Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 24 DTH


__ADS_3

Pagi harinya, Alex merasakan lengannya seperti tertimpa sesuatu. Dia segera membuka kedua kelopak mata dan melihat ada apa dengan lengannya, Alex terkejut ketika ternyata kepala Adiba menindih lengan miliknya. Dia mencoba meletakkan kepala Adiba di bantal tanpa membangunkan sang empunya. Namun, semua itu sia-sia karena Adiba langsung membuka mata kala ada pergerakan di kepalanya.


"Mas," lirih Diba menatap manik mata Alex.


"Maafkan aku yang sudah membangunkanmu."


Adiba tersadar, dia segera menjauhkan tubuhnya. Sementara Alex, dia melihat tubuhnya dan Adiba yang terlilit di dalam satu selimut. Alex menatap Diba dan memberikan kode pertanyaan.


Adiba yang mengerti langsung mengangguk. "Kamu jangan menyesal, kita 'kan sudah resmi menjadi suami-istri meskipun siri."


Alex mengusap wajahnya. "Aku akan mandi terlebih dahulu," lanjutnya dengan beranjak dari ranjang.


"Mas! Apa perlu aku siapkan air hangat?"


"Tidak usah." sahut Alex dan bergegas berlalu.


Selesai keduanya bersiap, Adiba dan Alex berjalan bersama menuju meja makan dan ternyata seperti biasa disana sudah ada Vania yang menyiapkan sarapan mereka.


"Morning," sapa Vania seperti biasanya dengan senyuman, tetapi senyum itu surut ketika mata Vania tidak sengaja menatap ke leher Adiba.


Adiba yang sadar jika dia diperhatikan oleh Vania langsung menjadi salah tingkah.


"Van, kamu baik-baik saja?"


Cup!


Alex mengecup pucuk kepala Vania seperti biasanya, dia memilih untuk duduk terlebih dahulu di kursi.


"Ya, aku baik. Apa kalian berdua sudah—" Vania memberi kode bercinta.


Adiba tersipu malu dengan anggukan pelan.


Vania tersenyum dengan hati miris, ternyata Adiba sudah berhasil menikmati tubuh suaminya.


"Baguslah, aku berharap benih itu cepat tumbuh di dalam sini." Vani berkata sambil mengelus perut Adiba.


"Aku juga berharap seperti itu, kegagahan Mas Alex pasti akan cepat menumbuhkan benih itu." jawab Adiba tanpa rem.


Vania tersenyum tipis lalu mereka berdua berjalan duduk ke kursi.


"Kamu mau sarapan apa, Mas/by?" Vani dan Diba bertanya secara bersamaan, mereka juga saling lirik dan Diba sadar jika dia hanyalah perempuan penitipan benih.

__ADS_1


"Terserah kamu aja, aku akan makan apa pun yang kamu pilih." ujar Alex lembut sambil tersenyum ke arah Vania lalu dia melirik Adiba sejenak masih dengan senyuman.


Alex masih terbayang kejadian tadi malam, tentu saja dia sangat sadar malam itu. Dirinya sangat memuji cara permainan Adiba yang bisa membuatnya terbang ke angkasa, Alex sangat ingin melakukannya lagi tetapi saat melihat wajah Vania dia ingat jika dirinya hanya harus menanamkan benih di rahim Adiba setelah itu semuanya selesai.


"By?" panggil Vani menyadarkan Alex dari lamunannya, dia melirik ke arah Diba sejenak yang masih sibuk mengambil sarapannya sendiri.


Alex tersentak kaget, dia mengalihkan pandangan menjadi menatap Vania. Dirinya menerima piring yang Vani berikan lalu sarapan bersama.


'Semoga saja pikiran buruk ini tidak terwujud.' batin Vani takut.


🌺🌺🌺🌺


Dua bulan kemudian.


Adiba berlari ke kamar mandi, dia membekap mulutnya sendiri dan menahan rasa mual yang terus mendera ketika menjelang bangun pagi. Alex terbangun, dia heran karena tidak menemukan Adiba di sampingnya.


"Diba?" panggil Alex sambil menyibakkan selimut, dia berjalan ke kamar mandi yang terbuka lebar.


Dari kejauhan, Alex dapat mendengar suara Adiba yang seperti tertekan.


"Diba!" pekiknya sambil masuk ke dalam kamar mandi, raut wajah Alex terlihat khawatir karena Adiba sangat pucat.


Dia memegang kedua pundak Adiba dari belakang.


"Gak tau, Mas. Perutku rasanya ingin terus mual dan kepalaku sangat pusing." Diba berkata lirih lalu sedetik kemudian dia terjatuh di dalam pelukan Alex.


"Diba! Adiba!" teriak Alex sambil menepuk pundak Adiba karena pingsan.


Alex menggendong tubuh Diba dan membawanya ke ranjang, dia bergegas menghubungi Dokter pribadinya yang ada di negeri itu juga, setelah itu Alex duduk di sebelah Adiba.


"Ada apa dengannya? Apa dia kelelahan karena harus terus melayani aku?" Alex bertanya-tanya sendiri.


Pasalnya, ketika dia dan Adiba tidur bersama maka mereka akan bercinta hingga beberapa jam. Bahkan terkadang Adiba sampai menjadi lemas akibat kewalahan mengimbangi has*rat Alex.


Tak lama kemudian, Vania heran karena ada Dokter pagi-pagi begini.


"Ada perlu apa ya, Dok?" tanya Vani ketika membuka pintu rumah.


"Tuan Alex memanggil saya ke rumah ini, dia mengatakan jika istrinya sedang pingsan." ucap Dokter yang berasal dari negara Indonesia itu.


Vania semakin heran karena Alex tidak memberitahunya jika Adiba pingsan.

__ADS_1


'Saat ini istri Alex ada dua, aku sehat berarti yang pingsan Adiba. Tetapi mengapa Alex tidak mengabariku?' batin Vani bingung.


"Nyonya, apa saya boleh masuk?"


Vania tersadar ketika suara Dokter itu membuyarkan lamunannya.


"Ya, mari!"


Keduanya masuk ke dalam dan menaiki anak tangga menuju kamar Adiba.


Sesampainya di kamar itu, Alex langsung menoleh ke arah pintu. Dia tersenyum lega ketika Dokter akhirnya sudah tiba, Alex memberikan ruang kepada Dokter itu untuk memeriksa Adiba. Sementara Alex, matanya beralih menatap Vania yang terdiam tak jauh dari tempatnya berdiri. Alex merasa bersalah sebab dia tidak lupa memberitahu kepada Vani jika Adiba pingsan.


"Apa ini, by? Kamu melupakan aku?" Vani bertanya pelan ketika Alex berada di dekatnya.


Alex tidak sanggup menatap mata sendu itu, dia memeluk tubuh Vani dan mengatakan maaf sebanyak mungkin.


"Maafkan aku, Vania. Maaf maaf maaf," Alex mengecup pucuk kepala Vania berulangkali.


Pelukan pun terurai.


"Apa yang terjadi pada Adiba?" Vani melirik Adiba yang sedang diperiksa oleh Dokter.


Alex pun mulai menceritakan semuanya yang terjadi pagi tadi, tak lupa dia kembali meminta maaf karena takut membuat Vania merasa tidak di hargai.


Dokter telah selesai memeriksa Diba, dia berdiri di hadapan Alex dan Vania.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Alex langsung bertanya dengan tidak sabaran.


"Saya ucapkan selamat kepada Tuan karena istri Anda terbukti positif hamil, hasil pemeriksaan menyatakan jika istri Anda sudah hamil selama enam minggu." ucap sang Dokter sambil tersenyum.


Alex dan Vania kompak tersenyum bahagia, mereka saling berpelukan mendengar penuturan Dokter.


"Sayang, kita akan segera punya anak." ucap Alex bahagia seraya terus memeluk tubuh Vania erat.


Vania hanya mengangguk dengan senyum tak kalah lebar. Sementara Adiba yang sudah sadar, dia hanya melirik Alex dan Vani sekilas dengan senyum hambar. Dirinya mengelus perut yang masih rata lalu memejamkan mata sejenak.


'Apakah aku sanggup meninggalkan anakku nanti bersama dengan mereka?' batinnya bimbang.


Dokter heran melihat kelakuan sepasang suami-istri itu, dia bingung karena mendengar ucapan Alex yang mengatakan jika mereka akan punya anak sementara yang hamil adalah istrinya. Dokter itu mengedikkan bahu, dia tidak peduli dengan keluarga Louise, intinya dia mendapatkan bayaran karena pekerjaannya ini.


__ADS_1



TBC


__ADS_2