Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 64 DTH


__ADS_3

Rizi sedang duduk di kursi ruang tunggu, untungnya dia segera datang tepat waktu sehingga Elza bisa tertolong. Pada saat itu, Rizi ingin makan siang di rumah karena entah mengapa dia sangat rindu dengan masakan Elza. Namun, sesampainya di rumah, Rizi di kejutkan dengan keadaan Elza yang sudah tergeletak di lantai. Dia memanggil Sisil tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Dirinya pun memutuskan membawa Elza ke rumah sakit karena darah mengalir dari pangkal paha Elza.


Setelah berada di rumah sakit, Dokter langsung menangani keadaan Elza dan ternyata Elza mengalami keguguran karena benturan keras di area perutnya. Hal itu membuat Rizi naik pitam dan dia mengeraskan rahangnya karena merasa lalai menjaga sang calon bayi.


Hingga saat ini, Elza belum juga sadar. Rizi meninggalkan rumah sakit dan dia bergegas menuju ke rumah.


Rizi sampai di rumah hanya memakan waktu lima belas menit karena dia melajukan mobilnya dengan begitu kencang. Saat ini emosi sedang menguasai dirinya, dia berjalan cepat menaiki anak tangga dengan teriakan memanggil nama Sisil.


Sisil tidak dengar karena dia sedang menonton Drakor melalui ponselnya dengan menggunakan headset.


BRAK!


Rizi membuka pintu kamar Sisil dan dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat ketika melihat Sisil yang bersantai seperti tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun. Dia berjalan menghampiri Sisil dan menarik headset yang ada di telinga Sisil dengan cepat.


Sisil tercengang karena tiba-tiba Rizi sudah ada di kamarnya.


"Pak Rizi, sejak kapan kamu ada di kamarku?"


Plak!


Tanpa basa-basi, Rizi langsung menampar pipi Sisil dengan kencang.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu menamparku, hah!" teriak Sisil tidak terima.


Rizi mencengkeram dagu Sisil hingga membuat sang empunya ketakutan.


"Jangan berpura-pura bodoh, Sisil. Kau sudah berani melenyapkan calon bayiku. Kau harus menerima semua balasan atas perbuatanmu itu!" Rizi menekan setiap katanya.


"Apa maksudnya? Bukankah harusnya kamu senang karena Elza sudah kehilangan bayinya? Itu berarti dia pasti akan sesegera mungkin pergi dari hidupmu!" teriak Sisil dengan suara tertahan.


Rizi memang mengatakan pada Sisil jika dia akan segera menceraikan Elza setelah Elza melahirkan buah hatinya. Tetapi semua itu tidak sesuai perkiraan karena Rizi saat ini telah jatuh cinta kepada Elza. Perlakuan Elza yang sangat baik padanya meski dia selalu menyakiti fisik maupun batin Elza tetapi El tidak pernah lalai dalam menjalani profesinya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Rizi merasa bersalah karena dia terlalu kasar dengan Elza selama ini, kebersamaan mereka beberapa bulan ini pun mampu membuat Rizi sadar jika Elza adalah yang terbaik untuknya. Walaupun sulit untuk melupakan Ica, tetapi Rizi akan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Ada Elza di sampingnya dan dia tidak ingin cintanya lagi.


"Itu dulu, Sisil. Kau tau, sekarang aku sudah berubah pikiran jadi jangan bersikap seenakmu saja di rumah ini." Rizi menatap Sisil dengan tajam.


"Berubah pikiran?" tanya Sisil yang membutuhkan penjelasan.


"Ya, aku mencintai Elza."


Sisil melotot dengan mulut terbuka, dia menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"Lalu, kamu anggap apa aku ini? Apa benar kamu hanya menganggapku sebagai selingan saja?"


Rizi mengangguk pasti. "Bagiku kau hanyalah perempuan murahan yang mau menyerahkan harga diri demi uang."


"Keterlaluan! Dasar pria breng*sek!" Sisil ingin memukul dada Rizi tetapi niatnya terhenti karena Rizi mencekik lehernya dengan cepat.


Sisil terbatuk-batuk, dia memukul tangan Rizi yang masih betah berada di lehernya.


"L—lepaskan, a—aku," lirihnya memohon.


"Pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi! Kau sekarang bukan lagi istriku!" teriak Rizi mengusir Sisil secara kasar.


Sisil menitikkan air mata, dia pikir seiring berjalannya waktu, Rizi akan menyukainya. Tetapi semua dugaan Sisil salah hingga dia harus menerima pahitnya hidup seperti sekarang.


🌺🌺🌺🌺


Dua Minggu kemudian.


Elza sudah sadar, Dokter pun memperbolehkan dirinya pulang ke rumah. Namun, ada sedikit hal yang berbeda dari dalam diri Elza yaitu sikapnya sangat dingin dan menjadi pendiam. Rizi merasa bersalah untuk semua perubahan yang ada pada diri Elza.


Saat ini, mereka berdua ada di dalam kamar karena El tidak boleh terlalu sering beraktivitas. Dokter menyarankan agar El bisa istirahat cukup agar kesehatannya cepat pulih. Saran itu Rizi patuhi, dia bahkan merawat Elza dengan baik tetapi sikap El tetap dingin padanya.

__ADS_1


"El, kamu mau makan apa hari ini?" tanya Rizi sambil duduk di tepi ranjang.


"Apa pun yang kau buatkan, pasti aku makan." jawab Elza cuek tanpa melihat ke arah Rizi.


Rizi menunduk sejenak sambil menghela napas pelan.


"Kamu masih marah denganku?"


Elza melirik Rizi sejenak dengan senyum hambar.


"Kenapa aku harus marah padamu? Memangnya kau telah berbuat salah apa padaku?"


"Aku yang sudah menyebabkan semua ini, maafkan aku." Rizi mengakui semua kesalahannya.


"Semuanya sudah terlambat, percuma saja kau meminta maaf." ketus Elza mengalihkan pandangan, dirinya sedih karena harus kehilangan buah hatinya yang pertama.


"El, aku mohon jangan seperti ini." pinta Rizi memasang wajah melas.


"Apa maksudmu? Semuanya sudah hilang dariku, kau sudah mengambil dan menghancurkan semua impianku untuk menjadi seorang Ibu." Elza menangis, dadanya terasa sesak jika mengingat hal itu.


"Aku sudah memberikan hukuman pada Sisil, aku yakin dia akan mendapatkan balasan setimpal."


"Terserah!" ucap Elza singkat.


Rizi pergi dari kamar itu, dia tidak ingin membuat Elza semakin membencinya. Dirinya harus memberikan Elza waktu untuk sendiri agar bisa menangkan pikiran.


Setelah Rizi pergi, Elza menangis terisak. Dia mengelus perutnya yang saat ini sudah tidak ada lagi nyawa di dalam sana.


"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bisa menjagamu dengan baik, maaf." lirih El dengan deraian air mata yang tiada henti.


__ADS_1



TBC


__ADS_2