
Setelah menikah, Elza di bawa ke luar negeri oleh Rizi. Pria itu tidak ingin tinggal di kota karena dia pasti akan terus mengingat Ica, itulah alasannya. Padahal, Rizi ingin menyiksa Elza hingga hidupnya serasa di neraka. Begitu pun dengan Elza, sikapnya sangat berbeda tidak seperti dulu. Saat ini dia telah menjadi wanita yang lemah, rapuh dan mudah menangis. Elza yang dulu memiliki sikap cuek, bar-bar dan kuat, sekarang sudah tiada. Semua itu berubah karena Vania dan Ica, dia merasa bersalah hingga dia membenci dirinya sendiri.
Sebelum pergi ke luar negeri, Elza memutuskan untuk ke pemakaman sang Mama terlebih dahulu. Dia meminta kepada Robi untuk mengantarkan ke pemakaman Adiba, dia tidak mau meminta bantuan pada Vania karena Vania pasti akan menolaknya.
Elza bersimpuh di samping makam milik Adiba, air matanya menetes dengan sangat deras setelah dia mengetahui semua kenyataan jika dirinya bukan anak Vania dan Ibunya adalah seorang pelakor.
"Ma, lihatlah! Mereka menduga jika aku keturunan Mama dan aku juga memiliki sifat yang sama seperti Mama yaitu merebut pasangan orang lain. Aku tidak ingin jadi seperti ini, Ma." Elza terisak di di tengah-tengah teriknya sinar matahari.
"Ma, sejenak aku berpikir ingin menyusul Mama. Tetapi aku ingat jika bunuh diri bukanlah solusi yang tepat untuk setiap masalah, aku tidak ingin semakin membuat Mama bersedih di atas sana. Aku harus bisa menjalani kehidupan ini 'kan, Ma? Aku tidak boleh mengeluh, benarkan?" Elza berbicara sendiri seakan-akan Adiba ada di dekatnya.
"Ma, doakan Elza agar sanggup menghadapi semuanya. Mama selalu ada di dekat Elza dan tidak akan pernah jauh dari El." ujar Elza penuh kesedihan.
Setelah lama berada di pemakaman kedua orang tuanya, Elza pun bergegas pulang ke rumah sebab cuaca terlihat mendung dan akan turun hujan. Robi menatap Putri sambungnya dengan iba, dia tidak menyangka jika Elza harus menjalani kehidupan seperti ini. Dia adalah anak yatim-piatu dan sekarang cobaan sedang menghampirinya.
🌺🌺🌺🌺
Berada di negeri orang tidak pernah terpikir dalam benak Elza, bahkan dia masih belum percaya jika saat ini dirinya susah menikah dan memiliki suami. Menikah dengan adanya cinta pasti membuat siapapun bahagia tetapi dia, dirinya menikah tanpa cinta dan dilandasi oleh paksaan. Elza melihat ke sekeliling kamarnya, dia menatap setiap sudut kamar yang begitu mewah dan megah. Akan tetapi, dirinya hanya sendiri di dalam kamar itu sementara Rizi berada di kamar lain.
Rizi memutuskan untuk pisah ranjang, dia tidak akan mau menyentuh ataupun menganggap Elza. Itu sudah menjadi keputusan bulatnya, dia juga tidak ingin bersikap baik.
__ADS_1
Malam hari ini, Elza bingung harus memasak apa sebab dia belum pernah berkutat dengan alat-alat dapur. Dirinya menggaruk kepala yang tidak gatal dengan menatap semua peralatan dapur dan isi di dalam kulkas. Disana hanya ada brokoli, telur dan tauge. Entah siapa yang mengisi kulkas itu tetapi disana sudah ada bahan makanan dari indonesia.
"Apa yang harus ku lakukan? Bahkan untuk memasak telur saja aku tidak pernah. Bagaimana ini?" gumam Elza seraya berpikir.
Rizi yang baru keluar dari kamar langsung tersenyum sinis melihat Elza.
"Apa kau bingung dengan semua peralatan itu?" ucapnya tiba-tiba dari belakang tubuh Elza.
Elza hanya menoleh sejenak lalu dia menunduk.
"Sudah ku duga jika kau tidak bisa melakukan apa pun, dasar anak manja! Aku sangat menyesal kenapa pada malam itu harus dirimu yang menemaniku." Rizi mengungkit kembali masa lalu mereka.
"Kau berani melawanku?" Rizi menghampiri Elza.
"Aku, aku—" Elza gugup hingga tangannya menggulung ujung pakaiannya sendiri.
"Dengar, Elza! Kau disini tidak memiliki siapapun dan kau tidak paham dengan negara ini. Aku bisa saja membuangmu dan kau bisa saja menjadi gelandangan disini, bahkan kau juga bisa mati kelaparan." Rizi menarik rambut Elza hingga El mendongak ke atas.
"Lepaskan rambutku! Kau ingin menyiksaku, ya?" tanya Elza dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Kalau iya memangnya kenapa? Kau bisa apa, hm? Aku sengaja membawamu ke negara ini semua itu agar aku bisa leluasa menyiksamu, kau paham?" Rizi menekan setiap katanya sambil melepaskan tangan dari rambut Elza.
"Apa salahku? Kenapa kau begitu jahat dan seakan-akan menyalahkan aku untuk semua yang telah terjadi saat ini? Apa kau lupa semua masalah itu timbul karena dirimu, hah!" Elza membentak Rizi dengan deraian air mata.
Plak!
Satu tamparan berhasil melayang di pipi Elza, pukulan itu sangat keras hingga meninggalkan bekas. Elza memegangi pipinya sambil menatap Rizi dengan tajam.
"Apa! Kau tidak terima dengan pukulan itu? Bahkan aku bisa melakukan hal yang lebih dari sebuah tamparan, kau mengerti!" teriak Rizi ditengah-tengah tangisan Elza.
"Ayo pukul lagi, pukul aku sepuasmu!" Elza berteriak kencang sambil memukul pipinya sendiri.
"Dasar tidak waras!" Rizi pergi meninggalkan Elza yang menangis dan berteriak histeris.
Elza merenungi nasibnya, baru hari pertama dia tinggal di rumah baru bersama dengan Rizi tetapi perilaku Rizi sudah sangat menyakitinya.
•
•
__ADS_1
TBC