
Malam ini Alex memutuskan untuk tidur bersama dengan Vania, dia sangat merindukan malam ini. Senyuman di kedua sudut bibirnya terus terpatri, dia seperti sudah lama tidak bertemu dengan Vania. Alex terus memeluk tubuh Vania dengan erat, dia bahkan tidak henti-hentinya mengecup dahi Vani.
"By, kamu kenapa?"
"Aku sangat merindukanmu, satu malam tidak tidur bersamamu saja rasanya berat sekali." Alex menghela napas.
"Kamu bisa aja," Vania membalas dengan tawa kecil.
Dia teringat jika dirinya harus mengatakan tentang hubungan Adiba dan Alex.
"By, kenapa kamu dan Diba belum melakukannya?"
Alex sedikit mengurai pelukannya untuk bisa menatap Vania.
"Melakukan apa maksud kamu?"
"Hubungan suami-istri, bagaimana bisa kita mempunyai keturunan jika kamu dan Adiba tidak segera melakukannya?"
Alex melepaskan pelukan itu, dia memejamkan mata dengan mendongak.
__ADS_1
"Bisa tidak jangan membahasnya terlebih dahulu? Van, malam ini hanya milik kita berdua dan jangan membahas orang lain." ujar Alex dengan nada suara lembut agar Vania tidak tersinggung.
"Baiklah, maafkan aku." balas Vani pasrah.
"Aku belum bisa melakukan itu karena aku selalu teringat dirimu,"
"By, aku yang meminta kamu menikah dengan Adiba dan itu tandanya aku sudah ikhlas, ini semua demi kebaikan kita bersama." Vania tetap kekeuh.
Alex hanya diam, dia tidak berniat sedikit pun untuk membalas perkataan Vania, dirinya merebahkan tubuh dan mulai memejamkan mata.
"By, kamu marah ya? Maaf jika aku salah." Vania memasang wajah sendu dan penuh penyesalan.
Vania merebahkan diri di samping Alex, dia memeluk pinggang Alex dan ikut memejamkan matanya. Sementara Alex, dia sedikit membuka mata untuk memastikan Vania sudah tertidur atau belum. Niat hati ingin menenangkan pikirannya malah semua menjadi terbalik. Ucapan Vania selalu terngiang di benak Alex, apakah dia harus melakukannya dengan Adiba secepat mungkin?.
🌺🌺🌺🌺🌺
Di sudut lain, seorang pria tampan berusia sekitar tiga puluh dua tahun tengah duduk di kursi kebesarannya. Dia memegang bingkai foto dan disana terdapat dirinya yang masih memakai pakaian putih abu-abu bersama dengan gadis remaja berpakaian putih biru. Pria tersebut tersenyum sendiri kala dia mengingat masa lalunya saat duduk di bangku menengah atas, sekarang gadis di dalam bingkai foto itu entah dimana rimbanya.
"Meskipun aku saat ini tidak bersamamu dan tidak tahu dimana tinggalmu tetapi sejarah kita selalu ada di hatiku." gumamnya mengelus bingkai.
__ADS_1
Gadis cantik berpakaian seragam putih biru itu adalah Vania Larissa. Dia adik kelas pria tampan bernama Robi Mahendra yang saat ini perusahaan cabangnya ada dimana-mana. Robi masih menyandang status lajang, dia dulu sangat menyukai Vania tetapi tidak berani mengungkapkan perasaannya. Robi lebih memilih menjaga pertemanan dibanding melibatkan perasaan asmara.
Saat ini Robi tinggal di luar negeri, dia sudah ada disana selama hampir enam tahun. Sementara perusahaan yang ada di Indonesia, dia percayakan kepada pamannya.
Ting!
Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau dan Robi segera melihatnya.
[Kak, apa kita bisa makan malam bersama hari ini?]
Robi memijit pelipisnya, dia benar-benar heran dengan wanita satu ini yang selalu saja mengejarnya padahal dia sudah berkata menolak perjodohan. Dirinya tidak membalas pesan dari wanita itu, dia lebih memilih menatap bingkai fotonya dan juga Vania.
"Semoga kelak takdir bisa mempertemukan kita kembali, Vania." gumam Robi.
•
•
TBC
__ADS_1