
Di sekolah.
Alvin membawakan sebuah cokelat untuk Ica, sementara untuk Elza, dia membawakan permen karet karena Elza sangat menyukai itu. Alvin berjalan ke kelas Ica dan Elza, dia tersenyum ketika dia wanita cantik itu sedang saling mengobrol.
Semua mata tertuju ke arah Alvin, banyak siswi yang kesemsem oleh ketampanan Alvin Mahendra. Beberapa dari siswi berbisik ria karena Alvin hampir sampai di meja Ica dan Elza.
"Lihat deh, mereka beruntung ya bisa dekat dengan Alvin." ucap salah satu siswi.
Lainnya mengangguk.
"Iya, aku juga mau seperti mereka." sambung siswi lain.
Alvin menyapa Elza dan Ica, dia duduk di atas meja dan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Aku punya sesuatu untuk kalian."
Elza dan Ica saling lirik.
"Ayo cepat katakan, aku sangat penasaran." El bertepuk tangan sambil membenarkan tempat duduknya.
Alvin mengeluarkan permen karet untuk Elza. "Ini untukmu," ucapnya lalu kembali menyodorkan satu batang cokelat kepada Ica. " Ini untuk Ica."
Senyum dibibir Elza perlahan surut ketika Ica mendapatkan lebih darinya, dia meletakkan permen itu di atas meja. Sementara Siswi yang lain, mereka ikut terbuai dengan keromantisan Alvin memberikan cokelat kepada Ica.
''Kenapa aku hanya mendapatkan permen sementara Kak Ica cokelat? Kamu pilih kasih, Vin." Elza bersidekap sambil membuang muka.
Alvin hanya terkekeh melihat wajah itu. "Bukannya kamu sangat menyukai permen karet? Maka dari itu aku membelikannya khusus untukmu karena itu kesukaanmu. Apa kamu masih ingin merajuk, hm?"
__ADS_1
Elza melirik wajah Alvin yang sangat menggemaskan, dia tidak sanggup menahan tawanya dan kemudian tawa itu meledak lalu Elza kembali mengambil permen yang ada di atas meja.
"Baiklah, aku paham. Terima kasih kalau begitu." ucap Elza setelah tawanya reda.
"Kamu ini, terlalu banyak merajuk padahal itu tidak pantas. Perempuan yang bersikap seperti laki-laki bisa merajuk? Itu sangat lucu." Alvin tertawa hingga mengundang tawa siswa/i lainnya.
Ica hanya tersenyum tipis. "El, kamu mau cokelatnya juga? Baik, aku akan memberikannya untukmu."
"Benarkah?" Elza berbinar.
Ica ingin memberikan cokelat itu kepada Elza tetapi suara Alvin menghentikannya.
"Jangan! Ica, cokelat itu aku belikan untukmu dan kenapa kamu malah ingin memberikannya pada Elza?" Alvin merasa tidak terima.
"Vin, cokelat ini sekarang milikku bukan? Maka dari itu, aku bebas mau apakan termasuk memberikannya pada adikku." ucap Ica dengan rendah hati, dia memang selalu mengalah dengan Elza karena merasa dirinya adalah kakak dan harus banyak mengalah untuk sang adik.
Setelah Alvin pergi, Ica menatap Elza.
"Kamu mau cokelatnya? Ambillah!'' perintah Ica menggunakan nada lembut.
Elza menggeleng, dia tidak enak hati karena sang kakak selalu saja mengalah untuknya.
"Kenapa? Bukankah tadi kamu berdebat dengan Alvin hanya karena sebatang cokelat?" Ica menjadi heran.
"Aku, aku tidak mau. Cokelat itu, untuk kakak saja. Ya?" Elza tersenyum lebar.
Ica pun mengedikkan bahu lalu dia memasukkan cokelat tersebut kedalam tasnya.
__ADS_1
Siang hari.
Davin datang ke kelas Alvin, dia bersama dengan dua temannya dan berjalan dengan cool ke meja Alvin.
BRAK!
Hal itu sontak membuat Alvin terkejut, dia mendongak guna menatap Davin yang ada di dekat mejanya.
"Heh, gue minta sama lo jangan pernah mendekati Ica!" bentak Davin marah.
Alvin hanya tersenyum tanpa rasa takut sedikitpun.
"Memangnya apa hakmu melarang gue tidak boleh dekat dengan Ica?" Alvin menutup bukunya.
"Keras kepala ya nih bocah!" Davin ingin membogem Alvin tetapi temannya menghentikan.
"Dav, Lo harus bisa tahan emosi. Kalau Ica sampai tahu, dia pasti bakalan ilfil sama Lo." nasehat tekan Davin.
Davin menghela napas lalu dia menunjuk wajah Alvin. "Lo selamat kali ini, tapi kalau lo masih keras kepala! Habis Lo sama gue." lanjutnya dan pergi meninggalkan kelas Alvin karena bel masuk sekolah sudah terdengar.
Alvin hanya menggeleng, dia sama sekali tidak takut dengan ancaman Davin sang ketua geng ARKAS.
•
•
TBC
__ADS_1