
Kehidupan adalah sebuah takdir dimana kita akan menjalani apa yang telah Allah rencanakan untuk kita ke depannya. Tak terasa dua tahun sudah berlalu dengan cepat dan membuat tiga sahabat yaitu Ica, Alvin, Elza, harus berpisah ketika mereka menyandang status tamat dari pakaian putih abu-abu. Alvin mengikuti kedua orang tuanya pergi ke luar negeri, dia meminta agar dirinya melanjutkan kuliah di kota itu tetapi orang tua Alvin tidak mengizinkan karena mereka akan menetap di London.
"Aku akan melanjutkan sekolah di London, aku harap takdir akan kembali mempertemukan kita suatu saat nanti." ucap Alvin ketika dia berpamitan kepada Ica dan Elza.
Elza menangis, dia memeluk Alvin dengan erat. Dirinya benar-benar tidak sanggup berpisah dengan sahabat terbaiknya, seorang teman yang selalu mengerti dia dan tahu akan sifatnya. Sementara Ica, dia bersikap biasa saja dan mendoakan kepada Alvin agar berhasil di negeri orang.
"Kenapa kamu meninggalkan aku? Vin, apa kamu tidak bisa melanjutkan pendidikan di kota ini saja? Beritahu pada orang tuamu jika kamu tidak mau pergi ke luar negeri." Elza meminta dengan cara memohon, dia tidak ingin melepaskan Alvin.
"El, aku sudah mengatakan semua itu kepada orang tuaku tetapi mereka tidak mengizinkan karena kami akan menetap di London. Kemungkinan besar kami tidak akan kembali lagi ke sini, atau ya bisa saja membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa berkunjung ke Indonesia." jelas Alvin perlahan, dia menangkup wajah Elza. "Kenapa kamu harus menangis? Hei, itu sangat jelek. Ayo, hapus air mata itu dan tersenyumlah." pintanya tulus.
"Kamu jahat!" sentak Elza sambil kembali memeluk tubuh Alvin.
"Vin, aku harap kamu akan berhasil di negeri orang nantinya. Jadilah teman yang bisa kami banggakan dan jangan pernah melupakan kami." Ica berucap lembut.
Ica ingin pergi meninggalkan Alvin dan Elza, dia akan memberikan waktu luang kepada keduanya karena Ica tahu jika hubungan persahabatan antara Alvin dan Elza sangatlah dekat. Namun, ketika dia hendak melangkah, Alvin menarik tangannya hingga membuat Ica menghentikan langkah.
"Terima kasih untuk doanya, aku pasti tidak akan melupakan kalian berdua dan aku berjanji akan serius belajar supaya bisa cepat menyandang gelar sarjana."
'Aku ingin cepat-cepat kembali ke negara ini dan melamarmu.' batin Alvin.
Ica hanya tersenyum tipis.
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Matahari terlihat sudah menampakkan wujudnya, sinarnya menyorot masuk ke dalam bilik milik kedua gadis cantik Ica dan Elza. Kakak-beradik itu mengerjapkan mata mereka dengan perlahan ketika ekor mata melihat sedikit sinar mentari. Kelopak mata Ica terbuka sempurna, dia melihat alarm yang ada di meja lampunya.
"Astaga, sudah siang!'' pekiknya terkejut ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan siang.
Ica bergegas bangun dari tempat tidur, dia kemudian berlari ke ranjang Elza.
"El, Elza! Elza bangun! Apa kamu tidak ingin pergi ke kampus?"
"Eugh," hanya terdengar lenguhan kecil dari mulut Elza, dia menggeliat sejenak untuk melemaskan otot-otot tubuhnya.
"Ayo segera bersiap, aku ada kelas pagi hari ini." Ica pergi ke kamar mandi terlebih dahulu.
Elza membuka kelopak matanya, dia melirik jam dan matanya langsung melotot sempurna. Dia mengucek mata untuk memastikan jika angka yang dia lihat tidak salah.
"Ya ampun, sudah siang. Kakak! Ayo cepat, aku juga harus segera mandi!" teriak Elza dengan kencang dan mendapatkan sahutan dari Ica.
"Ck, ada-ada saja." decaknya kesal.
Dimeja makan sudah ada Vania, Robi dan Riko, putra tunggal di keluarga itu. Vania menggeleng melihat kelakuan kedua putrinya.
"Kalian masih ingat pendidikan?" tanya Vania ketika Ica dan Elza sudah sampai di meja makan.
"Maaf, Mam. Kami berdua kesiangan," sahut Ica merasa bersalah karena memang Vania membiasakan mereka bangun sendiri.
__ADS_1
"Ayo, cepat sarapan agar tidak terlambat sampai di kampus." sambung Robi ketika melihat wajah putrinya yang sendu sementara Elza biasa saja.
Kedua kakak-beradik itu pun mulai sarapan dengan sedikit cepat.
Sesudah selesai sarapan, mereka segera berpamitan pada Vania dan Robi.
"Mam, Pa, kita berdua pamit dulu, ya?" Ica mencium takzim punggung tangan Robi dan mengecup pipi Vania, hal itu diikuti oleh Elza .
"Hati-hati dijalan, jangan kencang-kencang menyetir mobilnya." peringatan dari Vania untuk Ica.
Ica mengangguk, selama masuk kuliah ini, Vania dan Robi membiarkan putri mereka membawa mobil sendiri.
"Gembul, kakak duluan, ya? Kamu yang pinter belajarnya." Ica dan Elza mengecup pipi Riko.
Riko menghapus bekas ciuman itu, dia tidak suka dicium karena merasa sudah besar.
"Aku sudah besar, jangan memanggilku gembul." rajuknya dengan mengerucutkan bibir.
Ica dan Elza hanya tertawa bersamaan lalu mereka berlari kecil keluar dari rumah.
Riko saat ini sudah masuk ke sekolah menengah pertama, dia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya dan juga kedua kakaknya.
•
__ADS_1
•
TBC