Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 47 DTH


__ADS_3

Ica sedang bingung memikirkan keberadaan Rizi, orang tua Rizi menghubunginya dan mengatakan jika Rizi belum pulang sampai saat ini. Ica memberitahu jika memang dirinya sudah membuat janji dengan Rizi jika mereka akan pergi ke pesta melepas lajang, akan tetapi Ica tidak bisa hadir karena berhalangan teman-temannya datang untuk meeting kompetisi desainer di luar kota. Hal tersebut membuat kedua orang tua Rizi semakin khawatir.


Ica mencoba menghubungi ponsel milik Rizi tetapi tidak tersambung, dia juga menanyakan tentang Rizi kepada semua temannya. Seketika senyum Ica langsung mengembang saat salah satu teman Rizi mengetahui keberadaan Rizi.


"Halo! Kak, apa kamu tahu dimana Rizi? Orang tuanya bilang dia belum pulang dari tadi malam. Apa mungkin dia menginap di rumah kakak?" tanya Ica penuh harapan.


📱"Tidak, tadi malam dia sudah pulang lebih dulu dibandingkan kami. Tapi, aku melihat dia bersama dengan wanita, aku pikir wanita itu kamu."


Ica mengerutkan dahi. "Seorang wanita? Dimana?"


📱"Entahlah, mereka berada di satu mobil dan Rizi membawa wanita itu pergi."


Ica terperangah, dia membekap mulutnya dan menggelengkan kepala.


'Tidak mungkin Rizi melakukan hal menjijikan itu, aku yakin ini hanyalah akal-akalan kak Morgan saja.' batin Ica.


"Ya sudah, terima kasih atas infonya.'' ucap Ica langsung mematikan sambungan telepon.


Dia mengingat satu tempat, apartemen. Dirinya bergegas pergi ke apartemen milik Rizi karena feelingnya yakin jika Rizi ada disana.


Sesampainya di lantai bawah, Vania memanggil Ica.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau kemana?" Vania menghampiri Ica.


"Ma, Caca ingin menemui kak Rizi di apartemennya. Mamanya sangat khawatir karena kak Rizi belum pulang dari tadi malam."


Vania mengerutkan keningnya. "Nak, adik kamu juga tidak pulang tadi malam."


Ica menepuk dahinya. "Astaga, kenapa Ca tidak menyadari itu, Ma? Caca terus memikirkan tentang kak Rizi sehingga Ca tidak mengetahui adik Ca sendiri tidak pulang ke rumah. Ca tidak menyadari itu padahal kami sekamar," Ica merutuki kebodohannya.


"Sudahlah, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mama minta, setelah pulang dari apartemen Rizi kamu tolong cari adik kamu. Mama benar-benar khawatir." Vania tidak bisa berpikir jernih.


Ica mengangguk, dia memutuskan untuk mencari Elza ke rumah temannya setelah dia pulang dari apartemen Rizi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Rizi semakin syok saat melihat keadaannya, dia melotot tajam dan mendorong tubuh Elza.


"Bangun!" teriaknya kencang hingga membuat Elza terbangun.


Elza menatap Rizi yang ternyata sudah bangun dan sadar, dia menarik selimut hingga sebatas leher dan dirinya memegangi selimut tersebut dengan kencang.


"K—kak," lirihnya.

__ADS_1


Rizi mengusap wajah dengan kasar. "Kau, kenapa kau ada di kamarku, hah!"


"Kak, aku—" Elza terlihat gugup sehingga untuk bicara saja sangat sulit.


"Jawab!" bentak Rizi membuat Elza terlonjak.


Elza menceritakan semuanya kepada Rizi, dia meneteskan air mata ketika mengingat kesuciannya yang telah Rizi renggut.


Rizi melongo, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Di kala keduanya sedang dilanda oleh kebingungan, pintu kamar terbuka begitu saja.


"Sayang—" ucapan Ica terhenti kala dia melihat pemandangan yang membuat matanya pedih.


Ica berjalan gontai ke arah ranjang, matanya menatap nanar kedua insan yang tertutup selimut tebal itu. Dia tidak bisa berkata-kata dan hanya mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Ica berharap semua ini hanyalah mimpi, dia menepuk kedua pipinya setelah berhenti tepat di dekat ranjang.


"Kak, Elza," ucapnya pelan hampir tidak terdengar.


Tetesan air mata jatuh begitu saja, Ica menghapusnya dengan kasar dan cepat. Dia menatap kedua insan yang masih berbalut selimut tanpa memakai sehelai benangpun dengan tatapan sedih.



__ADS_1


TBC


__ADS_2