahal sebenarnya dia saat ini sedang dalam masalah.
"Kau bodoh, aku pasti akan menghancurkan angan-anganmu itu!" tukas Ica penuh penekanan.
π±"Silahkan saja, aku menunggunya." balas Vio tidak mau kalah, bahkan dia tertawa puas. "Baiklah, aku tidak punya waktu untuk melayanimu karena masih banyak lagi urusan yang lebih penting disini dan harus segera ku selesaikan."
Ica mengepalkan kedua tangannya karena merasa kesal dengan Vio.
π±"Oh ya, Ica. Sebelum panggilan ini di tutup, apakah ada yang ingin kau sampaikan pada Alvin untuk yang terakhir kalinya? Alvin sebentar lagi akan menjadi milikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun menganggu hubungan kami."
"Kau berkhayalβlah sesuka hatimu karena aku yakin jika nanti kau akan jatuh ke jurang yang paling dalam."
__ADS_1
Panggilan langsung terputus dan Ica sudah menyimpan rekaman obrolan mereka tadi.
"Semoga saja ini berguna untuk menghancurkan kesombongan wanita itu." Ica menggenggam ponselnya dengan erat.
Dia keluar dari kamar dan akan menceritakan semua kepada orang tuanya agar mereka bertindak cepat sebelum pernikahan Alvin di langsungkan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Keesokan harinya, Ica dan seluruh keluarganya terbang ke negara Jerman untuk bertemu dengan Alvin. Bahkan, Rizi juga Elza ikut serta dalam perjalanan itu. Ica berdoa agar mereka tidak terlambat sampai di negara itu, dirinya tidak bisa tenang dan duduknya juga selalu saja berubah.
"Nak, Mama mohon kamu harus tenang dan jangan terlalu setres. Yakinlah jika semuanya akan baik-baik saja." ucap Vania menenangkan Ica.
Sementara di kediaman Alvin.
Terlihat sudah ramai para tamu undangan datang di tempat itu, bahkan pesta pernikahan Alvin dan Vio di gelar dengan begitu mewah. Berbeda dengan Vio yang tersenyum bahagia, Alvin justru sebaliknya. Tidak ada senyuman sama sekali apalagi raut wajah bahagia.
Alvin seperti boneka yang di permainkan begitu saja oleh keadaan, dia hanya mampu diam dan diam.
Keduanya sudah berada di depan meja dan mulai melakukan prosesi pernikahan yang dianjurkan. Vio terus mengembangkan senyum karena sebentar lagi dia akan segera resmi menjadi istri dari seorang Alvin.
'Setelah kau jadi milikku, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu walau hanya sekejap. Kau hanya milikku dan akan tetap seperti itu.' ucap Vio dalam hati, dia sudah di penuhi oleh obsesi cintanya.
Saat prosesi terakhir ingin di lanjutkan, terdengar suara teriakan dari arah pintu dan membuat semua orang diam mematung begitupun dengan kedua mempelai pengantin.
"HENTIKAN!" teriak Ica hingga urat lehernya menegang.
Mereka sampai di Jerman tepat waktu, Ica memandang Alvin yang sangat tampan dengan memakai pakaian pengantin seperti ini. Tatapannya berubah ketika Ica melihat seorang wanita di sebelah Alvin.
Perlahan, langkah mereka mendekati Alvin dan meja pernikahan. Orang tua Alvin menatap Ica dengan tidak suka, mereka heran mengapa Ica bisa berada disini.
"Kau, kenapa kau berada disini?" tanya Vio ketus dan kesal.
"Aku yang sudah memberitahukan alamat ini padanya dan kami datang kesini untuk menegakkan kebenaran." tegas Elza menatap Vio dengan tajam.
Seketika raut wajah Vio langsung berubah masam dan kelabakan. Dia sudah menyadari apa maksud dari kebenaran itu sendiri.
"Apa yang kau katakan? Jangan merusak suasana kebahagiaan di hari ini, sebaiknya kalian pergi dan jangan pernah kembali!" Vio mengusir Ica dan seluruh keluarganya.
Ica tersenyum sinis, dia bahkan berjalan perlahan mendekat ke arah Vio dan Alvin.
Alvin hanya terdiam sambil menatap Ica, dia berharap semua ini bukan hanya ilusi semata.
"Kau melupakan perbincangan kita tadi malam?"
"Kau ingin aku mengungkapkan semuanya di depan mereka?" Ica tersenyum remeh.
Vio ingin memajukan langkah tetapi lengannya di tahan oleh Alvin.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Violin!" tegas Alvin menatap Vio dengan tajam.
Vio diam saja, lidahnya serasa keluh dan dia tidak bisa mengatakan apa pun.
"Ya, aku rasa dia tidak akan bisa bicara. Baiklah, aku akan memberitahukan buktinya saja karena aku sudah merekam semuanya." Ica tersenyum puas.
Vio mendelik, dia menelan ludah secara kasar.
'Gawat, bagaimana ini?' batin Vio bingung sambil menggigit bibir bawahnya.
Ica mulai memutar rekaman perbincangan mereka tadi malam yang berisi pengakuan dari Vio jika dialah yang sudah mencelakai Ica. Semua orang tercengang begitupun dengan keluarga Vio sendiri.
Vio menggelengkan kepala dengan cepat, dia merebut ponsel Ica dan membantingnya di lantai hingga ponsel itu hancur berantakan. Vio menginjak ponsel Ica hingga tidak berbentuk.
"Dia bohong! Dia itu hanya ingin menghancurkan hari kebahagiaanku dan Alvin. Jangan percaya dengannya!" Vio berteriak sambil menunjuk wajah Ica.
"Jika kau tidak bersalah lalu mengapa kau marah? Dan ponselku, kau harus menggantinya karena telah membuat ponsel itu hancur. Tetapi tenang saja, tidak masalah jika ponsel hancur yang terpenting buktinya masih ada di salinan ponsel lain." Ica lagi-lagi tersenyum hingga membuat Vio kesal.
Alvin mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku membatalkan pernikahan ini!" Alvin berkata tegas hingga membuat Vio melongo.
"Vin, jangan! Aku mohon! Aku sangat mencintaimu, aku tidak hidup tanpamu. Jangan percaya dengan apa yang dia ucapkan, dia itu hanya berkata asal dan rekaman itu. Rekaman itu bisa saja hanya editan agar dia bisa menjelekkan nama baikku." Vio memohon.
"Aku lebih percaya pada Ica dibandingkan kamu!" Alvin melepaskan tangan Vio yang berada di rahangnya.
Vio menangis terisak, dia tidak terima dengan semua ini dan dia mendekati kedua orang tuanya.
"Mam, lihat apa yang Alvin lakukan padaku. Aku tidak bisa menerima ini semua, aku harus menikah dengan Alvin." pinta Vio memelas.
Kedua orang tua Alvin hanya mampu dia menyaksikan semuanya, mereka bimbang harus percaya kepada siapa.
Saat suasana dalam keadaan menegangkan, polisi datang ke rumah itu. Semua orang jadi semakin takut dan merasa jika Vio memang benar-benar bersalah.
__ADS_1
Polisi mengatakan jika mereka membawa surat laporan untuk penangkapan Violin, mereka mau tidak mau menyeret Vio keluar dari rumah meskipun ada sedikit pemberontakan.
Setelah Vio, polisi dan keluarga Violin pergi, Alvin memandang wajah Ica dengan rasa haru. Dia menangkup wajah Ica dan mata mereka saling bertatapan.
"Katakan padaku jika ini semua bukan hanya mimpi." ujar Alvin pelan.
Ica mencubit perut Alvin dan itu dirasakan sakit oleh sang empunya.
"Apa kamu masih merasa jika ini hanya mimpi?" tanya Ica diselingi senyuman.
"Aku bersyukur karena kamu selamat dari tragedi kecelakaan itu, Ica. Aku benar-benar tidak semangat menjalani hariku ketika mendengar berita buruk tentangmu. Kau tidak melihat perubahan bentuk tubuhku? Lihatlah, aku semakin jelek dan kurus. Semua ini karena aku berpikir jika hidup tanpamu sama saja seperti aku serasa mati." Alvin menatap Ica dengan tulus.
"Benarkah? Apa kamu masih mencintaiku?"
Alvin mengangguk. "Aku tidak akan memaksa agar dirimu bisa mencintai aku, dekat denganmu saja membuatku terasa tenang dan nyaman."
Ica tersenyum. "Tetapi aku tidak."
Alvin seketika berubah heran. "Apa yang kamu katakan?"
"Aku ingin menjadi pendampingmu, teman tidurmu, sahabat dekatmu dan orang yang selalu ada disaat kamu membutuhkan apa pun."
Alvin mengerti maksud dari ucapan Ica.
"Apa kamu bersedia menikah denganku?"
Ica mengangguk cepat. "Aku baru menyadari jika selama ini aku sangat mencintaimu, aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
Mereka berdua berpelukan dan keluarga Mahendra ikut tersenyum bahagia.
Saat keduanya diselimuti oleh rasa bahagia, orang tua Alvin tentu merasa keberatan.
"Kami tidak merestui hubungan kalian berdua!" teriak Mama Alvin membuat semuanya terkejut.
Pelukan Alvin dan Ica sontak terlepas, mereka saling menggenggam jemari satu sama lain sambil memandang ke arah Mama Alvin.
"Ma! Apa-apaan ini?" tanya Alvin penuh keheranan.
"Alvin, bukannya Mama sudah mengatakan alasan kenapa Mama tidak merestui hubunganmu dan perempuan itu? Bahkan, Papamu juga keberatan untuk hubungan kalian ini." ucap Mama dengan raut wajah marah.
Alvin melirik Vania. "Mungkin Mama bisa mendapatkan jawabannya langsung dari tante Vania."
Vania terkejut karena namanya di sangkut pautkan.
"Ada apa, Nak Alvin?"
Alvin mulai mengatakan apa yang membuat sang Mama tidak merestui hubungan mereka. Vania mengerti, dia mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi. Vania tidak malu masa lalu nya di dengar oleh banyak orang, ini semua demi kebahagiaan putrinya.
Mama Alvin terdiam, dia seperti sedang berpikir dan mencerna ucapan Vania. Sejenak kemudian, kedua orang tua Alvin menghampiri Ica.
"Ternyata selama ini kami salah sangka." ujar sang Mama dengan nada yang sudah melembut.
"Sudah Alvin katakan jika keluarga Ica tidak seperti yang Mama dan Papa bayangkan."
"Maafkan kami, Nak Ica." Mama memeluk tubuh Ica karena dia benar-benar merasa bersalah.
"Tidak masalah, tante. Saya yakin semua orang akan salah paham dengan kejadian masa lalu di dalam keluarga saya. Tetapi ketahuilah, tante. Bagi kami semua, Elza adalah bagian dari keluarga kami. Kamu tidak pernah membeda-bedakan apa pun darinya." ujar Ica sambil mengurai pelukan.
Elza tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Ica yang tulus untuknya. Vania mendekati Elza, dia tidak bisa terus-terusan menghindari Elza seperti ini.
Mereka berpelukan dengan air mata yang menetes di kedua pipi.
"Mama," lirih Elza sangat merindukan pelukan itu.
"Maafkan Mama, Nak. Mama sangat egois sehingga membuat kamu merasa di asingkan."
"Mama tidak perlu minta maaf, Mama tidak memiliki kesalahan apa pun pada Elza." ucap El memeluk erat tubuh Vania.
Mereka semua larut dalam keharuan dan kebahagiaan.
β’
β’
β’
TBC
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR YUK π€
__ADS_1