Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 29 DTH


__ADS_3

Vania memutuskan untuk pergi ke rumah Alex, tak lupa dia membawa kertas hasil dari pemeriksaan Dokter sebagai tanda bukti jika nanti Alex mengelak. Setelah sampai di rumah Alex, Vania segera mengetuk pintu utama. Cukup lama dia berdiri disana tetapi tidak ada yang membukakan pintu, Vani melihat pintu rumah itu tidak di gembok dan menandakan sang pemilik rumah ada di dalam. Vani mencoba membuka pintu tersebut, ternyata tidak di kunci dan dia bisa langsung masuk ke dalam sana.


Jam menunjukkan pukul delapan, biasanya Alex belum pergi bekerja.


"Alex! Alex!" teriak Vania cukup kencang hingga keluarlah sepasang insan yaitu suami-istri dari kamar mereka.


"Mau apa kamu datang ke rumah ini?" bentak Alex tidak suka melihat kedatangan Vania yang dia yakini akan membuat keributan.


Sesampainya di dekat Alex, Vania melemparkan kertas hasil pemeriksaan tepat di wajah Alex.


"Apa ini?" tanya Alex penasaran.


"Lihat saja sendiri, kamu akan tahu apa isi dari dalam amplop itu." ucap Vani dengan wajah datar.


Alex melirik Adiba sejenak lalu dia membuka amplop tersebut dan membaca isi kertas yang ada di dalam sana. Seketika senyum Alex terbit dan Vania yakin jika Alex bahagia melihat hasil dari pemeriksaan itu. Vani ikut tersenyum tetapi sedetik kemudian senyuman ya surut berganti dengan kesedihan. Bagaimana tidak, Alex melemparkan kertas itu di wajah Vani, dia mendekati Vani hingga wajah mereka berjarak cukup dekat.


"Kebohongan apa ini, Vania? Kamu ingin kembali padaku dengan melakukan hal licik seperti ini?"


Vania menggeleng. "Lex, itu semua tidak bohong. Hasil pemeriksaan itu akurat dan menyatakan jika aku positif hamil!" lanjutnya tidak terima dituduh sebagai pembohong.


Alex tertawa, dia menjentikkan jarinya dan menunjuk wajah Vania.


"Jangan mencoba untuk mengelabuhi aku, Vania. Kita sudah berpisah selama satu bulan dan kamu mengatakan jika dirimu hamil?"


"Lex aku mohon percaya denganku kali ini saja. Kamu, kamu lebih percaya dan memilih wanita ******* itu dibandingkan aku? Sadar Alex, sadar." Vania menangkup wajah Alex.


Alex pun menghempaskan tangan Vania dengan kasar.


"Jangan menyentuhku! Cukup sudah semua sandiwara ini, Vania. Jaman sekarang semua bisa di lakukan hanya menggunakan uang, bisa saja kamu sengaja menyabotase hasil pemeriksaan itu dan membayar Dokter."


"Fitnah keji apa itu, Alex? Apa menurutmu aku selicik itu, hm?" air mata tidak tertahankan lagi.


"Sudah, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu. Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini dan aku tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi! Hubungan kita cukup sampai disini dan aku tidak akan berubah pikiran." Alex mengusir Vania dengan rasa amarah.


Vania terus menangis, dia pikir Alex akan percaya padanya tetapi sepertinya Alex sudah berubah. Vani melirik Adiba yang hanya diam saja melihat pertengkaran dia dan Alex. Perlahan, langkah Vania membawanya mendekati Adiba.

__ADS_1


"Puas kamu!" tekan Vani menatap Adiba dengan tajam.


Setelah itu dia bergegas pergi dari sana tetapi suara Alex mengentikan dia.


"Tunggu! Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu.'' Alex berlari kecil kembali ke kamarnya.


Beberapa detik kemudian, dia turun ke lantai bawah dengan membawa sebuah map.


"Ini, tandatangani!" perintahnya seraya meletakkan map itu di telapak tangan Vania.


Vania menghapus air matanya, dia membuka map itu dan napasnya tercekat kala melihat isi dalam map tersebut.


"Surat pengadilan?"


"Ya, tandatangani dan kita akan secepatnya berpisah setelah itu aku akan menikahi Adiba secara resmi." Alex tersenyum tipis ke arah Diba sambil memeluk pundak Adiba.


Vania benar-benar sakit hati, dia tidak menyangka jika kehidupan rumah tangganya akan berakhir seperti ini.


"Apa tidak ada lagi kesempatan untuk aku, Lex?" lirihnya sebelum menandatangani surat itu.


Alex menggeleng. "Cepat tandatangani dan pergi dari sini!" usirnya.


"Baik jika ini keputusanmu, aku harap kamu tidak akan menyesal telah memilih wanita ja*la*ng seperti dia!" Vani menunjuk wajah Adiba.


"Tentu saja aku tidak akan menyesal karena dia ini pilihanmu, benarkan?" singgung Alex membuat Vania merasa bersalah.


Alex teringat sesuatu, dia mengambil berkas-berkas penting milik Vania.


"Aku hampir saja melupakan ini. Kamu ingat 'kan jika aku hanya mengurus perusahaanmu dan menggantikanmu disana, sekarang aku ingin mengembalikan semuanya padamu." Alex menyodorkan berkas itu dan langsung diterima oleh Vania.


"Lalu, rumah ini? Aku juga memiliki hak disini, Alex!" ungkap Vania.


"Ya, benar sekali. Rumah ini juga adalah milikmu karena kita membelinya menggunakan uangmu, tetapi aku yang mengelola perusahaan milikmu hingga akhirnya bisa berkembang pesat. Rumah ini juga hasil kerja kerasku, apa kamu menginginkan pembagian harta?" Alex bersidekap.


Vania terdiam, dia bingung harus berkata apa lagi tetapi dirinya juga tidak rela jika wanita ja*la*ng seperti Adiba menikmati hasil dari uangnya.

__ADS_1


"Van, kamu tau jika aku ini adalah Alexandra Louise bukan? Aku juga sangat kaya raya bahkan perusahaanku lebih maju dibandingkan perusahaanmu. Aku juga bisa membeli rumah seperti ini bahkan lebih mewah, jadi aku memutuskan untuk memberikan rumah ini padamu dan kami akan angkat kaki dari sini. Ayo , Sayang!" Alex mengajak Adiba mengemasi barang-barang mereka dan Diba pun menurut tanpa banyak berbicara.


Alex memanglah keturunan orang kaya, Almarhum Papinya pengusaha terkenal se-Asia hingga hal itu membuat Alex sedikit sombong dan tidak ingin mengemis harta.


🌺🌺🌺🌺🌺


Dua minggu kemudian.


Vania sudah memutuskan untuk menjual rumah yang dulu dia dan Alex tinggali, dia sudah membeli rumah baru yang tak jauh dari ibu kota J. Vania pun akan mengurus perusahaannya, dia memberikan kepercayaan butik kepada adik sepupunya yaitu anak dari tante Erika. Jujur sangat sulit bagi Vania untuk melupakan Alex tetapi dia tidak bisa terus berlarut-larut dalam kesedihan.


Satu minggu dia mengurus perusahaan semuanya berjalan lancar, Vania akan melawan rasa mual dan lemasnya demi kehidupan sang buah hati dimasa depan.


Tok tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vania.


"Masuk!" teriaknya dari dalam dan meletakkan bolpoin yang dia pegang.


Pintu ruangan terbuka dan masuklah sang sekertaris.


"Maaf, Nyonya. Ada klien yang ingin bertemu dengan Anda, dia mengatakan jika dirinya pemilik perusahaan ASHAD COMPANY." ucap sang sekertaris.


"Ashad company? Apa kita memiliki kerjasama dengan perusahaan itu?"


Sekertaris tersebut mengangguk. "Ya, waktu itu bawahan Ashad Company yang datang dan sekarang adalah pemilik perusahaannya."


"Baik, biarkan dia masuk." putus Vania dan sekertaris tersebut keluar dari ruangan Vania.


Pemilik perusahaan Ashad Company masuk ke dalam ruangan Vania dan kala itu kursi kebesaran Vani membelakangi pintu masuk hingga dia tidak tahu siapa yang datang.


"Permisi, Nyonya." sapa pria yang sudah berdiri tepat di dekat meja Vania.


Vania memutarkan kursinya dan manik mata mereka langsung bersitubruk.


__ADS_1



TBC


__ADS_2