Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 67 DTH


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, saat ini terlihat ramai di kediaman keluarga Kurniawan. Mereka akan menyaksikan secara langsung acara akad pernikahan antara Ali dan Ica. Namun, ada hal aneh yang terlintas di benak Ica. Dia mengingat pria yang satu bulan lalu dia temui di Mall, sepulang dari Mall, dirinya terus saja memikirkan nama panggilan dan sang pria. Ica juga merasa tidak asing dengan wajah pria tersebut, tetapi entah mengapa dia lupa pernah bertemu pria itu dimana. Bahkan, kepala Ica sampai sakit hanya gara-gara memikirkan hal tersebut.


Ica tidak berani bicara pada kedua orang tua angkatnya tentang keadaan dirinya saat ini. Dia hanya diam dan memendam segala hal yang membuat batinnya tersiksa. Ica terus berusaha mengingat panggilan pria di Mall itu, nama itu tentu saja sangat familiar di telinganya.


Dirinya saat ini sedang duduk di meja rias, dia menatap ke cermin melihat wajahnya yang sudah di make up dan dirinya juga telah selesai bersiap untuk menemui calon suaminya. Tetapi, hati kecil Ica seperti ingin mundur dari pernikahan ini.


"Apa yang sedang aku pikirkan? Ini sudah waktunya aku memenuhi segala ucapanku waktu itu, aku tidak bisa membuat Bunda dan Ayah kecewa begitu saja. Tetapi, aku heran meskipun otak memintaku untuk turun ke bawah namun hati kecilku mencegahku untuk turun ke sana." gumam Ica menjadi bingung, dia mendengar jika di bawah sudah ramai suara para tamu.


Ica melirik jam dinding, tepat pukul sembilan pagi. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Beri aku kekuatan, Ya Allah. Semoga saja semuanya berjalan dengan baik." ucap Ica memanjatkan doa karena pikirannya sedang kacau.


Pintu kamar terbuka, Siksa masuk ke dalam dan dia tersenyum bahagia ke arah Ica. Sesampainya di samping Ica, Siska memeluk tubuh anak angkatnya itu dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, Bunda sebenarnya tidak tega jika kamu harus pergi dari rumah ini." ucap Siska jujur karena dia baru saja bertemu dengan Ica dan merasa jika Aulia ada di rumah ini.


Ica mencoba tersenyum tipis, dia mengelus pundak Siska dengan lembut.


"Bun, jarak antara rumah Bunda dan bang Ali 'kan tidak terlalu jauh. Jadi, Aulia bisa kapan saja berkunjung ke rumah ini. Benarkan?"


Siska mengurai pelukan, dia menangkup wajah Ica dan mengecup dahinya.


"Kamu terlihat sangat cantik, Sayang. Bunda tidak menyangka jika akhirnya Bunda bisa melihat dan menyaksikan secara langsung penikahan kamu." Siska merasa terharu.


"Aulia hanya butuh doa yang terbaik saja dari Bunda."


"Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."

__ADS_1


Keduanya larut dalam kesedihan masing-masing, Siska sangat berat melepaskan Ica yang dia sangka adalah Aulia. Dirinya berpikir jika Aulia baru saja ada bersama mereka beberapa bulan ini tetapi sekarang malah ingin pergi lagi. Namun, Siska tidak bisa mencegah perjodohan karena mereka sudah menyepakatinya.


Bahri masuk ke dalam kamar, dia melihat kedua wanita berbeda usia itu sedang saling tatap penuh kesedihan.


"Hei hei hei, ayolah Istri dan putriku. Semuanya sudah menunggu dibawah dan kalian malah asyik larut dalam kesedihan." goda Bahri kepada kedua wanita kesayangannya.


"Yah, apa kamu tidak sedih akan ditinggal oleh putri kita ini?" rajuk Siska manja.


Bahri terkekeh pelan mendengar perkataan Siska yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Bunda, kita masih bisa bertemu dengan Aulia. Benarkan, Nak?"


Ica mengangguk cepat.


"Baiklah, kalau begitu kita harus segera keluar karena aku tidak ingin semua orang akan pulang ke rumah mereka masing-masing karena terlalu lama menunggu aku." Ica bergurau di sela-sela kesedihan sang Bunda.


Saat Ica menuruni anak tangga, semua mata tertuju padanya. Bagaimana tidak, wajahnya yang biasa polos tanpa make-up sedikitpun kini terlihat lebih dewasa karena make-up pengantin yang menempel di wajahnya. Aura kecantikan Ica terlihat lebih menonjol berkali-kali lipat, bahkan Hanum minder melihat kecantikan dari Ica. Hanum merasa jika Ica lebih cantik daripada almarhumah adiknya yaitu Aulia.


Tak hanya para tamu yang terpaku menatap Ica, tetapi begitu juga dengan Ali. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan istri seperti Ica. Baik, sopan, cantik, dan ramah.


Ali berdiri dari tempat duduknya, kini dia dan Ica saling berhadapan. Mata Ali sama sekali tidak berkedip saat dia melihat wajah Ica dari jarak dekat. Jantungnya berdegup kencang ketika mata mereka saling bersitubruk, Ica tersipu malu karena Ali menatapnya dengan begitu dalam.


"Bang, tolong alihkan pandanganmu. Kamu membuat aku gugup." ucap Ica malu-malu.


"Maaf," jawab Ali sambil menunduk setelah dia mendengar perkataan Ica barusan.


Penghulu mempersilahkan kedua calon pengantin untuk duduk karena akad akan segera dimulai. Umi Ali terlihat bahagia melihat sang putra yang akhirnya akan menikah dengan perempuan seperti Ica. Sejujurnya Umi dan Ali bingung bagaimana nantinya jika Ali resmi menikah dengan Ica sementara Ica hanyalah anak angkat dari Bahri. Mereka tidak berani bertanya seperti itu karena setelah menemukan Ica, Siska sudah memotong sapi sebagai tanda pengangkatan Ica sebagai anaknya. Bahkan, dia mengganti nama Ica dengan Aulia yaitu putrinya yang sudah meninggal dunia.

__ADS_1


Penghulu meminta kepada Bahri agar menjabat tangan Ali begitupun sebaliknya. Setelah keduanya saling berjabat, Bahri mulai mengucapkan kata sakral setelah aba-aba dari penghulu.


"Ananda Ali Ismail bin Abdullah Ismail, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya bernama Aulia Kurniawan binti Bahri Kurniawan dengan mahar satu set perhiasan, uang tunai sebesar sepuluh juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


Kepala Ica tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang tetapi dia mencoba menahannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aulia Kurniawan binti Bahri Kurniawan dengan mahar tersebut tu—"


Brugh!


Perkataan Ijab kabul Ali terpotong karena tubuh Ica ambruk begitu saja di sebelahnya. Semua orang kaget juga histeris padahal sebentar lagi Ali dan Ica akan resmi menjadi sepasang suami-istri.


"Aulia!" teriak Siska kaget dan sontak langsung berdiri dari tempat duduknya.


Kepala Ica berada dipangkuan Ali.


"Aulia, Aulia bangun!" Ali menepuk kedua pipi Ica dengan perlahan namun tidak ada reaksi sama sekali.


Bahri meminta kepada Ali agar membawa Ica ke dalam kamar, sementara dia, dirinya meminta maaf kepada seluruh tamu undangan karena ijab kabul yang tertunda. Beberapa tamu undangan pulang tetapi masih ada juga yang berada di sana. Mereka berbisik karena penasaran dengan keadaan Ica.


Ali meletakkan Ica di ranjang dengan perlahan, dia menatap wajah calon istrinya yang terlihat pucat padahal tadi biasa saja. Semuanya heran sekaligus bingung dengan kondisi Ica saat ini. Bahri memutuskan untuk memanggil Dokter agar datang ke rumah mereka dan langsung memeriksa kondisi Ica.




TBC

__ADS_1


__ADS_2