Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 66 DTH


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Hanum dan Ica pergi ke sebuah Mall, Hanum sengaja mengajak Ica karena dia ingin membelikan Ica beberapa pakaian dan kebutuhan lainnya. Ica pun dengan senang hati ikut bernama dengan Hanum, selama dirinya mengajukan diri untuk menggantikan Hanum menikah dengan Ali, kakaknya itu terlihat sangat baik padanya tidak seperti dulu waktu pertama bertemu.


Sesampainya di Mall, Hanum menggandeng tangan Ica masuk ke dalam Mall tersebut. Mereka berkeliling melihat pakaian yang ada di beberapa tempat penjualan khusus pakaian wanita.


"Aul, kamu ingin membeli apa? Kamu ambil saja apa yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya." ucap Hanum sambil tersenyum tipis.


"Benarkah? Baiklah, aku akan membeli beberapa pakaian." Ica tersenyum riang, dia mulai masuk ke dalam tempat penjualan pakaian.


Dirinya memilih pakaian yang menurutnya simpel, sederhana namun terlihat elegan dan mewah. Dia pun memutuskan mengambil dua gaun berwarna biru laut dengan beberapa Payet di bagian dadanya. Gaun itu sangat indah apalagi jika di pakai oleh Ica.


"Kak, aku akan mengambil dua gaun ini." Ica menunjukkan pada Hanum.


"Ambillah, jika masih kurang maka kamu bisa mencari pakaian lain." tutur Hanum.


Beberapa jam kemudian, setelah selesai membeli pakaian dan lainnya, mereka berdua memutuskan pulang ke rumah. Saat hendak keluar dari Mall, tanpa sengaja Ica menubruk seseorang hingga membuat paper bagnya terjatuh ke lantai.


"Maaf," ucap pria itu membantu memunguti barang Ica yang terjatuh.


"Tidak masalah." jawab Ica membuat sang pria menghentikan gerakan tangannya dalam memungut paper bag.


Pria itu sangat mengenal suara wanita yang ada di depannya saat ini, dirinya menegakkan tubuh dan begitupun dengan Ica. Betapa terkejutnya dia ketika wanita di hadapannya saat ini adalah gadis yang dulu dia kejar-kejar sewaktu masih sekolah.


"Ica!" teriak pria itu penuh keterkejutan.


Hanum melirik pria tersebut dengan tajam, dia bergantian melirik Ica yang terlihat heran.


"Ica? Maaf, Tuan. Siapa yang Anda panggil dengan sebutan Ica?" tanya Ica penasaran.


"Kau, kau Ica! Apa kau lupa dengan namamu sendiri?" tanya sang pria penuh keyakinan.


"Aku?" Ica melirik Hanum yang hanya diam saja. "Aku, aku bukan Ica." ujarnya menegaskan.


Hanum menggandeng tangan Ica. "Dasar pria aneh! Siapa yang kau katakan Ica? Apa kau sudah tidak waras! Dia itu adikku, Aulia." tegas Hanum sambil menarik tangan Ica pergi dari sana.


Pria tersebut adalah Davin, seorang pemuda yang dulunya menyukai Ica sewaktu mereka masih bersekolah. Davin tidak mungkin lupa dengan wajah Ica, dia hanya diam memikirkan siapa wanita itu.

__ADS_1


"Apa wajahnya hanya mirip dengan Ica? Tapi tidak mungkin, bahkan suaranya juga sangat mirip dengan Ica. Argh, aku bisa gila gara-gara itu. Sebaiknya aku berkunjung ke rumah Ica untuk memastikan semuanya." ujar Davin bertekad, dia masuk ke dalam Mall untuk mencari sesuatu setelah itu dirinya memutuskan untuk pergi ke rumah Ica.


Davin di pindahkan tugas ke luar kota oleh sang Papa, dia harus mengurus pekerjaan di perusahaan cabang itu.


Tiga jam kemudian.


Setelah mendapatkan semua yang dia cari, Davin bergegas pergi ke rumah Ica. Dirinya telah sampai di rumah itu, tepat di depan gerbang. Davin menekan tombol bel dan gerbang langsung di buka oleh satpam yang bekerja disana.


"Maaf, Tuan. Cari siapa ya?'' tanya sang satpam.


"Apa pemilik rumah ini ada di dalam?"


Satpam itu melihat Davin dari atas hingga ke bawah, terlihat gaya formal Davin yang menandakan jika dia adalah salah satu pembisnis. Satpam tersebut menyimpulkan jika Davin memiliki sedikit kepentingan dengan sang majikan.


"Nyonya ada di rumah sedangkan Tuan masih di kantor." ucap sang satpam kepada Davin.


"Boleh saya bertemu dengan Nyonya? Ada sesuatu hal yang penting dan harus saya sampaikan." ucap Davin memberikan alasan.


"Silahkan masuk, Tuan." satpam pun mempersilahkan.


Davin masuk ke dalam rumah, dia menekan tombol bel yang ada di dinding rumah tersebut. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan keluarlah asisten rumah tangga.


"Apa saya bisa bertemu dengan Nyonya Vania? Beliau ada di dalam bukan? Saya ingin menyampaikan sesuatu hal yang cukup penting." ucap Davin mengulangi alasan yang sama ketika dia berbicara dengan satpam tadi.


"Nyonya sedang ada di kamar, saya panggilkan dulu. Tuan bisa menunggu di ruang tamu, silahkan masuk."


Davin tersenyum ramah lalu dia masuk ke dalam rumah lalu mendudukkan dirinya di sofa empuk itu.


Beberapa menit kemudian, Vania keluar dari kamar. Dia dapat melihat seorang pria yang usianya masih muda seperti Ica, Vania heran dengan kedatangan pria tersebut yang baru pertama kali dia lihat.


Sesampainya di dekat Davin, Vania tersenyum ramah. Dia duduk di seberang Davin dengan sopan.


"Maaf, Nak. Ada urusan apa, ya? Saya sepertinya baru melihat kamu."


"Halo, tante. Sebelumnya perkenalkan nama saya Davin, saya teman sekolahnya Ica dulu. Apa Ica ada di rumah? Saya ingin bertemu dengannya, sudah lama kami berpisah ketika melanjutkan pendidikan kuliah."


Raut wajah Vania langsung berubah murung, bahkan dirinya menunduk sedih ketika mendengar nama Ica. Davin pun heran dengan perubahan raut wajah Vania, dia menegur dan bertanya untuk memecahkan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Tante, ada apa?"


Vania meneteskan air mata. "Apa kamu tidak tahu kabar duka tentang Ica?"


Davin menggeleng terpatah. "Ada apa dengan Ica, tante?"


Vania menghela napas, dia menghapus air matanya dan mulai menceritakan kepada Davin tentang semua kejadian yang telah menimpa Ica. Davin syok berat, dia sangat terkejut mendengar perkataan Vania barusan. Dirinya terdiam sejenak lalu ingatannya kembali pada gadis yang tadi dia temui di Mall.


"Tante, tadi saya bertemu dengan gadis yang sangat mirip dengan Ica. Saya pikir dia Ica karena dari suara, bentuk tubuh, rambut dan semuanya sangat mirip dengan Ica." jelas Davin membuat Vania menatapnya dengan lekat.


''Apa yang kamu katakan, Nak? Ica sampai sekarang memang belum di temukan tetapi bukan berarti dia berada di tempat lain. Lagipula, jika dia selamat, mana mungkin dia tidak pulang ke rumah." Vania merasa frustasi.


"Tapi, tante! Saya tadi benar-benar melihat Ica, dia sangat mirip dengan Ica."


"Dimana kamu bertemu dengannya?"


"Di Mall Ciputra World, kota B."


Vania terdiam, Mall yang dikatakan Davin berada di luar kota. Vania sempat tidak percaya dengan ucapan Davin tetapi dia merasa penasaran dengan gadis yang dikatakan mirip Ica.


"Apa kamu tahu rumah gadis itu?"


Davin menggeleng lemas. "Saya hanya tidak sengaja bertemu dengannya tadi."


Vania menghembuskan napas secara kasar. "Bagaimana kita bisa bertemu dengan gadis itu sementara kita saja tidak mengetahui tempat tinggalnya."


"Saya akan membantu untuk mencari informasi tentang gadis itu, doakan saya semoga berhasil." ucap Davin yang memang ingin membantu untuk mencari keberadaan Ica.


"Terima kasih banyak, Nak. Suami tante juga akan berusaha mencari tahu tentang gadis itu."


"Saya turut berduka dengan semua yang menimpa Ica, semoga saja dia segera ditemukan dalam keadaan selamat dan baik."


Vania mengaminkan harapan dari Davin agar Ica segera di temukan.



__ADS_1



TBC


__ADS_2