Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
BAB. 30 DTH


__ADS_3

Robi melongo ketika dia melihat seseorang yang saat ini ada di hadapannya, dia mengenal manik mata dan tatapan itu dari dulu. Wajah wanita di depannya ini juga sangat familiar hingga membuat Robi tidak bisa berkutik.


"Maaf, Tuan. Silahkan duduk!"ucap Vani ramah dan tidak mengenali Robi.


Robi pun berpikir jika wanita di depannya ini bukanlah Vania sahabatnya dulu karena Vani adalah seorang desainer dan bukan pemilik perusahaan.


'Apa dia Vania si Varsa?' batin Robi terus menduga.


Vania heran dengan pria di depannya saat ini, dia melambaikan tangan tetapi mata Robi tetap tidak berkedip sama sekali.


"Tuan, Tuan!" ucap Vani sedikit berteriak barulah Robi tersadar.


"Ya!" refleks Robi langsung menjawab. "Maaf, saya sedang berpikir jika Anda—" ucapannya terpotong karena melihat bingkai foto yang ada di atas meja Vania.


'Foto itu—'


Robi akhirnya memutuskan untuk bertanya agar rasa penasaran itu terjawab.


"Maaf, Nyonya. Apa itu foto Anda?" Robi menunjuk foto gadis memakai baju sekolah menengah pertama yang sedang tersenyum bahagia bersama kedua orangtuanya.


"Ya, itu foto saya waktu pertama kali masuk ke sekolah menengah pertama. Kedua orang tua saya masa itu ingin pergi ke luar negeri dan tidak bisa melihat saya pertama kali masuk sekolah menengah pertama, lalu mere—"


"Kamu, Vania Larissa? Apa kamu tidak mengenali aku?" Robi tersenyum lebar sambil memegang dadanya.


Vani mencoba mengingat pria di depannya itu dan dia benar-benar lupa.


"Saya, saya tidak mengingat Anda sama sekali."


Robi menghela napas. "Varsa, pegangan yang kuat agar kamu tidak terbang terbawa angin. Kamu ingat kata-kata itu?"


Vania kembali mengingat. 'Aku memang seperti mengenal kalimat itu, tetapi mengapa lupa dengan siapa yang biasa mengatakannya?' batin Vani.


"Varsa, ini aku Robi! Pemuda yang selalu mengantar jemput kamu saat aku masih memakai pakaian putih abu-abu."


Vania tersenyum setelah dia mengingatnya.


"Kak Robi? Ya ampun, kak. Aku benar-benar melupakanmu, maafkan aku." Vania tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika kita dipertemukan kembali. Oh ya, apa kabar kamu?" Robi menatap wajah Vani yang terlihat semakin cantik.


"Kabarku tidak baik, kak. Aku baru saja bercerai dari suamiku." curhatnya, Vani bersyukur sebab dia bisa bertemu dengan teman lamanya.


"Aku turut berduka."


'Yes, akhirnya dia sudah menjadi janda. Tidak sia-sia aku menunggu jandamu, Vania.' sambungnya dalam hati, Robi ingin tersenyum tetapi takut Vania tersinggung.


"Bagaimana kabar kak Robi? Aku lihat sepertinya kakak semakin tampan, apa kakak sudah berkeluarga?"


Robi menggeleng. "Aku belum mendapat pasangan yang cocok."


Vania hanya mengangguk.


"Van, pria bodoh mana yang menyia-nyiakan wanita seperti dirimu? Sungguh dia kurang bersyukur telah mendapatkan istri sepertimu." Robi menggeleng.


"Sebenarnya ini semua salahku." Vani menarik napas lalu memulai menceritakan semuanya pada Robi.


Robi turut sedih dengan apa yang terjadi dengan kehidupan Vania, dia siap menjadi sandaran untuk Vani meskipun harus mendapatkan status Janda. Robi begitu mencintai Vani, saat ini keduanya sudah sama-sama dewasa dan Robi akan mencuri hati Vania.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Perut Vania sudah terlihat membuncit, dia bahagia dengan kehidupan sehari-harinya yang selalu ditemani oleh sang calon bayi dan Robi.


Robi mengajak Vania berkeliling ke Mall untuk mencari keperluan bayi karena tidak terasa bulan semakin dekat dan itu menandakan hari kelahiran sang bayi tinggal menunggu sebentar lagi.


"Warna apa bagusnya?" Vania memegang baju bayi berwarna biru dan pink.


"Em, ambil saja keduanya." putus Robi tanpa ingin memberikan pilihan.


"Kak, aku memintamu untuk membantuku agar memilih, bukan membeli semuanya." ucap Vania ditambah kekeh'an kecil.


Mereka kembali berkeliling untuk mencari stroller dan tilam bayi. Namun, ketika Vania ingin mengambil tilam bayi yang menurutnya sangat imut dan bagus, tiba-tiba tangan seseorang menghentikan niat Vania.


Vani melihat pemilik tangan itu, dia sedikit kaget kala sang mantan suami dan sahabatnya ada disana juga.


"Adiba?" lirih Vania langsung menjauh dari Diba.

__ADS_1


Adiba pun menatap Vania dengan nanar, dia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Sayang, apa su—" ucapan Alex terhenti ketika melihat Vania.


Alex semakin heran dengan seorang pria yang ada di samping Vani, dia mengerutkan dahi dan kemudian tersenyum sinis.


"Jadi, sudah ada yang baru ya?" ejek Alex sambil melirik perut Vania. "Ternyata kamu memang benar sedang hamil dan dugaanku juga tidak salah jika anak itu bukanlah anakku."


Vani sudah kebal dengan fitnah itu, dia hanya menganggukkan kepala.


"Terserah!" Vania tidak ingin berdebat terlalu panjang, dia menarik tangan Robi dan mereka pergi dari sana.


"Mas, kamu ini kenapa? Harusnya jangan berbicara seperti itu, semua ini bukan salah Vania tapi aku." Diba merasa kesal dan dia meninggalkan Alex sendirian.


"Diba! Kenapa dia malah menyalahkan aku?" gumamnya sambil mengusap wajah dengan kasar.


Vania terhenti di sebuah kursi, dia duduk disana dan menarik napas sejenak.


"Van, are you okey?" Robi memegang pundak Vania.


"Dia, mantan suamiku. Kamu jangan heran dengan sikapnya karena dia sudah terhipnotis oleh perempuan ja*la*ng itu." ketus Vania.


"Kamu harus sabar, aku akan menjagamu dari pria brengsek itu." Robi memeluk tubuh Vania.


"Terima kasih, kak. Tapi, aku tidak bisa membalas kebaikanmu."


"Van, aku tidak meminta balasan apa pun. Tetapi, ketahuilah jika perasaanku ini tulus untukmu. Jika boleh jujur, sebenarnya dari dulu saat kita masih sekolah, aku sudah menyimpan perasaan istimewa untuk dirimu. Namun, aku belum berani mengungkapkannya dan sekarang barulah aku menyadari jika aku tidak ingin kehilanganmu. Vania, apa kamu mau menerima cintaku yang tulus ini?" Robi menatap Vania dengan syahdu.


Vani hanya melongo, dia menganggap Robi seperti kakak kandungnya sendiri.


"Kak, maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, tetapi aku belum siap untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi. Aku mohon mengertilah dan jangan memaksaku." Vani menunduk sedih.


Robi menghela napas karena cintanya di tolak, dia tidak akan berhenti sampai disini. Seberapa jauh Vania menolaknya dia tetap akan memperjuangkan cintanya.



__ADS_1


TBC


__ADS_2