Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 53 DTH


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Alvin masih terus memperjuangkan cintanya dengan caranya sendiri, dia hari ini mengajak Ica pergi makan malam di luar untuk mengungkapkan isi hatinya. Alvin tidak bisa diam terlalu lama karena dia takut jika Ica akan memberikan dinding yang kokoh di dalam hatinya untuk pria manapun. Alvin terlibat sangat tampan dengan memakai setelan kemeja berlengan pendek, jam tangan merek rolex yang melingkar indah di pergelangan tangannya dan jangan lupa sepatu pantofel sangat mengkilap jika tekena cahaya.


Alvin menatap pantulan dirinya di depan cermin, dia tersenyum sambil melihat ke penampilannya.


"Cukup sempurna! Aku yakin malam ini aku harus bisa menjadikan Ica sebagai calon istriku." Alvin menyemangati dirinya sendiri.


Dia segera keluar dari kamar karena jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia dan Ica janjian di cafe tempat mereka biasa nongkrong. Ya, keduanya satu bulan belakangan ini cukup akrab, itu semua karena Ica tidak ingin terus terpuruk dan larut dalam kesedihan memikirkan Rizi yang kini telah menjadi milik orang lain.


Lima belas menit kemudian.


Alvin pun sampai di cafe tersebut, dia mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Ica. Di salah satu meja, dirinya menemukan Ica yang sedang asyik bermain ponsel. Seketika senyum Alvin pun terbit, dia merapikan kembali penampilannya dan berjalan dengan cool ke arah Ica.


"Selamat malam," Alvin membungkukkan badan bak seorang pelayan yang ingin melayani Ratunya.


Ica melirik ke Alvin dan dia tersenyum tipis, ponselnya pun dia letakkan di atas meja.


"Alvin, kamu mengangetkanku." ucap Ica.


Alvin tersenyum dan duduk di seberang Ica.


"Apa kamu sudah lama menunggu disini?"


Ica melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tidak terlalu lama, baru sepuluh menit yang lalu." ucapnya.


Alvin hanya mengangguk. "Maaf, dalam perjalanan kesini tadi aku mampir dulu ke suatu tempat."


Ica menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah? Tidak masalah, menunggu bukan sesuatu hal yang menyebalkan menurutku."

__ADS_1


Mereka pun berbincang dengan sangat akrab, hingga keduanya terkadang tertawa bersamaan sehingga mengundang rasa penasaran semua orang yang ada di cafe.


Selesai mengobrol dan makan, Alvin memutuskan untuk segera mengungkapkan perasaannya.


"Ica?" panggil Alvin dengan raut wajah serius.


Ica heran karena wajah Alvin yang tadinya santai kini berubah menjadi sangat serius.


"Ada apa?" tanya Ica.


"Aku, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Mungkin ini terlalu cepat tetapi aku mohon jangan berpikiran macam-macam terlebih dahulu."


Ica semakin penasaran, dia mengangguk lalu memberikan kode agar Alvi melanjutkan ucapannya.


"Sudah hampir delapan tahun lebih aku memendam ini semua, mulai dari kita masih memakai seragam putih biru hingga putih abu-abu dan terpisah saat ke jenjang kuliah. Ca, izinkan aku untuk mengisi ruang hatimu yang kosong."


Senyum yang tadinya menghiasi wajah cantik Ica kini berubah menjadi hambar, dia mengerti akan perkataan Alvin tadi dan dirinya tahu apa maksud Alvin mengatakan hal itu.


"Aku yakin kamu pasti tahu maksud dari ucapanku, aku juga mengerti jika kamu tentu saja sulit melupakan mantan kekasihmu itu. Tetapi, percayalah jika tujuanku saat ini tulus untukmu dan menikahlah denganku, Veronica." Alvin dengan cepat bersimpuh di bawah kaki Ica sambil menyodorkan satu kotak beludru berisi cincin berlian.


Ica tercengang dengan kelakuan Alvin, dia membekap mulutnya dan melihat ke sekeliling. Begitu banyak pasang mata yang melihat interaksinya dan Alvin, bahkan tak sedikit dari mereka tersenyum sendiri sambil berbisik. Ica merasa risih, dia meminta Alvin untuk beranjak tetapi tidak di pedulikan oleh Alvin.


"Vin, apa kamu tidak mendengarkan perkataanku? Ayo berdiri, kenapa kamu harus seperti ini? Vin, banyak orang disini dan ku mohon jangan konyol." Ica berbicara dengan setengah berbisik.


"Memangnya kenapa? Biarkan mereka menjadi saksi ikatan cinta kita." Alvin tetap keras kepala bersimpuh di bawah kaki Ica.


Ica merasa kesal dengan Alvin yang tidak mendengar ucapannya, dia beranjak dari kursi dan mengambil tasnya lalu pergi keluar dari cafe.


Alvin kaget dengan sikap Ica, dia bertanya-tanya apakah Ica marah atau bagaimana. Dirinya segera berdiri dan berlari menyusul Ica, setelah berada di parkiran, dia pun berteriak.

__ADS_1


"Ica, aku mencintaimu!" teriak Alvin tanpa memperdulikan sekitarnya.


Ica sontak menghentikan langkah, dia berbalik badan dan menatap Alvin dengan gelengan kepala. Terlihat Alvin berlari mendekati Ica, dia menatap Ica dengan sendu dan penuh harap.


"Ca, apa salahku? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban padaku?"


"Konyol! Kamu konyol, Alvin. Kenapa kamu harus bersikap seperti tadi? Begitu banyak orang yang melihatnya dan aku tidak suka akan hal itu." ujar Ica serius dan jujur.


"Mengapa, Ica? Aku hanya ingin membuktikan padamu jika aku benar-benar tulus mencintaimu dan ingin menjadikanmu sebagai istriku."


"Tapi caranya tidak seperti itu, dan aku juga tidak bisa menerima cintamu. Maafkan aku," Ica berkata dengan nada pelan.


Alvin terdiam untuk sesaat, dia mengedipkan matanya berkali-kali dan menggenggam jemari Ica.


"Apa kamu masih memikirkan mantan kekasihmu sehingga kamu tidak bisa membuka hati untukku?"


Ica menggelengkan kepala. "Aku sudah melupakan Rizi, tetapi aku masih ingin sendiri dan belum memiliki keinginan untuk kembali menjalin kasih dengan seseorang." lanjutnya sambil melepaskan genggaman tangan Alvin.


Alvin menghirup udara sebanyak mungkin, dia butuh oksigen banyak karena mendapat penolakan dari Ica. Dia mencoba tersenyum tipis dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Apa keputusanmu sudah bulat?".


Ica mengangguk. "Untuk saat ini aku masih ingin sendiri, maafkan aku. Jika kita berjodoh pasti kita akan di satukan tetapi jika tidak, maka aku berharap kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku."


Setelah mengatakan itu, Ica segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Alvin hanya menatap mobil Ica yang sudah menjauh dari pandangan. Dia tersenyum hambar dan memukul udara.


"Akh! Gagal! Baiklah, aku tidak boleh menyerah hanya karena satu penolakan. Ayo, Alvin! Kau pasti bisa menaklukkan Ica, wanita yang sangat kau cintai." gerutunya lalu pergi menuju mobil.


__ADS_1



TBC


__ADS_2