
Ica menatap Rizi dan Elza secara bergantian, matanya terhenti ke pakaian yang berserakan dilantai seperti habis datang ****** beliung.
"Apa ini?" tanya Ica pelan, namun tidak ada jawaban. "Kalian tidak ingin menjawab pertanyaanku?"
Elza sudah terisak, dia menangis ketika melihat wajah sedih dari Ica. Dirinya yakin jika sang kakak sangat terpukul dengan kejadian ini, suatu peristiwa yang tidak terduga.
"Kak, ini semua salah paham." ucap Elza pelan diselingi isa tangis.
"Salah paham? Apa maksudnya, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri dan kamu mengatakan salah paham?" Ica menekan setiap katanya.
"Kak, aku bisa menjelaskan ini semua. Kami—" ucapan Elza terhenti karena Ica mengangkat sebelah tangannya, dadanya sangat sesak melihat kebenaran yang telah terjadi.
"Kita lanjutkan dirumah. Kak Rizi, kamu juga harus ikut dengan kami. Aku akan menunggu kalian berdua dirumah.'' Ica segera pergi dari kamar tersebut.
Rizi menatap Elza dengan kebencian, dia segera menarik selimut tanpa mempedulikan keadaan Elza yang tidak memakai sehelai benang pun.
Setelah selesai, keduanya segera pergi dari apartemen itu. Rizi meminta kepada Elza agar dia memesan taksi online karena Rizi tidak akan mengantarkannya pulan meski tujuan mereka sama.
Di dalam mobil, Ica menangis sejadi-jadinya. Dia menghentikan laju mobil dengan deraian air mata.
"Hiks, sesak sekali rasanya." ucap Ica pelan sambil menangis dan memukul dadanya.
"Apa kurangnya aku sehingga kak Rizi melakukan hal nekad seperti ini." Ica menunduk, sebelah tangan dia gunakan untuk mencengkeram stir mobil dengan erat.
"Sebentar lagi pernikahan kami akan diselenggarakan dan jika sudah terjadi hal seperti ini maka apa lagi yang harus dilakukan?" Ica memuaskan tangisan terlebih dahulu lalu setelah lelah menangis, dirinya segera menghapus air mata dan melajukan mobil ke arah rumah.
Beberapa menit dalam perjalanan, Ica akhirnya sampai di rumah. Dia turun dari mobil dengan wajah sembab dan mata memerah, dirinya berjalan masuk ke dalam rumah dan akan menunggu Rizi juga Elza. Dia ingin tahu apa penjelasan dari keduanya.
Vania yang kala itu sedang membaca majalah perhiasan langsung meletakkan majalah tersebut, dia menatap Ica yang masuk ke dalam rumah tanpa menyapanya.
"Ica sayang!" seru Vania menghentikan langkah Ica yang ingin berjalan menapaki anak tangga.
Ica menoleh kebelakang guna melihat sang Mama, dia tersenyum tipis dan tujuannya saat ini adalah masuk ke dalam kamar, membasuh wajah, lalu berganti pakaian. Namun, baru juga membalikkan badan, Rizi dan Elza ternyata sudah sampai di rumah.
"Kak!" teriak Elza penuh rasa bersalah.
Ica melangkah turun dari tangga, dia mendekati Elza dan Rizi.
"Ayo duduk, kita akan membahasnya sekarang juga." ucap Ica membuat Vania heran.
"Sayang, apa yang terjadi? El, kamu dari mana? Kenapa bisa bersama dengan Rizi?"
"Jelaskan pada Mama apa yang sudah terjadi dan kalian lakukan!" ujar Ica tegas.
__ADS_1
Elza menunduk malu sementara Rizi menatap wajah Ica dengan kesenduan.
"Ca, lupakan saja kejadian ini. Aku sangat mencintaimu, bukankah kita akan segera menikah, hm?"
"Pernikahan dibatalkan!" tukas Ica serius.
"Apa!" keputusan Ica membuat Vania terkejut. "Nak, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu ingin membatalkan pernikahan ini? Semuanya sudah delapan puluh persen selesai, tinggal masalah catering dan hiburan saja." Vania menatap mereka semua yang hanya diam.
"Apa kalian semua hanya ingin berdiam diri? Tidak ada yang berniat untuk menjawab pertanyaan Mama?" lanjutnya bingung.
"Ma, maafkan aku." Elza menitikkan air mata.
"Ada apa, Elza? Ayo jelaskan pada Mama apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Elza terus menangis. "Kak, kak Rizi sudah merenggut kegadisanku."
Plak!
Sontak satu buah tamparan langsung mendarat di pipi Elza, Vania menatap Elza dengan mata tajam.
"Apa yang kamu katakan, Elza? Lelucon apa ini?"
Elza bersimpuh di bawah kaki Vania. "Ma, aku mohon maafkan aku. Ini semua tidak sengaja, pada malam itu—" dia menceritakan semuanya yang terjadi malam itu.
"Kalian tega mengkhianati putriku, hah!" Vania marah besar, dia tidak terima dengan hal yang terjadi pada putrinya.
"Rizi, apa feelingmu tidak menyadari jika wanita yang ada bersamamu adalah perempuan lain dan bukan Ica? Kalian benar-benar keterlaluan." Vania menitikkan air mata, dia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Ma, Caca mohon Mama jangan menangis." Ica pun ikut terbawa suasana, hatinya memang sakit tetapi dia tetap berusaha untuk tegar.
Vania melirik Ica, dia bisa melihat betapa sedihnya hati sang putri.
"Nak, kenapa kamu berpura-pura kuat seperti ini? Mama bisa merasakan apa yang kamu rasakan sekarang, Nak." Vania memegang pundak Ica.
"Ma, semuanya telah terjadi dan nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain merelakan dan mencoba tetap tegar menghadapinya. Caca bukan wanita lemah, Ma." Ica menangis di dalam pelukan Vania.
Keduanya larut dalam tangisan begitupun dengan Elza, dia merasa bodoh karena bersikap baik dengan cara mengantarkan Rizi ke apartemennya.
"Ini semua salah aku," ucap Elza lirih.
"Benar, ini semua adalah salahmu!" bentak Vania kala dia mengingat kejadian serupa di masa lalunya sesuatu Alex mengkhianati dia dan memilih Adiba.
"Kau sama seperti ibumu yang merebut pasnagan orang lain! Darah pelakor memang sudah mendarah daging di dalam diri kalian dan sekarang masa laluku terjadi kembali!" Vania mulai mengungkit masa lalu Adiba, dia benar-benar terpancing emosi saat pengkhianatan kedua orang yang disayang berkelebat begitu saja dibenaknya.
__ADS_1
"Ma," peringatan dari Ica diselingi gelengan kepala.
"Biarkan saja, Ica! Biar dia tahu siapa sebenarnya dia di dalam keluarga ini." teriak Vania memenuhi seluruh penjuru rumah.
"Maksud Mama apa? Aku, apa aku bukan anak kandung Mama?" Elza tidak tahu menahu tentang masa lalunya, dia hanya tahu jika Mamanya adalah Vania dan Papanya Robi.
"Ya, kamu adalah anak seorang pelakor! Ibumu sudah mengambil suamiku dan aku masih berbesar hati membiarkanmu dengan kasih sayang juga cinta sepenuhnya! Aku tidak pernah pilih kasih dalam hal kau dan Ica, aku menganggap kalian berdua sama yaitu anakku! Tetapi ini balasanmu untuk putriku, hah? Jawab Elza, jawab!" teriak Vania hingga urat lehernya menegang.
Elza hanya bisa menangis dan terus menangis.
"Ma, maafkan aku. Aku, aku tidak akan menikah dengan kak Rizi." Elza pun memutuskan untuk mengalah.
Vania terkekeh hambar. "Tidak ingin menikah? Kau yakin? Bagaimana jika dirimu hamil? Apa kau akan membesarkan anakmu sendiri? Apa kau tidak memikirkan cibiran buruk dari masyarakat sekitar? Mereka pasti akan berkata jika kau hamil tanpa seorang suami. Kau tidak memikirkan dampaknya, Elza," Vania tetap tidak bisa mengendalikan emosi meskipun kejadian satu malam itu tidak disengaja.
Situasi semakin mencekam, Ica hanya menyimak pembicaraan yang semakin memanas itu.
"Ma, aku bisa menggugurkan bayiku, yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan kak Ica dan kalian semua tidak membenciku." Elza pun pasrah.
"Ide gila apa itu, Elza? Biar bagaimanapun saat ini aku tidak akan mau menikah dengan kak Rizi. Dan kak Rizi, kamu harus menikahi Elza secepat mungkin." Ica akhirnya memutuskan hal yang sangat berat baginya, melepaskan seseorang yang dia cintai tentu saja itu adalah hal sulit.
"Tapi, Ca—"
Ica menggeleng. "Please,"
Rizi menatap Ica dengan nanar, dia tidak sanggup hidup tanpa Ica. Seorang gadis dan cintanya setelah almarhum sang kekasih, Rizi sulit untuk membuka hati tetapi ketika bertemu dengan Ica dirinya langsung jatuh cinta.
Ica bergegas pergi meninggalkan semuanya, dia ingin menangis di dalam kamar. Dirinya perlu menenangkan pikiran.
Rizi ingin mengejar Ica tetapi langkahnya terhenti oleh suara Vania.
"Berhenti dan jangan pernah dekati putriku! Kau tidak pantas untuk anakku, kalian berdua sama-sama pengkhianat dan cukup membuat putriku sakit hati." Vania pergi dengan membawa emosi yang memuncak, dia masih ingin banyak memaki Elza tetapi semua itu dia urungkan karena tidak ingin menyakiti dirinya sendiri.
Di dalam kamar.
Ica mengunci pintu, dia menatap ke arah bingkai foto yang terdapat dirinya juga Rizi sedang tersenyum bahagia.
"Bahkan kita sudah melakukan foto prewedding, semuanya sudah oke tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan ijab kabul. Tetapi kenapa semuanya seperti ini? Kenapa harus aku yang merasakan hal ini? Mengapa harus Elza, kak Rizi?" Ica terisak dengan memeluk lututnya sendiri, tangisannya pecah begitu saja karena perjuangan cinta selama tiga tahun lebih ini berujung sia-sia dan kesedihan.
•
•
TBC
__ADS_1