
Rizi bertemu dengan seorang wanita yang usianya lebih muda dari Elza, dia memeluk wanita itu dan seketika senyumnya terukir di kedua sudut bibirnya. Mereka berdua sudah terlihat tampil rapi dengan Rizi yang menggunakan Jas juga kemeja putih. Sementara wanita di sampingnya memakai gaun indah nan elegan berwarna putih, terlihat dari wajahnya jika wanita itu seperti berasal dari Indonesia.
Rizi mengelus pucuk kepala wanitanya, mereka berjalan dengan bergandengan tangan dan Rizi tak henti-hentinya mengembangkan senyuman. Dia bahkan begitu bangga memperkenalkan wanita tersebut kepada semua orang yang ternyata teman rekan bisnisnya.
"Tuan Hans, perkenalkan ini Sisil, istri saya." ucap Rizi diselingi senyuman.
Tuan Hans hanya mengerutkan dahi karena dia pernah melihat di media sosial jika istri Rizi bukanlah Sisil.
"Apa dia istri barumu? Aku melihat di media sosial jika calon istrimu bukan ini." ucap Tuan Hans spontan setelah melepaskan jabatan tangan.
Rizi pun paham jika yang Tuan Hans katakan adalah Ica.
"Saya tidak jadi menikah dengan wanita itu, Tuan."
Tuan Hans mengangguk.
Mereka kembali berbincang dan Rizi memperkenalkan Sisil kepada semua rekan bisnisnya.
"Apa kau bahagia, sayang?" tanya Rizi ketika mereka berdua berada di meja.
"Tentu, tapi aku akan lebih bahagia jika menjadi istrimu satu-satunya." ujar wanita itu diselingi senyum manis.
"Ingat, Sayang. Kau itu hanya sebatas istri kontrakku, tidak lebih. Kau ingat perjanjian kita bukan? Kau akan pergi jika aku sudah puas membuat Elza menderita, hm?"
Sisil mengangguk sedih, dia sudah sangat mencintai Rizi dan tentu saja sulit melepaskannya.
Setelah dua jam lamanya mereka ada disana, Rizi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan dia harus pulang ke rumah. Mereka saat ini sedang berada di pesta pernikahan rekan bisnis Rizi yaitu Tuan Hans, Rizi sengaja tidak mengajak Elza karena dia tidak ingin membuat Elza besar kepala jika diajak ke pesta penting seperti ini.
Maka dari itu dia memutuskan membawa Sisil yang hanya sebatas istri kontrak, Rizi memberikan Sisil yang sebesar lima ratus juta agar Sisil mau menuruti ucapannya sekaligus menjadi budak hasratnya.
Sisil tidak bisa menolak pada waktu itu, dia yang awalnya hanya seorang sekertaris kini telah menjadi istri simpanan dari Rizi. Dia menerima uang tersebut karena ingin membantu keluarganya yang ada di Indonesia, dan dia juga sangat tertarik dengan Rizi.
Wajah Sisil sangat cantik, kulitnya putih bersih, tingginya sekitar 155cm, dan rambutnya panjang sebatas pinggang.
Mereka telah sampai di rumah, Rizi menggandeng Sisil dengan mesra agar membuat Elza sakit hati. Pintu dibuka dan ternyata Elza tidak ada disana untuk menunggu Rizi pulang ke rumah.
'Tumben sekali perempuan itu tidak ada, kemana dia?' Rizi bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Elza keluar dari dapur, dia yang tadinya memegang gelas langsung syok sehingga membuat gelas yang di pegang terjatuh ke lantai. Dirinya diam tak berkutik melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Elza dengan cepat berjalan ke arah Rizi, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan matanya sudah memerah.
"Apa-apaan ini! Kau sudah gila?" teriak Elza tidak terima.
Rizi melirik Sisil yang bergelayut manja di lengannya.
"Dia istriku."
"Hah!" Elza tercengang, ingin rasanya dia mencabik-cabik wajah Rizi dan wanita di depannya itu.
"Kenapa? Apa kau tidak terima?" Rizi bertanya dengan nada santai seperti tidak bersalah.
"Kau bertanya aku terima atau tidak? Tentu saja aku tidak terima, apa kau gila! Sejak kapan? Sejak kapan semua ini terjadi di belakangku, hm?" Elza masih mengepalkan tangan dengan erat.
"Sejak kita pindah ke negara ini, aku sudah menjalin hubungan dengannya dan satu bulan yang lalu kami memutuskan untuk menikah."
Elza menggeleng tidak terima, dadanya sangat sesak mendengar pengakuan dari Rizi. Istri mana yang bisa menerima semua hal ini, pernikahan mereka bagaikan mainan semata.
"Aku sadar jika kau tidak akan pernah menganggapku sebagai seorang istri, tetapi setidaknya kau bisa sedikit saja menghargai aku sebagai seorang perempuan! Kau benar-benar tega, Rizi. Kau jahat!" Elza ingin memukul Rizi tetapi lengannya di tahan dengan kuat.
"Jangan pernah bersikap kurang ajar, Elza! Aku bisa saja memukulmu saat ini, kau tau itu." Rizi menekan setiap katanya.
"Kau sama sekali tidak bisa menghargai perasaan wanita padahal kau sendiri juga terlahir dari seorang wanita." Elza mengeram.
Rizi hanya tersenyum sinis, mata Elza beralih menatap Sisil yang terus diam saja tanpa melepaskan pegangan tangannya di lengan Rizi. Elza semakin panas melihat raut wajah wanita itu, dia melepaskan tangan Rizi dengan kasar lalu berdiri berhadapan dengan Sisil.
"Apa kau puas, hah? Kau sangat bangga bisa menjadi seorang pelakor, kau tentu tahu apa itu arti pelakor bukan? Kau itu adalah seorang perempuan dan kau menyakiti perasaan sesama jenismu. Dimana hatimu, terletak dimana pikiranmu?" dada Elza terlihat naik turun dengan cepat yang menandakan jika dia sedang tersulut emosi.
"Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku, lalu aku bisa apa selain menerimanya?" ucap Sisil membuat Elza semakin naik pitam.
Elza dengan cepat menarik rambut Sisil, gerakannya yang sangat cepat membuat Sisil terkejut begitupun dengan Rizi.
"Elza, apa yang kau lakukan? Lepaskan rambut Sisil, dia bisa kesakitan!" Rizi membantu melepaskan tangan Elza yang tak mau lepas dari rambut Sisil.
Sisil hanya meraung kesakitan, dia menahan tangan Elza agar tidak semakin kuat menarik rambutnya.
"Lepaskan rambutku, wanita sinting!" teriak Sisil memberontak.
__ADS_1
Elza tidak memberikan ampun kepada pelakor itu, dia seperti orang yang kesetanan.
Rizi berhasil menarik tangan Elza, dia membopong Elza berjalan menaiki anak tangga.
"Sayang, kau pergilah ke kamar kita. Aku akan memberikan hukuman pada wanita sialan ini." ucap Rizi sedikit berteriak karena Sisil berada di lantai bawah.
Sisil mengangguk dengan cepat.
Rizi membawa Elza masuk ke kamarnya, dia membanting pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Rizi pun menghempaskan tubuh Elza ke atas ranjang, dia membuka jasnya dan membuang dengan sembarangan. Elza merasa takut, dia memundurkan tubuhnya ke belakang.
"A—apa yang ingin kau lakukan?" Elza bertanya ketika melihat Rizi sudah membuka ikat pinggang dan menggulung kemejanya hingga ke siku.
"Kau pasti menginginkan ini bukan? Aku lihat kau sekarang berani melarangku, melawan ucapanku dan membantah. Aku harap hukuman ini bisa membuatmu jera, dan kau ingin jadi istri yang baik untukku bukan? Baik, rasakan hukuman ini." Rizi mulai mengayunkan ikat pinggang ke udara lalu memukulkan ke tubuh Elza sebanyak tiga kali.
Elza menangis dan meminta ampun, setelah itu Rizi menyudahi cambukannya.
"Apa kau merasa sakit atau nikmat?" Rizi tersenyum tipis sambil membungkukkan badan mendekati wajah Elza.
Elza terisak, dia ketakutan karena baru kali ini Rizi bersikap kelewatan seperti sekarang.
"K—kau gila," ucap Elza disela tangisnya.
"Ya, aku gila! Aku gila karena semuanya tidak sesuai dengan rencanaku dan Ica! Aku benci semua ini, aku benci!" teriak Rizi frustasi, dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengatur deru napas.
"Sekarang kau harus merasakan hukuman terakhir dariku." Rizi mendekatkan bibirnya dan dia mulai mengulum bibir itu dengan sangat kasar hingga membuat Elza susah untuk bernapas.
"Emmph, hemmph," hanya kata itulah yang keluar dari mulut Elza dan deraian air mata.
Rizi melepaskan lu*ma*tan itu ketika dia merasa kehabisan oksigen.
"Bagaimana? Apa kau ingin merasakan yang lebih?" Rizi tersenyum licik.
Elza menggeleng. "Tidak, aku mohon jangan. Maafkan aku, aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku akan mengubah sikapku tetapi aku mohon jangan lakukan ini padaku, aku mohon." Elza menatap Rizi dengan memasang wajah melas dan memohon.
Rizi tidak peduli, dia bahkan sangat suka melihat wajah itu. Dirinya pun melakukan apa yang otaknya perintahkan. Kejadian di apartemen pun terulang kembali tetapi saat ini keduanya dalam keadaan sadar.
•
__ADS_1
•
TBC