
Tiga bulan kemudian.
Vania menjalani harinya seperti biasa dan saat ini dia sangat menikmati aktivitas sebagai seorang ibu dari dua orang anak. Vani sama sekali tidak keberatan mengurus Elza karena biar bagaimanapun dulu dialah yang meminta Alex agar menikahi Adiba dan Elza adalah keinginannya. Saat ini, Elza dan Ica sangat pintar merangkak sehingga membuat Vania harus ekstra waspada. Hari itu, Ica hampir saja masuk ke dalam bathtub yang berisi air penuh.
Bunyi bel rumah membuyarkan fokus Vania dalam merawat kedua putrinya, dia membuka pintu dan tersenyum saat melihat siapa yang datang.
"Kak, kamu datang? Ayo masuk,"
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, Robi tersenyum ke arah dua bayi imut itu dan dia lebih memilih untuk menggendong Ica.
"Morning, Princess." sapa Robi sambil mengecup kedua pipi Ica. "Eum, harum sekali. My princess sudah mandi?"
Veronica hanya tertawa, dia merasa geli dengan kumis milik Robi.
"Kak, apa kamu tidak ingin menyapa dia juga? Kamu tidak lupa 'kan jika sekarang dia itu putriku." Vania menggendong Elza.
Robi melirik Ica sejenak lalu dia meletakkan di karpet dan dirinya beralih menggendong Elza.
"Morning, Elza. Kamu juga sudah mandi? Mama kalian berdua benar-benar sangat rajin, masih pagi seperti ini tetapi kalian berdua sudah sangat wangi." Robi mengecup pipi Elza.
__ADS_1
Dia kemudian meletakkan Elza di samping Ica dan Robi mulai menatap Vania dengan serius.
"Sa, aku ingin berbicara sesuatu dan ini serius. Aku mohon pikirkan terlebih dahulu pertanyaanku ini sebelum kamu menjawabnya."
Vania mengangguk dengan alis mengerut. "Ada apa? Sepertinya sangat serius."
"Sa, aku mohon menikahlah denganku. Aku akan membantumu untuk mengurus kedua putri kecil ini dan aku tidak akan mengecewakanmu, bahkan aku juga akan menganggap mereka berdua seperti anakku sendiri. Aku sudah lama memendam perasaan ini, tolong jangan membuatku merasa penantian selama ini sia-sia." ucap Robi serius dan yakin.
Vania terdiam sejenak, jujur dia bingung harus menjawab apa. Sejenak kemudian dirinya mengangguk, Vania sudah memikirkan masa depan bersama dengan kedua putrinya itu. Dia memang membutuhkan seorang suami untuk menjadi tempatnya bersandar, tempatnya berkeluh kesah saat dia sedang merasa lelah dan pria yang tepat untuknya adalah Robi. Vania tidak akan bisa mendapatkan pria seperti Robi, mencintainya seperti sekarang ini dan mau menerima keadaannya.
"Sa, apa arti itu?" Robi mengangguk.
Robi tersenyum bahagia, dia melompat kegirangan lalu refleks memeluk tubuh Vania.
"Terima kasih Vania, terima kasih."
Kedua bayi yang melihat adegan mesra itu hanya tertawa bersamaan dan hal itu membuat Robi segera melepaskan pelukannya.
"Lalu, kapan kita akan menikah? Aku tidak suka menunda sesuatu yang baik."
__ADS_1
"Secepatnya, kakak cari saja hari yang baik dan aku akan setuju."
Robi tersenyum lebar, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu. Akhirnya penantian selama ini terjawab sudah, perjuangan cinta Robi membuahkan hasil yang akan membuat masa depannya indah.
"Apa aku boleh memelukmu sekali lagi?"
Vani mengangguk malu tetapi saat Robi ingin memeluk tubuh Vania, suara Ica menghentikan niatnya.
"Pa pa pa," celoteh Ica tanpa jelas.
Sontak hal itu membuat Robi dan Vani menoleh, mereka tertawa bersamaan.
"Iya, Sayang. Ini Papa, sebentar lagi Papa akan tinggal bersama dengan kalian berdua. Pasti kamu senang 'kan?" Robi berjongkok di dekat Ica lalu Vania menyusulnya.
Semua tertawa bersama saat melihat wajah Elza yang penuh dengan bedak bayi. Vania menggendong Elza sementara Robi menggendong Ica, mereka terlihat seperti keluarga kecil bahagia.
•
•
__ADS_1
TBC