Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 56 DTH


__ADS_3

Meninggalkan tentang Elza yang selalu mendapatkan perlakuan buruk dari Rizi, sementara Ica kini dipusingkan dengan teror dari nomor tidak di kenal. Dia heran dengan sang penelepon yang selalu mengatakan jika dirinya mempunyai salah karena sudah merebut calon suaminya. Ica pun menelusuri pemilik nomor ponsel itu dan hasilnya nihil. Dia tetap belum bisa mengetahui.


Ica duduk di tepi ranjang sambil memegang ponsel karena sedari tadi sebuah pesan terus saja masuk, dan dia memblokir nomor itu.


"Kenapa selalu saja ada nomor baru yang masuk dan seakan-akan sedang menerorku? Padahal aku sudah memblokir semua nomor yang memang tidak aku kenal." Ica menghela napas, dia pun akhirnya kepikiran oleh Alvin.


"Apa jangan-jangan?" Ica menghubungi nomor Alvin.


Mereka memutuskan untuk melakukan pertemuan di tempat biasa yaitu taman dekat danau. Ica pun segera bersiap, dia memakai pakaian santai yaitu setelan kemeja. Setelah selesai, dirinya pun langsung turun ke lantai bawah dan keluar dari rumah.


Ica melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar segera sampai di tempat tujuan.


Lima belas menit akhirnya Ica sampai terlebih dahulu dibandingkan Alvin. Dia menunggu Alvin sambil duduk di bangku panjang.


"Kenapa lama sekali?" Ica melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia tidak punya waktu lama karena ingin meeting dengan para pegawai.


Ve's boutique akan mengikuti kompetisi busana di luar kota, Ica ingin memperlihatkan kepada dunia tentang produk-produk terbarunya.


Setelah cukup lama menunggu yakni lima belas menit, akhirnya Alvin sampai dengan napas terengah. Ica yang melihat kedatangan Alvin langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Vin, kamu kenapa? Kok seperti habis di kejar-kejar setan begitu." Ica menatap Alvin dengan seksama.


"Maaf, Ca. Aku terlambat karena tadi ban mobilku pecah dan aku lupa membawa ban cadangan."


Ica merasa kasihan. "Lalu, kamu naik apa datang ke tempat ini?"


"Aku tadi mencari ojek agar bisa cepat sampai di tempat ini, aku langsung terburu-buru lari ketika melihat kamu sudah duduk disini." ucap Alvin diselingi senyum tipis.

__ADS_1


"Padahal tidak masalah jika aku harus menunggu." balas Ica membuat Alvin lega.


Mereka kembali duduk dan Ica segera membuka topik pembicaraan yang tertuju pada intinya.


"Vin, maaf aku tidak bisa berlama-lama. Begini, kamu kenal dengan nomor ini tidak? Dia mengatakan jika aku tidak boleh mendekati calon suaminya, kalau aku masih memaksa maka dia akan berbuat nekad. Aku tidak mengenalnya, bahkan calon suaminya siapa pun aku tidak tahu." Ica berkeluh kesah.


Alvin mengambil ponsel Ica, dia mengerutkan dahi dan menggeleng.


"Aku tidak mengenalnya," ucap Alvin tidak tahu jika itu nomor baru Violin.


Dari kejauhan, Violin mengepalkan kedua tangannya dengan erat karena melihat keakraban Alvin dan Ica. Dia sengaja datang ke Indonesia tanpa sepengetahuan dari Alvin, akan tetapi keluarganya bahkan kedua orang tua Alvin sudah tahu jika Violin berada di Indonesia. Mereka sengaja agar Violin bisa memisahkan Ica dan Alvin.


"Aku tidak akan membiarkan Alvin jatuh ke tangan siapapun, dia itu hanya milikku, hanya milik Violin." ucap Vio tajam dan geram.


Dia pergi dari sana karena hatinya merasa terbakar.


🌺🌺🌺🌺🌺


Fokusnya teralihkan kala seorang wanita cantik berhijab menyapanya.


"Assalamualaikum, bang Ali." wanita cantik itu tersenyum manis.


"Waalaikumsalam," jawab Ali dan semua muridnya.


"Imah, kamu baru datang? Abang pikir kamu libur hari ini."


"Maaf, bang. Tadi abah meminta Imah pergi ke warung dulu untuk belanja bumbu-bumbu dapur."

__ADS_1


Ali mengangguk. "Ayo, hari sudah semakin sore dan banyak anak-anak yang belum di ajarin."


Fatimah atau nama sapaannya Imah segera duduk di sedikit jauh dari Ali dan mereka mulai melanjutkan pengajaran.


Setelah satu jam berlalu, mereka semua keluar dari masjid. Imah mengucapkan salam perpisahan kepada Ali begitupun sebaliknya.


Ali Ismail, dia adalah seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahun yang pekerjaannya sebagai seorang guru ngaji di desa sumber sari, banyak sekali yang mengidolakan Ali karena selain tampan, dia juga memiliki kemampuan mengajarkan agama pada semua orang. Bahkan, Ali tidak pernah sungkan jika dia dijadikan imam pada saat Sholat berjamaah di masjid. Hal itu malah membuat Ali senang dan merasa bangga karena sudah di percaya oleh para warga desa.


Sementara Fatimah Asshiddiqie, dia anak bungsu dari pasangan suami-istri Umi Fatma dan Abah Haji Siddiq. Dirinya yang baru berusia dua puluh lima tahun sangat tertarik dengan Ali, teman mengajarnya di masjid. Fatimah atau akrab disapa Imah memiliki paras yang sangat cantik, sopan santun dalam berkata, hijab yang selalu menutup auratnya dan bajunya juga sangat sopan. Bagaimana tidak, Imah adalah anak seorang haji jadi tidak mungkin dia bersikap buruk karena itu akan mempengaruhi nama baik keluarganya.


Sesampainya di rumah, Imah tersenyum senang karena dia baru saja bertemu dengan Ali. Umi Atun tentu tahu apa yang membuat putrinya sebahagia ini, dia menegur Imah dengan senyum menggoda.


"Assalamualaikum anak Umi, kenapa senyum-senyum sendiri? Pasti, habis bertemu dengan pemuda idaman kamu 'kan?"


Imah menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan karena dia malu.


"Umi jangan menggoda Imah."


Umi Atun, dia adalah Ibu sambung Fatimah. Akan tetapi, hubungan keduanya sangat akrab hingga membuat Imah dah Umi terlihat seperti anak - ibu kandung. Umi juga menganggap Imah seperti anak kandungnya sendiri karena dia bercerai dari suaminya pada saat anak mereka meninggal dan Umi di salahkan untuk hal itu.


Padahal nyatanya penyebab kematian sang anak adalah ajal dan Umi tidak tahu menahu, pada saat itu, anak Umi yang berusia sepuluh tahun meninggal akibat penyakit mematikan. Umi tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain berdoa, suaminya merantau dan tidak pernah mengirimi dia nafkah. Umi berusaha keras mencari biaya pengobatan sang putra tetapi takdir berkata lain, putranya harus kembali menghadap Illahi.


Setelah Umi di cerai oleh suaminya, dia pun langsung berubah drastis dan menutup diri. Pertemuannya dengan Abah pada saat Umi datang ke pengajian dan disanalah keduanya saling tertarik lalu memutuskan untuk menikah. Anak pertama Abah sempat menolak jika Abah kembali menikah, namun itu semua bisa di selesaikan oleh Abah seorang.



__ADS_1


TBC



__ADS_2