
Waktu dengan cepat berlalu dan tiga bulan sudah Adiba juga Alex menjalani hari-hari mereka sebagai orang tua yang baik, cekatan, dan selalu waspada. Malam ini, Adiba sangat khawatir karena badan Elza mengalami demam tinggi. Dia segera membangunkan Alex yang sudah tertidur sebab jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Elza terus menangis hingga tubuhnya gemetaran, dia seperti merasakan sesuatu yang sakit di dalam tubuhnya.
"Oek, oek ...." tangisannya pecah memekikkan telinga Adiba.
"Mas, Mas Alex! Bangun, Mas!" Diba menggoyangkan tubuh Alex.
Alex membuka kelopak matanya, dia melihat ke sekeliling untuk mengumpulkan nyawanya karena baru bangun dari tidur.
"Sayang, ada apa?" Alex segera duduk, dia melirik Elza. "Elza kenapa, kok nangis aja?" lanjutnya sambil ingin beralih menggendong Elza.
"Mas, dia demam."
Alex memegang tubuh Elza dan ternyata benar, tubuh putrinya itu sangat panas.
"Kalau begitu, aku akan hubungi Dokter keluarga." Alex bergegas memberikan Elza pada Diba lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter.
"Gimana, Mas?"
__ADS_1
Alex menggeleng sambil terus mencoba menghubungi.
"Nomornya di luar jangkauan, kalau begitu kita pergi ke rumah sakit saja. Aku takut terjadi sesuatu pada anak kita." Alex bangkit dari ranjang dan mengganti pakaian.
"Tapi, Mas! Ini sudah larut malam."
"Tidak masalah, yang penting putri kita bisa di tangani dengan cepat." sahut Alex sambil memakai celana jeans-nya.
Adiba melirik Elza sejenak, entah mengapa perasannya tidak enak dan dia seperti ragu ingin pergi ke rumah sakit.
"Adiba, ayo! Tunggu apa lagi? Aku tidak tega melihat Putri kita menangis terus," Alex menggendong Elza sementara Adiba bergegas berganti pakaian.
Di dalam perjalanan, Adiba terus berdoa agar mereka selamat sampai tujuan, di kursi belakang dia menggendong Elza yang masih setia menangis hingga wajahnya merah padam.
"Sayang, coba kamu beri dia asi." pinta Alex sembari melirik sejenak ke arah belakang.
Adiba sengaja duduk di kursi penumpang agar Elza tidak terlalu kedinginan, bahkan Elza memakai selimut bayi dan baju lengan pendek.
__ADS_1
"Dia menolaknya, Mas!" Adiba semakin bingung dan mencoba menenangkan Elza.
"Sst, sayang anak Mama. Kamu kenapa? Kita akan pergi ke rumah sakit dan sebentar lagi sampai, sabar ya anak cantik." Adiba menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti mengayun Elza di dalam gendongan.
Elza tetap menangis, Alex mempercepat laju mobilnya karena perkiraan lima belas menit lagi akan sampai di rumah sakit. Alex melirik Elza yang ada di kursi belakang hingga dia tidak sadar jika masih melajukan mobil dalam kecepatan tinggi dan saat dirinya melihat ke depan, tiba-tiba sebuah truk besar melaju cukup kencang berlawanan dengan arah mobilnya. Alex terkejut, dia membanting stir mobilnya hingga oleng ke kiri dan Adiba berteriak, suasana itu semakin menegangkan saat suara teriakan Alex juga ikut terdengar bersamaan dengan benturan keras.
BRAK!
Mobil mereka terguling karena menabrak pembatas jalan, Elza tercampak keluar hingga mobil kedua orangtuanya mengguling cukup jauh jauh dari tempatnya tergeletak. Mata Adiba sayu dengan darah di kepala, tangannya terulur keluar melalui jendela yang pecah. Sementara Alex, dia sudah memejamkan mata dan wajahnya di lumuri darah sebab kaca mereka pecah. Mobil mereka terbalik dengan posisi badan mobil ada di bawah.
"E—elza, Putriku." lirih Adiba tidak bersuara hingga pada akhirnya dia menutup kedua mata.
Elza menangis begitu kencang dan terlihat banyak kerumunan pengendara di sana sedang melihat kejadian. Salah satu dari mereka ada yang berinisiatif memanggil Dokter dan satu orang Ibu-ibu menggendong Elza dan meneteskan air matanya.
•
•
__ADS_1
TBC