Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 25 DTH


__ADS_3

Alex dan Vania memperlakukan Adiba dengan sangat special, mereka bahkan tidak mengizinkan Adiba untuk bekerja berat karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya. Adiba merasa semua itu berlebihan tetapi bagaimana pun dia harus memahami kemauan sepasang suami-istri istri yang sedang menjaga perkembangan bayi mereka. Adiba saat ini sedang duduk di kursi meja rias, dia menulis sesuatu di buku harian miliknya.


'Jujur aku tidak sanggup jika membayangkan harus menyerahkan anak kandungku agar di urus oleh orang lain meski dia itu sahabatku dan aku mengenalnya sejak lama. Tetapi perjanjian itu sudah deal, aku tidak bisa lagi mundur. Hanya saja, sekarang aku sudah merasakan benih-benih cinta yang tumbuh begitu saja untuk Mas Alex. Perlakuannya sangat manis sehingga aku sulit untuk mengendalikan hatiku, bagaimana dengan Mas Alex? Apa dia juga mencintaiku? Aku ingin meminta maaf kepada Vania karena sudah berani mencintai suaminya dalam diam dan maaf kalau aku akan merebut hati suamimu. Terserah kamu mau mengecap aku sebagai wanita apa tetapi yang ku butuhkan hanyalah kebahagiaan.'


Adiba menutup buku hariannya, dia menyimpan di bawah buku-buku lain yang ada di laci meja hias. Entah apa yang Adiba pikirkan sehingga dia ingin mengambil suami sahabatnya. Suara ketukan pintu terdengar, Adiba segera membuka pintu itu dan dia tersenyum ketika tahu siapa yang sudah berdiri tegap di ambang pintu.


"Mas,'' sapa Diba penuh kelembutan.


Alex tersenyum, dia masuk ke dalam kamar diikuti oleh Adiba setelah menutup pintu.


"Diba, aku membawakan segelas susu hangat untukmu. Ayo diminum," Alex menyodorkan gelas berisi susu, Adiba pun langsung menerimanya.


"Terima kasih." sahut Adiba.


"Oh ya, kamu hari ini ke pengen makan apa? Katakan saja, aku akan mencarinya untukmu." tawar Alex.


"Aku, aku hanya ingin kamu selalu ada di dekatku, Mas." ujar Diba dengan berani.


Alex seketika mematung, dia heran dengan jawaban dari Adiba tetapi sedetik kemudian dirinya tersenyum karena merasa semua itu adalah bawaan sang calon bayi.


"Baiklah, aku akan selalu ada bersamamu." balas Alex menenangkan hati Adiba.

__ADS_1


Pintu terbuka begitu saja dan Vania masuk ke dalam kamar mendekati keduanya, dia duduk di tengah-tengah menyebabkan jarak antara Alex dan Adiba.


"Diba, berhubung kamu sedang hamil maka aku minta agar kamu dan Alex tidak lagi melakukan hubungan badan. Kamu masih ingat dengan rencana dan janji yang sudah kita buat bukan?" Vania menatap Adiba, dia tidak ingin lagi berbasa-basi.


Biar bagaimanapun Alex adalah suaminya dan dia tidak akan membiarkan Alex sangat dekat dengan wanita lain.


Adiba mengangguk pasrah, dia melirik Alex yang ada di samping Vania. Begitupun dengan Alex, ternyata dirinya sedikit keberatan dengan perkataan Vania barusan tetapi dia tetap menjaga hati istri pertamanya.


'Aku tidak bisa janji, Vania.' batin Adiba yang memang memiliki hormon sek*sual sedikit tinggi.


Vania mengelus perut Adiba, dia bahagia karena akhirnya akan segera mengurus anak bayi.


🌺🌺🌺🌺


"Vania Larissa? Desainer ternama yang namanya sudah dikenal sejak beberapa tahun silam kini kembali lagi mengembangkan butiknya yang sempat dia tinggalkan setelah menikah." gumam Robi sedikit terkejut.


"Itu artinya, Vania memang sudah berkeluarga?" Robi seperti putus asa, dia meletakkan majalahnya dan berdecak kesal. "Baiklah, kalau begitu aku tunggu jandamu." lanjutnya bertekad, Robi memutuskan untuk mencari informasi tentang kehidupan Vania.


Seorang wanita cantik yaitu Vio berjalan dengan anggun menghampiri Robi, dia tersenyum manis.


"Pagi, calon suamiku." sapa Vio diselingi senyum manis.

__ADS_1


Robi melirik Vio dengan malas, bahkan dia memutarkan bola matanya jengah.


"Mau apa kamu datang ke rumah ini?"


Tanpa permisi, Vio duduk di kursi yang berseberangan dengan Robi.


"Apa kamu lupa ini hari apa, Honey? Tentu saja aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan keluar." ucap Vio manja.


Robi yang memang sedang dalam mode galak dan emosi langsung menggebrak meja.


"Aku sedang tidak mood bercanda, Vio! Pergilah dan jangan menggangguku! Kamu ini seperti perempuan murahan, yang sudah di tolak tetapi tidak punya malu dan tetap mengejarku! Sudah berapa kali aku katakan jika aku tidak akan mau dijodohkan denganmu!" Robi berteriak dan menunjuk wajah Vio.


Vio tidak terima, dia menggeleng dan ikut berdiri berhadapan dengan Robi.


"Apa sih kurangnya aku, hah! Kenapa kamu terus-menerus menolakku, apa aku ini jelek? Aku sangat mencintaimu tetapi kenapa kamu tidak pernah sedikitpun membuka hatimu untukku? Kenapa, Robi." lirih Vio sambil menitikkan air mata, kesabarannya juga telah habis.


"Pergilah!" usir Robi dengan nada datar.


Violin pergi dari sana, dia berlari dan menangis sejadi-jadinya. Jelas sakit di bentak seperti itu dan di anggap murahan oleh pria yang dia cintai.


__ADS_1



TBC


__ADS_2