
Satu bulan kemudian.
Hari pernikahan Alvin dan Vio sudah di tetapkan yakni tiga bulan lagi, Alvin merasa sangat sedih karena dia berpikir jika penantian cintanya selama beberapa tahun ini hancur seketika. Belum sembuh rasa patah hatinya, Alvin pun juga memikirkan tentang keberadaan Ica.
Saat ini dia sedang berada di balkon kamar, menatap langit yang sangat tinggi dan sulit untuk di gapai seperti cintanya kepada Ica. Rembulan malam memantulkan cahaya begitu terang tetapi tidak mampu mencerahkan dirinya yang terus murung dalam kesedihan. Bahkan, Alvin seperti tidak memiliki gairah semangat untuk menjalani kehidupannya. Dia hanya memikirkan tentang Ica sehingga pekerjaannya terabaikan begitu saja.
"Ica, kamu ada dimana? Sampai saat ini pihak berwajib belum bisa menemukan keberadaanmu, apa kamu masih selamat atau—?" Alvin menghela napas sambil menundukkan kepalanya.
Dia tidak akan pernah bisa melupakan Ica, dirinya berharap jika Ica bisa kembali ke dekatnya sebelum dia resmi menikah dengan Vio. Alvin kembali masuk ke dalam kamar setelah dia merasakan udara malak yang semakin dingin, wajar saja karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Sesampainya di dalam kamar, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan mata. Terlintas bayangan Ica di benaknya, tawa yang selalu Alvin sukai, senyum manis Ica pun sangat dia rindukan.
"Andai waktu bisa di putar kembali, aku ingin bisa tetap bersamamu, Ica. Aku berharap kamu baik-baik saja saat ini, meskipun itu mustahil tetapi jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang mustahil." gumam Alvin sambil memejamkan matanya, sesaat kemudian napasnya mulai teratur dan dia tertidur pulas.
Keesokan paginya.
Alvin terbangun dan dia melirik jam weker.
"Ternyata masih pukul lima pagi, aku tidak bisa tidur nyenyak selama belum mengetahui keberadaan Ica."
Dia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, dirinya segera membersihkan diri lalu mulai mengerjakan pekerjaan kantor. Biar bagaimanapun, dirinya harus mengurus perusahaan karena sang Mama sudah memberikan kepercayaan itu kepada Alvin.
Matahari mulai terbit menyinari bumi, cahaya masuk ke dalam kamar Alvin melalui sela-sela tirai jendela. Alvin tidak menyangka ternyata sudah hampir dua jam dia berkutat di depan laptop. Dirinya menutup laptop itu lalu segera berganti pakaian dinas karena sudah pukul tujuh pagi dan waktunya pergi ke kantor.
Setelah bersiap, Alvin keluar dari kamar dengan menenteng tas berisi laptop dan dokumen penting lainnya. Dia melihat orang tuanya sudah berada di meja makan.
"Alvin, sini sarapan bersama, Nak." ucap sang Mama lembut seraya melambaikan tangan .
Alvin hanya terdiam tipis, meski dia kecewa dengan orang tuanya akan tetapi dia tidak bisa membenci begitu saja.
"Ma, Alvin sarapan di kantor saja." ujar Alvin yang tidak selera makan.
"Memangnya kenapa, Nak? Mama gak percaya kalau kamu sarapan di kantor, buktinya waktu itu kamu sakit karena tidak makan dan alasan kamu sudah makan di kantor. Apa sih yang kamu pikirkan, Alvin?"
__ADS_1
"Tidak ada, Ma. Ya sudah, Alvin pamit dulu." Alvin ingin pergi tetapi suara sang Mama berhasil menghentikannya.
"Apa kamu masih memikirkan tentang Ica?"
Alvin diam mematung dan enggan untuk menjawab sang Mama.
"Jawab Mama, Vin! Kamu itu bodoh karena menyiksa dirimu sendiri hanya demi perempuan seperti dia!" ucap sang Mama.
Alvin tetap diam, ini masih pagi dan dia tidak ingin merusak moodnya. Semenjak peristiwa kejadian kecelakaan yang menimpa Ica, Alvin memutuskan untuk pulang ke luar negeri. Dia tahu jika dirinya pasti mau tidak mau harus menerima perjodohan yang sudah orang tuanya sepakati, dan benar saja perkiraannya selama ini.
Alvin pergi dari rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun dan hal itu membuat Mamanya geram.
"Alvin! Dasar, anak itu! Dia sudah dibutakan oleh cinta dan obsesi." Mama kembali duduk di meja makan dengan memangku tangan di kepala.
🌺🌺🌺🌺
Elza sedang berbaring di ranjang, kehidupannya tetap sama seperti dulu akan tetapi sedikit perubahan pada saat dia dan Rizi melakukan hubungan suami-istri. Rizi bersikap lembut dan tidak sekasar dulu, Elza berharap jika semua itu akan memperbaiki hubungannya dengan Rizi.
Elza ingin memejamkan mata karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tetapi suara seseorang membatalkan niat Elza untuk tidur.
Elza berdecak kesal namun dia tetap berniat menghampiri Sisil. Dia berjalan pelan menuruni anak tangga karena perutnya sudah terlihat buncit dan itu menyusahkan Elza untuk berjalan.
Sesampainya di ruang tamu, mata Elza melotot ketika melihat begitu banyak sampah makanan ringan yang berceceran kemana-mana.
"Ya ampun! Sisil, apa-apaan kamu?" tanya Elza sedikit kesal.
Sisil seakan tidak bersalah, dia hanya menaikkan sebelah alis dan memangku sebelah kaki di atas paha.
"Memangnya kenapa? Kau keberatan? Jika kau tidak suka, maka bersihkan sisa sendiri." ucap Sisil enteng tanpa merasa bersalah.
Elza terkekeh geli. "Kau menyuruhku untuk membersihkan sampah makananmu? Apa kau pikir aku adalah pembantu di rumah ini?"
Sisil berdiri dari tempat duduknya, dia melipat kedua tangan di dada dan tersenyum miring.
__ADS_1
''Bahkan kau lebih dari seorang pembantu! Kau adalah pesuruh, kau juga hanya boneka di rumah ini, Elza. Aku kasihan melihat kehidupanmu. Ckckck." ejeknya.
"Seharusnya kau yang malu, Sisil! Kau itu adalah perempuan murahan dan ja*la*ng yang bisanya hanya merusak rumah tangga orang lalu menempel seperti benalu!" Elza melawan ejekan dari Sisil, sudah cukup dirinya diam selama beberapa bulan ini.
"Kau, berani sekali kau bicara seperti itu padaku!" Sisil menunjuk wajah Elza.
Elza mengibaskan jari Sisil dengan kasar.
"Turunkan jari kotormu itu dan jangan pernah berani berbuat kurang ajar denganku! Kau tau, meskipun aku hanya seperti boneka tetapi setidaknya aku masih punya harga diri. Tidak seperti dirimu!" Elza menekan setiap perkataannya.
Sisil terpancing emosi, dia menarik rambut Elza karena merasa kesal dengan sikap El yang menurutnya ssngat sok dan sombong.
El tidak mau kalah, dia menjambak rambut Sisil sambil memegangi perutnya.
Sisil tersenyum licik, dia mendorong tubuh Elza hingga terbentur ujung meja.
"Argh!" teriak Elza mengadu sambil memegangi perutnya.
Dia merasakan perutnya sangat sakit. Bagaimana tidak, Sisil mendorongnya dengan sangat kencang hingga perutnya terbentur ujung meja. Perlahan, tubuh Elza luruh ke lantai, dia melihat ada darah segar mengalir dari pangkal pahanya.
"S—sisil, tolong a—aku." ucap Elza terbata sambil mengatur napas dan menahan rasa sakit yang terus mendera di area perutnya.
Elza mengulurkan tangan agar bisa menggapai Sisil tetapi dengan jahatnya, Sisil memundurkan langkah dan hanya menatap Elza dari kejauhan.
"Mam*pus kau!" ujarnya puas melihat Elza yang menahan rasa sakit seperti itu.
Sisil meninggal Elza sendirian yang sudah terlihat lemas dan akhirnya jatuh pingsan.
•
•
•
__ADS_1
TBC