
Empat bulan berlalu dengan cepat dan Robi masih setia menemani Vania untuk menjalani hari-harinya, Robi tidak ingin Vania merasa sendirian tanpa ada yang memperdulikannya. Saat ini Robi bergegas pergi ke rumah Vani karena dia mendapatkan telepon jika Vania mengeluh sakit pada perutnya. Hal itu membuat Robi khawatir berhubung dua Minggu lagi perhitungan kelahiran bayi Vania.
Sesampainya di rumah Vani, Robi langsung bergegas masuk.
"Van! Vania kamu dimana?" teriaknya hingga menggema di seluruh ruangan.
Vania terlihat keluar dari kamar yang ada di lantai bawah, dirinya meringis menahan sakit di area pinggang dan keringat juga mengucur di dahinya. Perlahan langkah Vani mendekati Robi, matanya terlihat sayu.
"Kak, bantu aku." lirih Vania tak tertahan.
"Van, Vania! Apa kamu ingin melahirkan? Hah, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Robi sambil menggendong tubuh Vania ke mobil.
Lima belas kemudian, sampailah mobil mereka di parkiran rumah sakit. Robi kembali menggendong Vania dan dia membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Suster! Suster tolong teman saya!" teriak Robi kebingungan karena Vania dari tadi merintih.
Dua orang suster berlari kecil ke arah Robi sambil membawa kursi roda, salah satu dari mereka membawa Vani ke ruang bersalin dan satunya lagi memanggil Dokter kandungan.
Setelah Dokter datang, dia segera memeriksa keadaan Vania.
"Kita masih harus menunggu dua jam lagi agar pembukaannya lengkap." ucap Dokter menjelaskan. "Saya sarankan agar Nyonya berjalan santai terlebih dahulu, berjongkok, atau tidur juga boleh tetapi miring menghadap kiri. Saya permisi dulu, dua jam lagi saya akan kembali kesini." lanjutnya dengan senyum tipis.
Robi menggenggam jemari Vania. "Van, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanyanya sedih.
"Sakit, mules, dan tenagaku seperti sudah hampir habis."
"Kamu harus kuat demi bayimu, ingat dia masih membutuhkan kamu." Robi mengelus pucuk kepala Vania.
Vani hanya mengangguk.
Tiba dua jam kemudian, Dokter pun kembali ke ruangan Vania sesuai ucapannya tadi. Dia memeriksa keadaan Vania lalu menyiapkan segala keperluan untuk bersalin.
__ADS_1
"Baik, Nyonya. Saya harap Anda mematuhi arahan dari saya, jika saya bilang dorong maka Anda harus mengejan. Jangan mengangkat bo*k*ong karena bisa menyebabkan robek pada area jalan lahir sang bayi. Siap?"
Vania mengerti, Dokter mulai memberikan arahan agar Vania mengejan.
"Satu, dua, dorong!"
Vania mengejan sekuat tenaga, sementara Robi menunggu di luar karena Dokter tidak mengizinkan dia berada di dalam sebab Robi bukanlah suami Vania.
"Sekali lagi, Nyonya! Sedikit lagi, rambutnya sudah terlihat dan kali ini Anda harus mengejan panjang. Satu, dua, tiga! Ayo, Nyonya!" Dokter memberikan semangat hingga terdengarlah suara tangisan bayi di dalam ruangan itu.
Dokter menggendong bayi Vania untuk dibersihkan, setelah itu dia membersihkan bekas darah dan mengeluarkan ari-ari sang bayi. Vania mendapatkan lima kali jahitan, selesai sang bayi di bersihkan, Dokter pun langsung memberikan bayi tersebut kepada Vania. Dia memberikan saran agar Vania menyusui secara dini sang bayi mungil tersebut.
Saat diizinkan masuk, Robi pun bergegas menerobos ke dalam ruang bersalin itu. Dia tersenyum melihat Vania yang sedang menggendong bayinya.
"Van," sapa Robi diselingi senyum manis.
Vania membalas senyuman itu, dia melambaikan tangan.
"Bagaimana, semuanya berjalan lancar?"
"Dia berjenis kelamin perempuan?"
"Ya, coba lihat dia, sangat cantik bukan?" Vania mengelus pipi bayinya.
Robi melihat sang bayi yang matanya masih terpejam.
"Kamu benar, tentu saja dia sangat cantik karena kecantikan Mamanya tidak usah di ragukan lagi." Robi menggoda hingga membuat wajah Vani tersipu malu.
"Oh ya, Varsa. Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putri kecil ini?"
"Veronica Argantara. Apa menurutmu nama itu bagus? Panggil saja dia dengan sebutan Ica." ucap Vania seraya menatap Veronica.
__ADS_1
Robi mengambil alih baby V dan dia menimang bayi itu dengan penuh cinta, bahkan Robi meminta kepada Vania agar kelak Veronica memanggilnya dengan sebutan Papi. Hal itu tidak di permasalahkan oleh Vania karena dia juga tidak tega melihat sang putri hidup tanpa seorang Ayah. Tetapi, Vania tidak bisa menerima cinta Robi.
🌺🌺🌺🌺🌺
Di rumah sakit lain, Adiba baru saja melahirkan dengan cara cecar karena usia kehamilannya sudah lebih dari sepuluh bulan. Sepasang suami-istri itu sangat bahagia karena mereka di karuniai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan imut. Bahkan, Alex sudah menyiapkan nama untuk putri mereka dari awal kehamilan Adiba.
"Sayang, bagaimana jika kita berikan dia nama Elza Alexandria Louise. Bagus bukan?"
Adiba menatap putrinya yang memang mirip seperti berdarah campuran, Diba mengangguk setuju dengan nama yabg Alex berikan untuk putri mereka.
"Elza, jadi anak yang pintar dan bisa membahagiakan orang tuamu ya, sayang." Alex mengecup pipi bayinya.
Dua hari kemudian.
Adiba sudah di perbolehkan pulang, dia begitu bahagia karena akhirnya bisa mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia seperti ini. Dia lupa jika dirinya sedang berbahagia di atas penderitaan sahabatnya sendiri. Namun, Adiba mencoba untuk melupakan kejadian itu dan dia lebih memilih untuk membina masa depan yang cemerlang bersama dengan Alex juga putrinya.
Kamar Elza sudah di renovasi dengan begitu indah yaitu memiliki nuansa berwarna pink putih, bahkan ada beberapa gambar Barbie disana dan itu semua adalah ide dari Alex. Box bayi mereka letakkan di kamar Elza dan satunya di kamar utama tempat biasa mereka tidur, kamar bayi itu sengaja mereka buat untuk Elza tidur siang. Kamar tersebut berada tepat di sebelah kamar utama, bahkan yang memisahkan hanya batas pintu saja.
"Sayang, aku sudah membuat keputusan untuk satu Minggu ke depan aku tidak akan pergi ke kantor. Aku akan menjagamu hingga keadaanmu pulih." Alex mengecup dahi Diba.
"Terima kasih, Mas. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu dan memiliki suami sepertimu." Diba memeluk tubuh Alex dengan keberadaan sang bayi yang terpejam di samping mereka.
•
•
TBC
VERONICA ARGANTARA
__ADS_1
ELZA ALEXANDRIA LOUISE