Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 26 DTH


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Alex, Vania dan Adiba berada di bangku santai dekat kolam renang. Mereka bertiga duduk di temani dengan cemilan ringan, buah-buahan dan dua gelas jus jeruk sementara Adiba harus meminum susu khusus ibu hamil. Diba melihat ke arah makanan yang ada dimeja, dirinya memutuskan untuk makan buah apel.


"Mas, aku ingin buah apel." rengek Diba dengan nada manja, sikapnya dua Minggu terakhir ini sangat berubah.


Alex mengulurkan tangan untuk mengambil buah apel itu tetapi di hentikan oleh Vania.


"Aku saja! Biar aku yang mengupasnya untuk Adiba." Vania dengan cepat mengambil buah apel itu.


Adiba mereka kesal dihatinya, entah mengapa dia tidak bisa mengontrol emosinya. Secepat kilat Adiba mengambil buah apel itu dan memberikan pada Alex.


"Aku tidak mau, biar Mas Alex saja yang mengupasnya." pinta Diba kembali.


Vania hanya menatap heran ke arah sahabatnya itu, dia kemudian melirik Alex yang sudah mulai mengupas buah apel milik Diba.


Selesai dibuka, Alex pun memotongnya di dalam piring. Dia menyodorkan piring itu tetapi Adiba menggelengkan kepala.


"Aku mau kamu yang menyuapi."


"Hah?" lirih Vania hingga tidak bersuara.


Alex melirik Vania sejenak lalu dia mulai menyuapkan satu potong buah apel menggunakan garpu. Diba menikmatinya dengan senyum puas, dia sengaja melakukan itu agar Alex bisa dekat dengannya. Diba saat ini memang sudah kehilangan akal sehat.


Vania merasa kesal dengan perilaku Adiba, dia memutuskan pergi dari sana.


"Vani!" teriak Alex ingin menyusul Vania tetapi Adiba menahan lengannya.


"Mas, kamu mau ninggalin aku sama anak ini?" Diba menatap Alex dengan sendu, dia juga mengelus perutnya yang masih rata.


Alex menghela napas, dia kembali duduk di bangku itu.


"Diba, apa menurutmu Vania sedang marah? Aku tidak ingin menyakiti hatinya." ucap Alex merasa bersalah.


"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu? Tentu saja Vania tidak marah, dia mungkin memang ingin masuk ke dalam rumah." sahut Diba seadanya, padahal dia tahu jika Vani saat ini sedang cemburu.


Alex pasrah, dia kembali menyuapkan potongan buah apel.


"Aku harap kamu bisa menjaga kandunganmu, Adiba."


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tahu tugasku." Diba pun tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat.


Alex sangat suka melihat senyuman itu, bahkan mereka sudah mengingkari perkataan Vania yang mengatakan agar jangan dulu berhubungan badan. Namun, nyatanya mereka berdua berhubungan tetapi dalam jangka waktu yang singkat. Alex tidak ingin menyakiti calon bayinya.

__ADS_1


Malam hari.


Selesai makan malam mereka langsung masuk ke dalam kamar masing-masing, saat ini jatah Alex tidur dengan Vania. Semenjak sering bersama dengan Diba dan merasakan ni*kmat pelayanannya, rasa Alex kepada Vania menjadi sedikit berkurang.


Ketika keduanya ingin melakukan ritual suami-istri, tiba-tiba suara Adiba mengangetkan mereka.


"Mas! Mas Alex!" teriak Diba dengan kencang.


Sontak hal itu membuat Vania dan Alex menghentikan aktivitas mereka, keduanya segera lompat dari ranjang dan berlari menuju kamar Adiba.


Ceklek!


Ketika pintu kamar berhasil dibuka, Alex melihat Adiba terduduk di ujung sudut dengan memeluk lututnya sendiri. Rasa takut terukir di wajah Diba hingga tubuhnya gemetaran. Alex dengan sigap berlari menghampiri Adiba, dia memeluk tubuh itu dan mengusap pucuk kepala milik Adiba. Sementara Vania, dia hanya termenung di ambang pintu melihat kejadian itu. Betapa khawatirnya Alex dengan Adiba, dia sampai mengabaikan keberadaan Vania.


"Diba, kamu kenapa? Apa yang terjadi?"


Deru napas Adiba tidak beraturan, dia membalas pelukan Alex dengan erat.


"Mas, itu!" Adiba menunjuk ke arah jendela.


Alex ingin beranjak dari jongkoknya, dia akan melihat apa yang Adiba tunjuk tetapi lengannya ditarik oleh Diba.


"Mas, jangan jauh-jauh dari aku. Aku takut," rengek Diba sambil meneteskan air matanya.


Alex menyelipkan anak rambut Adiba di telinga, dia menatap wajah cantik yang penuh dengan ketakutan itu.


"Kamu kenapa?"


Vania mendekati ranjang untuk mendengarkan alasan yang akan Adiba ungkapkan.


"Mas, tadi aku melihat ada bayangan hitam di jendela. Sangat menyeramkan dan aku takut." Adiba memeluk tubuh Alex.


Vania yang curiga dan penasaran segera berjalan ke jendela, dia melihat ke sekeliling dengan sangat seksama. Dia tidak menemukan hal apa pun yang sekiranya mencurigakan. Vani kembali ke ranjang, dia memegang pundak Adiba dengan pelan.


"Diba, kamu mungkin salah lihat. Aku sudah mengecek dan tidak ada apa-apa di luar sana."


"Jadi maksud kamu aku berbohong? Iya!'' Diba membalas ucapan Vani dengan bentakan.


"Diba, kamu kenapa jadi seperti ini? Kamu masih ingat 'kan dengan perjanjian kita? Semakin hari aku merasa jika kamu ingin menguasai Alex sendirian. Apa kamu lupa jika kamu hanyalah istri siri dan menikah dengan Alex karena kepentingan pribadi yang sudah kita sepakati? Kamu tidak melupakannya 'kan, hah!" Vania ikut terpancing emosi.


"Sayang, udah dong." Alex menenangkan Vania, sebelah tangannya memegang tangan Vani dan sebelahnya memegang punggung Adiba.


"By, aku harap jangan mengecewakan aku. Kamu tidak lupa dengan tujuan kita 'kan?" suara Vani melemah.

__ADS_1


Alex mengangguk.


"Mas, aku mau jika malam ini kamu tidur denganku. Aku benar-benar takut kalau bayangan itu akan kembali lagi menggangguku." Adiba semakin erat memeluk tubuh Alex.


Alex melirik Vania sejenak sebelum mengambil keputusan.


"Bukannya kemarin Alex sudah tidur bersamamu? Malam ini jatahnya denganku! By, kamu harus adil dong." Vania menggoyangkan tangan Alex.


Alex jadi bingung sendiri, dia tidak tega meninggalkan Vania tetapi jika dia bersama Vani maka dirinya kasihan dengan Adiba dan calon anaknya.


"Sayang, Diba sedang hamil dan dia mengandung buah hati untuk kita berdua. Aku mohon izinkan aku menuruti kemauannya untuk tidur disini, aku juga harus menjaga kandungannya bukan?" Alex berkata lembut.


"Baiklah, kalau begitu aku juga akan tidur disini. Alex bisa tidur di sofa!" keputusan bulat yang Vani katakan.


"Tapi—"


"Tidak ada tapi-tapi'an! Jika kamu tidak setuju maka Alex akan tidur denganku dan kamu dikamar ini sendirian. Bagaimana?"


Adiba hanya berdecak, dia setuju dan langsung melepaskan pelukannya di tubuh Alex.


''Good girl, kalau begitu aku dan Alex akan tidur bersama di kasur lantai sementara kamu tidur di ranjang. Tidak ada penolakan dan turuti saja ucapanku!" keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat dari seorang Vania Larissa.


Semuanya sudah selesai dan mereka pun berbaring di tempat masing-masing dengan Diba yang membawa kekesalannya, berbeda dengan Vania. Dia sangat beruntung karena bisa memberikan pelajaran atas keegoisan Adiba.


'Jika kelakuan Adiba semakin merajalela dan kurang ajar, maka aku akan memberikannya pelajaran lebih dari ini dan tidak akan membiarkan dia mendapat celah untuk dekat dengan suamiku.' batin Vania sambil memeluk tubuh Alex.




TBC



VANIA YANG BERHASIL MENGGAGALKAN RENCANA DIBA.



ALEX, BINGUNG HARUS PILIH YANG MANA



ADIBA, MERASA KESAL DENGAN KELAKUAN VANIA.

__ADS_1


__ADS_2