
Vania ingin mengajak Adiba ke Mall agar mereka bisa merasakan refreshing, meski kesel dengan Adiba yang selalu saja semakin dekat dengan Alex tetapi Vani selalu berpikir positif, mungkin itu hormon kehamilan.
Vania masuk ke dalam kamar milik Diba dan ternyata kamar tersebut kosong, Vani melirik ke kamar mandi dan Adiba sepertinya sedang di dalam sana.
"Adiba!" teriak Vania dari balik pintu.
Diba menghentikan aktivitasnya, dia menajamkan pendengaran karena seperti mendengar seseorang memanggilnya.
''Mungkin aku salah dengar," gumam Diba sambil mengulurkan tangan untuk menghidupkan shower.
Tok tok tok!
Pintu kamar mandi pun diketuk, suara Vania kembali terdengar dan kali ini Diba menjawabnya.
"Adiba! Apa kamu mendengarkan aku?" teriak Vania untuk kesekian kalinya.
"Ya! Ada apa? Aku sedang mandi!" jawab Adiba dengan berteriak pula.
"Selesaikan mandimu dan kita akan pergi ke Mall!"
"Mall? Tumben Vania mengajak pergi bersama, syukurlah jika dia masih peduli padaku." gumam Adiba sambil mengedikkan bahu.
"Baiklah, tunggu aku lima belas menit lagi!" jawab Diba mengiyakan ajakan Vani.
Tidak ada lagi sahutan dan Vania memilih duduk di kursi meja rias, matanya terhenti karena melihat ujung buku yang keluar dari laci meja. Rasa penasaran mendorong Vania untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Dia mengerutkan dahi ketika sesuatu yang dia ambil adalah sebuah buku.
"Buku harian? Apa ini milik Diba? Aku penasaran dengan isinya."
Iseng, Vania membuka buku itu dan dia mulai membaca halaman awal. Mulanya tidak ada yang mencurigakan, semua isi buku hanyalah menceritakan tentang kehidupan Adiba dan dia bersyukur bertemu dengan Vania. Namun, saat sudah sampai di halaman akhir, mata Vania melotot ketika membaca halaman itu.
Vania merasakan dadanya sangat sesak sehingga untuk napas saja merasa sulit, dia menjatuhkan buku diary itu dan spontan berdiri dari tempat duduknya. Bersamaan dengan hal itu, pintu kamar mandi terbuka dan Adiba keluar dari sana dengan menggunakan jubah mandi juga handuk kecil yang membungkus rambut basahnya.
"Vani, kamu kenapa?" Diba bertanya sambil berjalan menghampiri Vania, dia masih belum sadar dengan sesuatu yang akhirnya terbongkar.
Vani menatap Adiba dengan mata merah, rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat ingin memberikan bogeman di wajah Adiba. Setelah Diba berada di dekatnya, Vania langsung menampar dengan kuat hingga sudut bibir Adiba mengeluarkan darah.
"Vani, apa-apaan kamu ini! Apa kamu sudah tidak waras, hah!" bentak Diba dengan marah besar.
"Kamu bilang aku tidak waras? Apa itu tidak terbalik? Kamu yang sudah gila Diba, kamu!" Vania melirik buku diary Adiba yang ada dibawahnya, dia mengangkat buku itu tepat di depan wajah Adiba.
__ADS_1
"Apa ini, hm? Jawab, Adiba! Jelaskan padaku apa maksud isi dari buku ini! Kamu mencintai suamiku, hah! Dasar tidak tahu malu!" Vania mencoba menahan air matanya.
Adiba pasrah karena semuanya sudah terbongkar, dia tidak mungkin menyembunyikan apa pun lagi dari Vania jika sudah begini.
"Ya! Kamu benar, Vania. Aku memang mencintai Mas Alex dan aku ingin memilikinya!" mata Adiba memerah.
Vania menggeleng. "Aku kamu melupakan perjanjian kita? Kamu lupa apa tujuanmu menikah dengan suamiku?"
"Aku masih mengingat semuanya! Baik, aku akan memberikan bayiku tetapi kamu harus berikan suamimu untukku!" tekan Diba tanpa rasa malu.
Dua kali tamparan Vania layangkan di pipi mulus Adiba, kini pipi itu sangat merah karena bekas tamparan dari Vani.
"Silahkan tampar aku sepuasmu, silahkan! Tapi, yang terpenting suamimu sudah bertekuk lutut kepadaku. Apa lagi yang ingin kamu lakukan? Van, hidup adalah sebuah pilihan dan kamu sudah memilih semuanya. Kamu yang memberikan aku peluang untuk masuk ke dalam rumah tanggamu, kamu juga yang sudah memberikan aku peluang agar aku bisa dekat dengan suamimu. Jadi, apa salah kalau diantara kami tumbuh benih-benih cinta, hm?"
"Diantara kami? Apa Alex—"
Adiba mengangguk.
"Ya, kami sudah bermusyawarah jika anak ini nanti lahir maka Mas Alex akan menceraikan kamu dan menikahi aku secara sah baik di mata agama atau pun negara."
Vania menggeleng, dia merasa menyesali semua keputusannya. Air mata juga tidak dapat lagi dibendung, Vani menangis. Dia tidak terima dengan semua ini, dirinya mencoba untuk tidak percaya dengan ucapan Adiba.
Dia menatap Adiba yang terlihat santai dengan senyum puas, rasa dendam dan marah membutakan mata hati Vania hingga dia mendorong Adiba hingga terjatuh. Vani mendekati tubuh Adiba yang telah terkapar di lantai, dia menjambak rambut itu dan sebelah kakinya ingin menginjak perut Diba agar bayi yang ada di dalam kandungan itu bisa gugur.
Tetapi, sebelum semuanya terjadi, pintu kamar terbuka dengan kasar dan Alex berlari ke arah Vania juga Adiba.
"Hentikan, Vania!" teriaknya tidak tertahan.
Vani mengentikan niatnya untuk menginjak perut Diba, dia menelan ludah secara kasar dengan tubuh gemetaran.
"B—by, ini semua—"
"Cukup!" Alex memotong perkataan Vania, dia sangat marah ketika melihat sudut bibir Adiba mengeluarkan darah dan rambut Adiba yang acak-acakan.
Alex membantu Adiba berdiri, dia mendudukkan Diba di pinggir ranjang lalu dirinya mendekati Vania.
"Apa kamu sudah gila? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Adiba dan bayi yang ada di dalam kandungannya?" bentak Alex di depan wajah Vania.
Vani terlonjak kaget karena baru kali ini Alex bicara kasar dengannya.
__ADS_1
"By, kamu membentakku? Kenapa kamu berubah seperti ini, hm?" Vani tetap dalam mode lemah lembut.
Alex menyingkirkan tangan Vani yang ingin memegang rahangnya.
"Berhenti bersikap sok baik! Ternyata seperti ini sikap aslimu, Vania. Apa masalahnya hingga kamu mau mencelakai Adiba? Bukankah kamu yang memintaku untuk menikah dengan Adiba, hah!"
"Kamu jangan berpura-pura tidak tahu apa pun, by. Aku sudah tahu semuanya dari buku diary Adiba dan dia juga sudah mengatakan semuanya padaku tentang kamu yang ingin menceraikan aku. Apa kamu tidak tahu hal itu?" Vania tidak tahan membendung tangisan.
Alex diam mematung, dia melirik Adiba yang hanya menunduk.
'Padahal aku sudah mengatakan jangan sampai Vania tahu tentang semua itu, tetapi mengapa Adiba malah menceritakannya?' Alex merasa bingung, dia tidak boleh mengelak lagi karena semuanya sudah terungkap.
"Ya, berhubung kamu sudah mengetahui semuanya berarti mulai detik ini, mulai saat ini aku talak kamu dan kamu bukan lagi istriku!" Alex menunjuk wajah Vania.
Deg!
Jantung Vani seakan berhenti berdetak, dia tidak menyangka perkataan itu lolos dengan mudah dari mulut Alex. Vani menggeleng, dia tidak terima.
"Enggak, aku mau kamu tarik kembali ucapanmu barusan, by! Aku tidak ingin bercerai dari kamu, aku sangat mencintaimu." Vani menangis sejadi-jadinya.
Alex mendorong tubuh Vania. "Aku sudah membuat keputusan dan aku tidak akan mudah berubah pikiran."
"By, kamu lebih memilih wanita j*ala*ng itu dibandingkan aku? Aku yang sudah menemanimu bertahun-tahun, kita sudah banyak melewati suka-duka bersama dan ini balasanmu padaku?" Vania menggenggam jemari Alex, dia tidak peduli harga dirinya jatuh di mata Alex.
Alex melepaskan tangan Vania. "Maaf, Van. Kamu yang sudah menciptakan drama ini dan kamu juga yang harus berakhir tragis. Pergilah dari rumah ini dan aku akan segera mengurus surat perceraian kita." lanjutnya yakin tanpa berubah pikiran.
Alex berjalan menghampiri Adiba, dia memeluk tubuh Diba dan menatap seluruh wajah wanitanya.
"Kamu baik-baik saja 'kan?"
Adiba mengangguk lalu mereka berpelukan.
Vania tidak tahan menerima takdir hidupnya, dia pergi dari kamar itu dan berlari menuju kamar miliknya.
Alex sendiri, dia pulang ke rumah karena ingin mengambil sesuatu yang tertinggal.
•
•
__ADS_1
TBC