
Dua minggu kemudian.
Di sebuah kamar, terlihat sepasang kelopak mata berkedut dengan perlahan. Sesaat kemudian, bola mata yang memiliki manik mata indah itu bergulir melihat seisi ruangan. Tempat ini terasa sangat asing dimatanya, dia mencoba untuk bangkit dari ranjang tetapi kepalanya sangat sakit dan berdenyut. Kamar bernuansa biru nan mewah itu kini menjadi tanda tanya baginya, dia bingung harus bagaimana.
Ketika sedang dilanda kebingungan, pintu kamar terbuka dan seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar tersebut untuk melihat gadis yang dia pikir masih koma. Dirinya tersenyum lega ketika melihat gadis asing itu kini sudah membuka mata.
"Syukurlah kamu sudah sadar." ujar sang wanita paruh baya sambil berjalan ke arah ranjang.
Gadis itu mengerutkan dahi, dia sama sekali tidak mengenal wanita paruh baya tersebut.
"Aโanda siapa?" tanya sang gadis dengan suara lirih, wajahnya masih terlihat pucat bahkan perban di kepalanya masih melilit dengan sempurna.
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu menjawab pertanyaan sang gadis.
"Kamu lupa dengan Bunda?" ucapnya membuat gadis cantik itu semakin kebingungan.
"Bunda? Aku, aku sama sekali tidak mengingat apa pun. Argh!" gadis tersebut memenangi kepalanya yang semakin sakit.
Dia adalah Ica, dirinya di temukan seorang pemuda di desa Sumber Sari. Pada saat itu, sang pemuda berusia dua puluh tahun tersebut sedang mencuci sepeda motornya di sungai. Dia heran ketika melihat sesuatu yang mencurigakan di tepi sungai, untuk memecahkan rasa penasarannya, dia pun menghampiri hal yang membuatnya penasaran.
Sesampainya di tepi sungai yang dia tuju, dirinya terkejut melihat seorang gadis tengah terbaring disana. Pemuda itu berteriak histeris dan dia berlari memanggil bala bantuan. Beberapa warga menoleh Ica lalu membawanya ke puskesmas dan bidan menyarankan agar Ica di rawat. Namun, tidak ada yang mau membiayai itu hingga bidan memutuskan untuk menolong Ica dengan ikhlas.
Bahri dan Siska mendengar kejadian itu, mereka datang ke puskesmas untuk melihat gadis yang ditemukan tepat di tepi sungai. Betapa kagetnya Siska saat melihat wajah Ica sangat mirip dengan Almarhumah Putri bungsunya, dia pun memutuskan untuk mengadopsi Ica dan membawanya pulang ke rumah setelah satu minggu dirawat di Puskesmas.
Ica menatap Siska dengan rasa heran yang sangat dalam, dia tidak bisa berpikir jernih saat ini karena dirinya tidak tahu dia ada dimana.
"Aku, siapa namaku?" Ica mengungkapkan apa yang ada dihatinya.
Dia dinyatakan amnesia sementara karena sebuah benturan baru yang sangat keras di bagian kepala, bidan mengatakan jika Ica sewaktu-waktu bisa sembuh dari amnesianya. Siska sempat keberatan tetapi dia akan terus berusaha agar Ica tidak kembali mengingat masa lalunya.
"Aulia Kurniawan, dan aku Bunda kamu. Bunda Siska," ujar Siska penuh kelembutan.
Ica terdiam, dia hanya memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga dia sama sekali tidak bisa mengingat apa pun bahkan dengan orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Sudah, kamu jangan terlalu memikirkan apa-apa lagi. Berhubung kamu sudah sadar, bagaimana jika Bunda mengambilkan kamu sesuatu? Kamu mau makan apa? Roti, buah atau lainnya?" Siska ingin sekali memanjakan Ica yang wajahnya sangat mirip dengan sang Putri.
"Aku sedang tidak lapar." jawab Ica lesu dan tidak bersemangat.
Siska beranjak dari tepi ranjang lalu mengatakan jika dia akan mengambilkan roti untuk Ica.
"Apa benar namaku Aulia? Tapi, kenapa aku merasa sangat asing dengan semua ini?" Ica memegang kepalanya yang sakit.
Siska kembali dengan membawa nampan berisi satu piring roti selai strawberry dan satu gelas susu putih. Dia meletakkan di pangkuannya dan memandang Ica dengan senyuman.
"Sayang, sekarang kamu makan, ya? Jika kamu tidak makan, Bunda takut keadaanmu tidak akan membaik." bujuk Siska agar Ica mau makan.
Ica pasrah, dia menerima suapan roti dari Siska. Dirinya menatap Siska dengan dalam dan hal tersebut mendapat respon heran dari Siska.
"Ada apa, Nak? Kamu masih memikirkan tentang semuanya? Baik, Bunda akan memberikan bukti jika kamu itu adalah anak Bunda." Siska meletakkan nampan di atas meja lalu dia berjalan ke arah lemari pakaian yang ada di dalam kamar tersebut.
Sesampainya di lemari, dia membukanya dan mengambil sesuatu di laci. Setelah sudah berhasil mengambil, Siska kembali duduk di dekat Ica. Dia membuka album foto dan mengatakan pada Ica jika itu adalah foto masa kecilnya.
"Aku mempunyai seorang kakak?"
Siska mengangguk. "Ya, apa kamu lupa juga dengan nama kakakmu, lalu profesinya?"
Ica hanya terdiam dengan raut wajah berpikir.
"Baik, Bunda akan memberitahu padamu. Kakak kamu bernama Hanum, dia saat ini bekerja sebagai model di luar kota." jelas Siska penuh kesabaran.
"Apa yang terjadi denganku sehingga aku bisa melupakan semuanya seperti ini?"
Siska terdiam, dia bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Ica itu. Dia tidak mungkin mengingatkan pada Ica jika Ica adalah korban hanyut dan ditemukan di tepi sungai.
"Kamu, kamu kecelakaan mobil saat ingin bertemu dengan teman-temanmu. Dokter mengatakan jika ingatan kamu tentang masa lalu akan hilang begitu saja, tetapi kamu harus tenang karena Bunda akan selalu ada disampingmu." Siska mengelus kepala Ica.
Ica mencoba percaya karena dia melihat jika ketulusan terpancar dari tatapan mata Siska, Ica pun mulai tersenyum tipis.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Vania sangat berubah dua Minggu belakangan ini karena kecelakaan yang menimpa Ica, terlebih lagi tubuh Ica belum ditemukan dan hal itu membuat Vania semakin sedih. Polisi hanya mengevakuasi badan mobil saja dan barang-barang milik Ica.
Vani selalu murung di setiap harinya, bahkan untuk makan saja tidak teratur dan membuat dia jatuh sakit. Robi pun khawatir dengan keadaan sang istri, dia takut terjadi sesuatu dengan Vania karena sering terlambat makan, tidak menjaga kesehatan dan pola makan.
Tak hanya Robi saja, Rivan sang putra pun ikut sedih melihat keadaan Mamanya. Sementara Elza, dia tidak tahu kejadian yang sudah menimpa keluarganya.
Robi sengaja pulang lebih cepat, beginilah dirinya setiap hari. Mencoba menghibur Vania agar bisa sedikit menghilangkan rasa sedih di hatinya.
"Sayang," panggil Robi ketika melihat Vania sedang duduk termenung di halaman belakang.
Vania tidak menoleh, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Sayang, kamu udah makan?" Robi memegang punggung Vania.
Vania hanya terdiam seakan tidak mendengar pertanyaan dari Robi.
'Ya Tuhan, tolong segera kembalikan keutuhan keluarga kami. Berilah keajaiban dan semoga saja Ica bisa selamat dari kecelakaan itu.' batin Robi berdoa karena dia tidak sanggup melihat Vania terus murung setiap hari.
โข
โข
TBC
**VISUAL HANUM KURNIAWAN
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น**
__ADS_1