Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 23 DTH


__ADS_3

Malam harinya.


Saat ini giliran Alex bermalam bersama dengan Adiba, dia menatap Adiba yang kala itu memakai gaun malam cukup seksi. Ya, semuanya adalah ide dari Vania bahkan Vani meminta agar Adiba mencampurkan sesuatu yang sedikit memabukkan di dalam minuman Alex. Awalnya Diba menolak tetapi Vania terus meyakinkannya. Sebagai lelaki normal, tentu saja Alex tergiur dengan santapan segar di depan matanya. Namun, dia mencoba memendam itu dan tidak ingin lepas kendali.


"Mas," panggil Adiba sambil berjalan duduk di ranjang sebelah Alex.


Alex hanya menoleh sejenak. "Kenapa kamu harus memakai pakaian seperti itu? Apa kamu sengaja ingin menggodaku?"


Adiba menyodorkan segelas minuman. "Minum dulu, aku yakin kamu pasti lelah karena baru saja selesai mengerjakan tugas kantor."


Tanpa curiga, Alex meminum kopi buatan Diba dan entah mengapa kepalanya langsung pusing. Berulangkali Alex mengedipkan mata dan Diba yakin jika obat perangsang itu sudah menyatu di dalam tubuh Alex.


"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Diba dengan memegang pundak Alex.


Alex hanya mengangguk. "Adiba, aku malam ini akan tidur bersama dengan Vania. Tidak masalah 'kan?" lanjutnya sambil menahan rasa panas di area tubuhnya.


"Kenapa, Mas? Bukankah malam ini jatah tidurmu dengan aku?" Adiba memasang wajah melas.


"Diba, ini sulit untuk dikatakan. Aku—" Alex segera membuka pakaiannya karena dia benar-benar tidak tahan untuk menyenangkan senjatanya.


Adiba menelan ludah dengan kasar, dia sangat gugup karena wajah Alex terlihat memerah.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa? Apa—" ucapan Adiba terpotong dan berganti gumaman.


Alex dengan sergap langsung merampas bibir mungil milik Adiba, dia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan diri apalagi saat melihat tubuh seksi Diba yang terpampang jelas di depannya. Adiba menerima ciuman itu, dia bahkan membalas me****** bibir Alex yang terasa sangat manis. Alex sendiri semakin memperdalam ciuman itu, napasnya tidak bisa di atur sebab dia sedang dalam mode on. Adiba sampai kewalahan mengimbangi permainan Alex.


Saat ini Alex sudah bertelanjang dada, dia dengan cepat melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Adiba hingga terlihatlah tubuh indah nan mulus itu, bahkan gunung disana melebihi milik Vania. Alex buta mata, dia dengan cepat memainkan semua yang ada di sekujur tubuh Adiba hingga bunyi e*rangan terdengar dari mulut Diba.


Dia tidak bisa lagi menahan dan mengambil alih permainan, dirinya ingin memuaskan Alex dan ingin melayani lebih dari Vania.


Dua jam berlalu, mereka berdua tergeletak lemas di atas ranjang dengan napas memburu. Alex langsung memejamkan matanya karena dia sangat lelah setelah berulangkali menembakkan lahar panas di rahim Adiba.


Adiba menatap wajah tampan yang di penuhi dengan peluh itu, perlahan tangannya terulur dan menyentuh dada bidang Alex.


"Permainan yang sangat baik, aku yakin selama ini pasti Vania sangat terpesona dengan cara bermainmu." ucap Adiba tanpa rasa malu, dia memeluk tubuh Alex dan terlelap begitu saja.


Robi berjalan masuk ke dalam rumah megah bak istana dongeng, dia mengedarkan matanya ke seluruh penjuru rumah. Dirinya meyakinkan jika semua orang di rumah itu sudah tidur.


Sesampainya di depan pintu kamar, Robi pun ingin masuk tetapi suara seseorang menghentikannya.


"Robi!" panggil wanita paruh baya sambil berkacak pinggang, wanita itu telah berada tak jauh dari depan pintu kamar Robi.


Robi menoleh, dia menghela napas pelan.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu ini?" ucap sang wanita tua itu.


"Ada apa sih, Mam? Anak baru pulang bukannya di sambut dengan senyuman tetapi malah langsung di todong pertanyaan, bahkan pertanyaan itu aku tidak tahu apa maksudnya." ucap Robi santai.


"Kenapa kamu menolak ajakan makan malam dari Violin? Apa kamu sudah tidak waras?"


"Ya! Aku tidak waras, bukankah aku sudah mengatakan pada Mama jika aku tidak ingin dijodohkan dengan Vio?" Robi pun menjadi kesal padahal dia sangat lelah karena baru saja pulang dari kantor.


"Apa sih kurangnya Violin? Dia itu cantik, baik, anak orang kaya, terus apalagi yang kamu cari?" Mama Robi— Musti ikut terpancing emosi.


"Apa Mama lupa hanya ada satu nama dihatiku? Mama melupakannya?" Robi menatap sang Mama.


"Vania, iya? Sampai kapan kamu menunggu dan mencari gadis itu? Belum tentu dia mengingat kamu dan barangkali dia sekarang sudah berkeluarga. Mama menjodohkanmu dengan Vio itu semua demi kebaikan dan kebahagiaan kamu, Nak."


"Aku tidak peduli jika Vania sudah berkeluarga, intinya aku hanya mencintai Vania. Hanya Vania! Dan satu lagi, jika Mama ingin melihat aku bahagia maka harusnya Mama memberikan aku kesempatan untuk mencari pasangan sendiri yang sesuai dengan kriteriaku." Robi langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan seruan dari Musti.


"Anak itu benar-benar susah diatur!" Musti pergi dari sana.


Dia sebenarnya setuju jika Robi menikah dengan Vania, tetapi dirinya berpikir lagi jika sudah hampir bertahun-tahun Vania dan Robi tidak bertemu bahkan mereka sudah putus kontak. Musti hanya tidak ingin putranya sakit hati karena tidak bisa menggapai sang pujaan hati.


__ADS_1



TBC


__ADS_2