
Setelah Dokter selesai memeriksa keadaan Ica, akhirnya dia tersadar dari pingsannya. Perlahan, sepasang kelopak mata milik Ica berkedut. Dia pun membuka matanya lebar dan melihat ke seluruh ruangan, Ica memegangi kepalanya yang terasa sakit juga berdenyut. Dia berusaha untuk duduk tetapi Ali segera mencegahnya.
"Aulia! Sebaiknya kamu istirahat dulu,'' ucap Ali sambil memegang bahu Ica.
Ica terdiam ketika melihat pria di depannya saat ini, dia bahkan langsung menatap ke sekeliling yang ternyata disana sudah banyak orang. Ica kaget, dia pun sontak menegakkan tubuhnya tanpa menghiraukan perkataan dari Ali.
"Ada apa ini?" tanya Ica kebingungan.
"Aulia, akhirnya kamu sadar, Nak. Apa kamu lupa dengan yang terjadi padamu tadi? Kamu pingsan dan Bunda sangat khawatir sekali." Siska mendekati Ica, dia memeluk tubuh itu lalu mengecup pucuk kepalanya.
Beberapa bayangan berkelebat di pikiran Ica, dimana dia terjatuh ke jurang dan mobilnya meledak begitu saja. Untungnya dia bisa berhasil keluar dari mobil itu tetapi setelah itu dirinya tidak ingat apa-apa lagi. Ica penasaran kenapa dia bisa berada disini dan bersama dengan orang-orang ini. Namun, Ica dapat menyakini jika selama ini dirinya hilang ingatan.
"Kenapa aku bisa berada disini?"
Pertanyaan Ica membuat Siska yang ada di dekatnya tercengang kaget, Siska takut jika anak angkatnya itu sudah pulih dari hilang ingatan.
"A—apa yang kamu tanyakan, Nak? Tentu saja kamu berada disini karena ini rumahmu. Bahkan, kamu sebenarnya akan melangsungkan ijab kabul dengan Ali."
Ica menatap penampilannya dan dia baru sadar jika dia memang ingin menikah dengan Ali. Kepalanya terus saja pusing hingga dia sulit untuk berpikir jernih. Siska khawatir melihat keadaan Ica, dia meminta kepada semua yang ada di dalam kamar supaya keluar dari sana dan memberikan luang sedikit kepada Ica.
Semuanya pun keluar, yang tertinggal di kamar hanya Siska, Bahri, Umi, dan Ali. Sementara Hanum, Leo sang calon suami dan beberapa sanak saudara lainnya turut keluar dari kamar itu.
"Aulia, kamu baik-baik saja bukan?" tanya Ali secara lembut.
Ica hanya terdiam sambil memandang wajah Ali, dia ingat semuanya dan tidak mungkin baginya menikah dengan Ali sementara dia mencintai pria lain.
"Aku, aku baik-baik saja." jawab Ica.
"Umi, sebaiknya ijab kabul kita tunda terlebih dahulu sambil menunggu keadaan Aulia membaik." ujar Ali kepada sang Umi.
Umi hanya mengangguk dan menuruti ucapan sang putra. Beberapa dengan Umi, Ica justru menggelengkan pelan karena tidak mungkin baginya menikah dengan Ali.
Siska yang menyadari diamnya Ica langsung bertanya, sikap Ica sungguh berubah saat ini.
"Aulia, ada apa, Sayang?''
"Aku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Deg!
__ADS_1
Sontak semuanya diam mematung sambil menatap Ica dengan rasa kaget, Bahri mendekati Ica dan dia duduk di tepi ranjang.
''Aulia, apa maksudmu? Kamu yang sudah mengajukan diri untuk menikah dengan Ali dan sekarang kamu malah ingin membatalkannya? Tamu undangan sudah berkumpul dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk kalian mengucapkan janji suci. Ayah tidak ingin keluarga kita malu, Aulia. Apa yang harus Ayah katakan pada para tamu jika pernikahan ini dibatalkan begitu aja?"
Ali juga tidak mampu berkata apa pun lagi, dia masih setia diam dan menyaksikan pertentangan antara Ica juga Bahri.
"Sebelumnya, nama asliku bukan Aulia tetapi Ica."
Semuanya terperangah, ternyata bener dugaan Siska jika Ica sudah mengingat semuanya.
"K—kamu?"
Ica mengangguk. "Ya, aku sudah mengingat siapa diriku sebenarnya. Maaf karena selama ini aku sudah merepotkan kalian tetapi pada saat aku menerima pernikahan dengan bang Ali, aku benar-benar tidak ingat apa pun."
''Bagaimana bisa kamu mengingat semuanya?" tanya Siska dipenuhi oleh rasa penasaran.
"Satu bulan yang lalu, aku dan kak Hanum pergi ke Mall. Disana kami bertemu dengan pria yang tanpa sengaja menubrukku dan akhirnya menjatuhkan barang-barang belanjaanku. Pada waktu itu, pria tersebut memanggilku dengan sebutan Ica dan aku langsung kepikiran tentang nama itu. Bahkan, aku merasa sangat familiar dengan wajah pria yang menubrukku dan nama Ica itu sendiri." Ica menjeda ucapannya, dia menatap semua yang ada di kamar tersebut. ''Kemudian, aku berusaha keras mengingat semuanya hingga sering kali aku mengalami sakit di bagian kepalaku dan bahkan terjatuh pingsan tanpa sepengetahuan kalian semua. Aku tidak menyangka jika usahaku selama ini membuahkan hasil."
Benar saja, pada saat dia bertemu dengan Davin, dirinya langsung mencari tahu tentang nama Ica di media sosial. Tentu saja banyak sekali nama Ica disana tetapi ada satu hal yang membuat dirinya terkejut yaitu wajah seorang gadis dan mirip sekali dengannya. Ica pun penasaran, dia mulai mencari informasi tentang gadis bernama Veronica Mahendra dan ternyata gadis itu adalah seorang desainer. Seketika, kelebatan bayang samar-samar terlintas di benak Ica yang mana sebuah mobil meledak dengan tragis dan seorang wanita cantik yang kala itu merancang desain baju terbaiknya.
Sebuah ajang fashion show dan itu semakin terlihat jelas hingga membuat Ica beberapakali pingsan namun dalam jangan waktu singkat. Ica terus berusaha mengingat hingga kepalanya terasa ingin pecah, dia tidak memberitahu kepada Siska maupun Bahri tentang hal itu.
''Bunda, aku menghargai semua yang Bunda berikan. Namun, aku tetap tidak bisa menikah dengan bang Ali karena aku mencintai orang lain." Ica merasa bersalah karena dia terlihat mempermainkan perasaan seseorang.
Dirinya menatap Ali dengan sendu, wajah tampan itu tidak terlihat seperti biasanya.
"Maafkan aku, bang. Aku yakin akan ada wanita yang lebih baik daripada aku dan pastinya bisa menjadi pendamping Abang." Ica menatap Ali dengan nanar.
Ali hanya tersenyum tipis, dia mencoba tetap tegar meskipun hatinya merasakan kesedihan yang amat dalam. Jujur saja, terbilang singkat pertemuan mereka tetapi Ali pun bisa cepat mencintai Ica.
Semuanya tidak bisa melakukan apa pun jika sudah terjadi seperti ini. Hanum masuk ke dalam kamar dengan langkah terburu-buru.
''Ayah! Bunda!" panggilnya sambil berjalan cepat ke arah ranjang.
Semua heran melihat raut wajah Hanum yang terlihat gugup, khawatir dan bingung.
"Ada apa, Hanum?'' tanya Bahri.
"Itu, diluar ada beberapa rombongan keluarga tidak dikenal."
__ADS_1
Ica ingin bertanya tetapi Bahri dengan cepat keluar dari kamar disusul oleh semuanya yang merasa penasaran.
Sesampainya di lantai bawah, mereka dapat melihat ada satu keluarga kaya yang sudah menunggu didepan teras. Bahkan, mobil mereka sangat mewah hingga tidak ada tandingannya di desa itu.
"Maaf, kalian cari siapa, ya?" tanya Bahri setelah berhadapan dengan orang tidak dikenal itu.
"Apa benar ini kediaman keluarga Kurniawan?'' tanya Davin penuh kesopanan.
Hanum terdiam karena dia seperti mengenal pria yang berbicara itu, dirinya mencoba mengingat dan pada akhirnya berhasil.
'Pria itu, dia 'kan orang yang pernah bertemu aku dan Aulia sewaktu di Mall.' batin Hanum.
"Ya, benar. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bahri sopan dan ramah, dia tidak tahu jika tamu di depannya ini adalah keluarga dari Ica.
Di dalam kamar.
Ica yang merasa penasaran dengan kejadian di bawah langsung bergegas keluar dari kamar. Dia berjalan dengan perlahan sambil menenteng gaun pengantinnya, kepalanya masih terasa pusing jadi dia harus berhati-hati. Langkah Ica membawanya mendekati kerumunan beberapa sanak saudara. Dia heran apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Robi menatap Bahri dengan raut ramah pula.
"Apa disini ada gadis yang bernama Ica?"
Seketika langkah Ica langsung terhenti saat dia mendengar namanya disebut oleh orang yang sangat dia kenal. Perlahan, senyum Ica mengembang bersamaan dengan tetesan air mata haru.
"Papa!" teriak Ica membuat kerumunan itu seketika bubar dan membentuk jalan untuk Ica.
Vania meneteskan air mata begitu deras, dia tidak menyangka jika dirinya akan kembali bertemu dengan sang putri selama beberapa bulan terpisah.
Ica berjalan menghampiri keluarga aslinya, air mata pun tidak berhenti mengalir akibat kebahagiaan yang tiada tara. Begitu juga Vania, dia berjalan mendekati Ica lalu setelah berhadapan, Vania menangkup wajah Ica dan melihat keadaan Ica yang ternyata baik-baik saja.
"Putriku," lirih Vania disela-sela Isak tangisnya.
Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu yang selama ini terpendam. Semuanya larut dalam kesedihan melihat reaksi Ibu dan anak itu.
•
•
•
__ADS_1
TBC