Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 69 DTH


__ADS_3

Setelah pertemuan mereka, akhirnya Ica memutuskan pulang kembali ke rumah orang tuanya. Sejujurnya dia berat meninggalkan desa Sumber Sari, kakak tetapi dirinya harus kembali ke tempat lahirnya. Dia lebih nyaman berada di lingkungan keluarganya sendiri dibandingkan keluarga angkatnya. Sementara Siska, dia sangat berat melepaskan kepergian Ica tetapi biar bagaimanapun, Ica bukanlah Putri kandungnya dan dia tidak berhak menahan Ica untuk tetap tinggal bersamanya


Di dalam mobil, Vania tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Dia seperti takut kehilangan Ica untuk kedua kalinya. Davin yang fokus mengemudi hanya tersenyum melihat Ibu dan anak itu. Dia berhasil menemukan keberadaan Ica karena sang anggotanya telah menelusuri beberapa desa dan mencari keluarga Kurniawan. Di desa Sumber Sari lah akhirnya keputusan mereka jatuh dan keluarga Kurniawan hanya satu di desa tersebut.


"Ma, Ica janji akan menjaga diri setelah ini."


Pelukan terurai, Vania menangkup wajah Ica dan dia menatap manik mata milik Ica.


"Mulai saat ini juga Mama akan mencari bodyguard untuk mengawal kemanapun kamu pergi. Nak, sudah cukup Mama merasakan sedih beberapa bulan ini, Mama tidak bisa lagi jauh dari kamu." ujar Vania, dia sangat menyayangi Ica karena dirinya harus berjuang sendiri ketika Ica masih di dalam kandungan. Untung saja ada Robi yang terkadang membantunya.


Ica merasa semua itu berlebihan, tetapi dia memaklumi perasaan Mamanya.


"Kak, terima kasih karena kamu sudah mau membantu orang tuaku." ucap Ica kepada Davin.


"Sama-sama, Ca. Lagipula, sudah seharusnya aku membantu temanku jika dalam kesulitan." jawab Davin penuh kejujuran.


Dia masih menyimpan sedikit perasaan kepada Ica tetapi dia memendamnya sendirian.


Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di rumah.


Ketika keluar dari mobil, dahi Vania mengerut sebab ada mobil yang terparkir di halaman rumah.


"Mobil siapa ini?" tanya Robi heran.


Tak lama kemudian, datanglah sepasang suami-istri mendekati keluarga Mahendra.


"Mama," lirih Elza ketika melihat Vania yang diam mematung.


Air mata tak dapat dibendung, Elza menangis setelah dia akhirnya bisa kembali melihat orang tuanya. Elza melangkah pelan mendekati Vania yang diam saja dengan ekspresi sulit dibaca.


"Mama, aku merindukanmu." Elza ingin memeluk Vania tetapi Vani mundur dan tidak ingin di peluk oleh Elza.


Elza menghentikan gerakan tangannya di udara, dadanya sangat sesak melihat Vania yang masih membencinya.


"Maafkan El, Ma." lirih Elza disela Isak tangisnya.

__ADS_1


Elza dan Rizi memutuskan pulang ke Indonesia karena El sangat merindukan keluarganya. Bahkan, mereka tadi baru saja berkunjung ke makam milik Adiba dan Alex. Elza tidak menyalahkan sang Mama atas segala penderita yang selama ini dia dapatkan dari Rizi. Semuanya sudah berjalan sesuai takdir Tuhan dan kini saatnya Elza menikmati kebahagiaan bersama dengan Rizi.


Pikirannya belum lega jika Vania masih marah padanya, Elza menggenggam tangan Vania dengan lembut.


"Ma, lihat aku. Apa sebesar ini kebencian Mama terhadapku? Tidak ada sedikitpun kata memaafkan untukku? Aku sadar jika menurut Mama aku telah merebut calon suami kakak, tetapi ketahuilah, Ma. Jodoh tidak ada yang tahu karena itu sudah takdir Tuhan, begitupun dengan jodoh kak Ica."


Vania menatap Elza dengan tajam. "Tau apa kamu tentang jodoh, hm?"


Elza mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Jujur sebelum kejadian tidak disengaja antara aku dan kak Rizi, waktu itu aku bertemu dengan Alvin."


Ica langsung menajamkan pendengaran setelah Elza menyebutkan nama Alvin.


"Lalu?'' tanya Ica tidak sabaran mendengar kelanjutannya.


Semua menatap Ica dengan raut wajah heran.


"Alvin mengungkapkan perasaannya," Elza sengaja menggantung ucapannya.


"Untuk kak Ica." lanjut Elza membuat tubuh Ica menegang, dia menatap El dengan lekat.


"El, apa yang kamu katakan?" Ica mencekal lengan Elza.


Elza mengangguk. "Ya, selama ini sebenarnya aku mencintai Alvin tetapi Alvin malah menyukai kak Ica. Aku bisa apa selain mengikhlaskan? Pada saat itu aku terpuruk dan aku pergi ke sebuah diskotik, disana aku hanya minum sedikit untuk sekedar melepas kesedihan. Namun, di tengah jalan aku bertemu dengan kak Rizi dan akhirnya —" ucapan Elza terputus karena Ica mengangkat sebelah tangannya.


"Aku sudah tahu dan kamu tidak perlu meneruskannya." sela Ica secepat kilat.


"Maafkan aku, kak. Tetapi kamu harus tahu jika Alvin sangat mencintaimu, dia rela menunggu kamu hingga tamat kuliah dan bahkan sudah bekerja. Selama ini bahkan Alvin tidak pernah mencari kekasih ataupun pasangan untuk dirinya, dia hanya menunggu kamu, kamu dan kamu, kak."


Ica terdiam, dia menunduk sedih karena selama ini dirinya salah menilai Alvin. Dia pikir semua pria sama saja tetapi nyatanya Alvin tidak seperti itu. Ica berjalan pelan masuk ke dalam rumah, pikirannya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Vania melirik Ica sejenak lalu beralih menatap Elza.


"Kau tau, putriku baru saja sembuh dan pulang ke rumah tetapi kau malah memberikannya beban pikiran." Vania terlihat kesal dan dia menyusul Ica masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Disana tinggallah Robi, Elza, Rizi dan Davin.


"Om, saya pamit pulang." ujar Davin undur diri karena dia tidak enak melihat masalah yang terjadi di keluarga Ica.


Robi mengangguk dan dia mengucapkan terima kasih kepada Davin.


Setelah Davin pergi, Robi menatap Elza dan Rizi.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Robi kasihan melihat Elza.


"Kami baik, Pa." Elza menghambur ke pelukan Robi, dia membutuhkan sandaran dari orang tua seperti ini.


Robi mengelus rambut Elza dengan lembut, dia bahkan mengecup pucuk kepala Elza yang pastinya saat ini dia sedang sedih.


"Hubungan kalian baik-baik saja bukan?"


El mengangguk. "Meksipun ada sedikit masalah, tetapi hubungan kami saat ini semakin baik, Pa." ujar El tanpa melepaskan pelukan.


"Papa tenang mendengarnya."


Pelukan terurai, Elza menghapus air matanya.


"Pa, apa yang terjadi dengan Kak Ica? Kenapa kalian tidak ada yang memberitahu padaku? Aku memang benar-benar sudah tidak dianggap lagi dalam keluarga ini." ucap Elza berkecil hati.


Robi menggeleng. "Kamu tetap keluarga Mahendra dan akan selalu menjadi anak Papa," ujarnya tersenyum sambil menangkup wajah Elza.


Robi menceritakan apa yang terjadi tentang Ica dan hal itu tentu saja membuat Elza tercengang kaget. Dia tidak menyangka jika selama ini keluarganya sedang dilanda kesedihan.





TBC

__ADS_1


__ADS_2