
Ica berubah menjadi tipe wanita yang pendiam, dia bahkan sering lalai menjaga kesehatan dan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Namun, meskipun begitu, dia selalu saja teringat dengan Rizi. Ica sudah berusaha merelakan sang mantan kekasih, tetapi karena Rizi adalah cinta pertamanya maka hal itu menjadikan Ica sulit melupakan. Dia tidak mudah move on begitu saja walaupun sudah satu bulan dirinya di tinggal oleh Rizi.
Saat ini Ica berada di butik, dia mendesain rancangan gaun terbaru yang sangat indah nan elegan. Para teman Ica juga bertanya-tanya tentang masalah yang menimpa Ica, mereka heran mengapa calon suaminya bisa menikah dengan adik kandungnya. Ica hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan dari sang sahabat, sebab menurut Ica itu semua adalah aib keluarga.
Seorang karyawan masuk ke dalam ruangan Ica sambil membawa buket bunga.
"Permisi, Bu. Saya ingin memberikan ini, tadi ada kurir yang mengantarkan buket bunga untuk Ibu Ica."
Ica mengerutkan dahi, dia heran pasalnya dia tidak pernah memesan sesuatu apa pun.
"Tapi, saya tidak pernah memesan bunga. Apa kurir itu masih ada diluar?" tanya Ica dengan menyudahi aktivitas jemarinya di atas tab.
"Kurirnya sudah pergi, Bu. Saya tadi sudah bertanya siapa pengirimnya tetapi kurir itu tidak ingin memberitahu, maka dari itu saya pikir ibu yang memesan buketnya." ucap sang pegawai membuat Ica semakin heran.
Pasalnya, setiap hari dia selalu mendapatkan kejutan seperti ini. Jika bukan bunga maka cokelat atau lainnya. Ica tidak pernah menyimpan pemberian dari orang tidak dikenal itu, dia selalu membuangnya dan berpikir jika itu adalah perbuatan orang iseng.
"Baik, kamu bisa pergi.'' ujar Ica kepada pegawainya.
"Saya permisi, Bu " pegawai tersebut pergi dari ruangan Ica.
Setelah Ica hanya sendirian di dalam ruangan, seperti biasa di menemukan secarik kertas di dalam buket tersebut. Dia mulai membuka surat itu dan membacanya.
'Matamu selalu memancarkan kesyahduan, aku terpesona dengan tatapan matamu dan tidak bisa lepas darinya. Rambutmu yang indah bergelombang bagaikan gelora cinta di hatiku, sejak dulu aku sudah mengagumimu, menyukaimu, akan tetapi kau tidak pernah melihat ke arahku. Bukalah mata hatimu untukku sekali saja, aku yakin kau pasti akan tahu ketulusanku. By: Pengagum rahasia.'
Ica meremas kertas itu, dia membuangnya ke tempat sampah bersamaan dengan buket bunga.
"Dasar orang aneh! Dia pikir dia siapa seenaknya saja mengirim pesan seperti itu? Ini bukan jaman dulu dimana ingin menyampaikan perasaan harus melewati surat, setidaknya jika dia itu gentle maka dirinya perlu menemuiku secara langsung. Tapi, aku pasti tidak akan menerimanya." gumam Ica mengeluarkan segala kekesalan.
Dia pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera pulang ke rumah. Namun, belum juga fokus terdengar suara getaran ponsel yang menandakan ada pesan masuk. Ica segera membuka pesan itu dan menghela napas dengan berat.
__ADS_1
"Satu masalah belum terpecahkan, datang lagi masalah baru. Alvin, kenapa sih kamu selalu menggangguku? Maaf jika aku tidak merespon apa pun darimu karena aku sedang ingin sendiri." ucap Ica meletakkan ponselnya di atas meja.
Sementara di seberang sana, Alvin sedang menunggu balasan dari Ica. Dia sangat penasaran dengan reaksi Ica ketika dirinya selalu mengirimkan bunga, cokelat atau kue lainnya ke butik milik Ica. Bahkan, ingin rasanya Alvin memberikan itu secara langsung tetapi mentalnya belum siap.
Dia mulai merasa gelisah ketika pesannya hanya centang dua berwarna biru yang berarti Ica sudah membaca tetapi tidak di balas. Alvin melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan dia merebahkan diri. Alvin memejamkan matanya sejenak, dia menghirup udara sebanyak mungkin lalu membuka matanya kembali.
"Apa sih salahku pada Ica? Kenapa dia sangat berubah seperti ini?" Alvin merasa sedih, tetapi dia akan terus mencoba memperjuangkan cintanya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Malam hari.
Elza masih setia duduk di kursi tamu, dia bingung harus melakukan apa hari ini. Dirinya termenung sambil mengingat masa-masa bahagia bersama dengan Ica dan orang tuanya. Elza merasa ini semua tidak adil untuknya, dia adalah anak yang baik tetapi mengapa takdirnya harus seperti ini?
"Apa salahku? Aku bahkan tidak pernah melawan orang tua tetapi kenapa aku harus mendapatkan cobaan seperti ini? Tak pernah terlintas di benakku jika aku akan menikah dengan pria yang tidak aku cintai dan bahkan calon kakak iparku sendiri." Elza menunduk lesu.
Elza dengan cepat menghampiri mereka, dia mendorong tubuh wanita seksi itu dan berkacak pinggang.
"Apa-apaan ini?" teriak Elza tidak terima.
"Sayang, apa kita sudah sampai di rumah?" suara Rizi terlihat pelan, sepertinya dia sedang dalam keadaan mabuk.
Elza melongo, dia heran dengan panggilan Rizi untuk wanita seksi itu.
"Sayang? Sudah berapa lama? Dan, apa yang sudah terjadi? Jawab aku!'' Elza ingin sekali menghajar Rizi saat ini.
Rizi menatap Elza dengan mata sayu, dia terkekeh pelan.
"Hei, ada perempuan ja*la*ng disini, kenapa kau harus bertanya seperti itu, bodoh?" Rizi berbicara seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan Elza.
__ADS_1
"Kau, kenapa kau melakukan ini padaku? Siapa wanita ini?" Elza menatap wanita di samping Rizi dengan sinis.
"Kau tidak perlu tahu siapa dia, intinya jangan sok mengatur hidupku atau pun melarangku." Rizi ingin pergi tetapi lengannya di tahan oleh Elza.
"Baru pertama kali kita menapakkan kaki di negara ini dan kau sudah memperlihatkan sifat aslimu, beruntung kakakku tidak menikah dengan pria jahat sepertimu!"
Plak!
Rizi menampar pipi Elza dengan begitu kencang, tak peduli disana masih ada wanita lain.
"Diam! Kenapa kau harus menyeret nama Ica? Dia itu perempuan yang sangat aku cintai, berhenti memasukkan namanya ke dalam masalah kita! Kaulah yang memulai semua ini, gara-gara dirimu aku harus merelakan cintaku dan menikahimu. Aku sangat menyesal, kau tau itu! Jika bukan karena Mamaku yang memaksa, mungkin aku akan meninggalkanmu begitu saja." Rizi mengeluarkan semua unek-uneknya, bau alkohol sangat menyengat keluar dari mulut Rizi.
Elza hanya menangis, dia tidak terima dengan tuduhan Rizi yang selalu saja menyalahkannya padahal dia adalah korban di dalam masalah mereka.
Rizi pergi meninggalkan Elza yang sudah menangis, dan wanita seksi itu pergi juga dari rumah Rizi. Sementara Elza, dia menatap punggung belakang Rizi dengan rasa hancur.
"Kenapa harus aku? Kenapa! Hiks," Elza berteriak sekencang mungkin dan Rizi tentu saja mendengarnya.
Di dalam kamar.
Rizi membaringkan tubuh di atas ranjang, dia tersenyum jahat dan merasa puas untuk hari ini.
"Ini belum seberapa, Elza. Kau pasti akan merasakan hal yang lebih pedih dari ini, lihat saja." Rizi mulai memejamkan mata dan dia tertidur dalam keadaan kacau.
•
•
TBC
__ADS_1