Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 43 DTH


__ADS_3

Kedekatan antara Rizi dan Ica semakin berkembang, bahkan mereka sudah saling mengenalkan ke keluarga masing-masing. Keduanya sudah resmi menjadi pasangan kekasih, tak hanya sekali Ica di bawa ke rumah Rizi. Orang tua Rizi sangat baik dan menganggap Ica seperti anak mereka sendiri. Begitupun sebaliknya, Vania dan Robi juga telah merestui hubungan keduanya. Mereka memberikan semua keputusan di tangan Ica karena Ica yang menjalani dan demi kebahagiaan pula.


Saat ini, Rizi dan Ica sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Rizi. Keduanya baru saja pulang dari menonton bioskop, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan Ica berkata tidak bisa lama-lama berada di rumah Rizi.


Setelah mereka sampai, keduanya segera turun dan Ica membawa buah tangan yaitu satu kotak roti.


"Mi! Lihat siapa yang datang!" teriak Rizi ketika berada di dalam rumah.


Mama Rizi— Selena berjalan menuruni anak tangga. Senyumnya terus mengembang ketika melihat wajah sang calon menantu. Ya, mereka akan melangsungkan acara lamaran sekitar dua atau tiga bulan lagi. Para orang tua tidak keberatan, yang penting diantara kedua anak muda tersebut bisa saling menjaga hati masing-masing hingga mereka kelak menikah.


"Calon menantu Mami!" pekik Selena girang, mereka melakukan cipika cipiki.


"Apa kabar, tante?" tanya Ica berbasa-basi.


"Ck, sudah Mami bilang jangan panggil Tante. Panggil saja Mami seperti Rizi memanggil."


Ica mengangguk paham.


"Kalian berdua dari mana?" Selena mengajak Ica duduk di sofa dan diikuti oleh Rizi.


"Kami dari Mall, Ma. Biasa, nonton bioskop."


"Berhubung kalian masih kuliah jadi hanya bisa liburan di dekat sini saja, seperti nonton bioskop dan jalan-jalan biasa. Tetapi, jika nanti kalian sudah lulus kuliah dan menikah maka kalian pasti akan berlibur ke luar negeri, ya berkeliling di semua benua." ucap Selena senang.


"Do'a 'kan saja supaya kami bisa cepat lulus, Mi." sambung Ica sambil tersenyum dan melirik Rizi sejenak.

__ADS_1


"Wah, lihatlah Rizi! Gadismu sepertinya sudah tidak sabar untuk meresmikan hubungan denganmu." goda Selena hingga membuat pipi Ica bersemu merah.


'Dia sangat cantik sekali, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu, Ica. Kamu berharga dalam hidupku, aku jadi tidak sabar untuk menikahimu.' batin Rizi disela-sela lamunannya.


"Mi, Ica hampir lupa. Tadi Ica dan kak Rizi lewat toko roti, Ica membelikan ini untuk Mami." Ica menyodorkan kotak roti tersebut.


Selena menerima dengan hati bahagia. "Terima kasih, sayang. Harusnya tidak perlu repot-repot seperti ini."


Ica hanya mengangguk paham. "Oh ya, Mi. Ica tidak bisa lama-lama karena hari sudah semakin sore, Ica takut jika Mama akan khawatir nantinya karena kami mengatakan akan pulang ke rumah pukul lima sore."


"Ya, sayang sekali. Padahal Mami pengen ngobrol banyak sama kamu." Selena menjadi sedih.


"Sudahlah, Mi. Masih ada waktu dan lain kali Ica pasti akan berkunjung ke rumah ini lagi. Ya 'kan, sayang?"


🌺🌺🌺🌺🌺


Alvin merasa risih karena Emily terus saja mengikutinya, bahkan ketika dia hendak ke kampus sekalipun. Meski dia merasa kesal, tetapi dirinya tetap memendam semua itu.


"Emy, berhentilah mengikutiku!" Alvin menghentikan langkahnya.


Emily hanya tersenyum manis melihat wajah tampan nan kesal milik Alvin.


"Apa kau sudah tidak waras? Aku sedang memarahimu dan kau malah tersenyum seperti ini!" Alvin ingin sekali memukul wajah Emily jika dia tidak mengingat bahwa Emily adalah seorang wanita.


"Kau tampan sekali." ucap Emily dengan senyuman.

__ADS_1


Alvin menepuk keningnya, dia menghela napas dan berbicara kepada Emily.


"Emily, dengarkan aku baik-baik. Aku sama sekali tidak mencintaimu ataupun tertarik padamu. Aku mohon menjauhlah dariku karena aku sudah memiliki calon istri dan tentunya bukan dirimu."


Senyum Emily seketika langsung surut. "Tapi, bagaimana dengan perjodohan ini? Aku, aku tidak bisa jauh darimu, Alvin. Apa aku memiliki kekurangan, hm?"


Alvin menggeleng. "Kau sangat cantik dan sempurna, tapi kau tahu jika cinta itu tidak bisa dipaksa bukan? Jadi aku mohon mengertilah."


Emily terlihat sedih karena Alvin berulang kali menolaknya, dia berlari ke mobil meninggalkan Alvin yang hanya diam mematung.


Alvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa aku salah bicara?" dia mengedikkan bahu dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Alvin tidak peduli jika Emily sakit hati ataupun tersinggung dengan perkataannya, yang terpenting bagi Alvin adalah menjauh dari Emily.




TBC



VISUAL VERONICA (ICA).

__ADS_1


__ADS_2