
Alvin menatap wajah Elza dengan seksama, dia berlutut di depan Elza dan hal itu membuat El terkejut.
"Vin, apa yang kamu lakukan?" tanyanya heran dengan hati berdebar.
"Selama bertahun-tahun aku selalu saja memikirkan tentang dirimu, bayanganmu tidak pernah hilang dari benakku. Kamu adalah satu-satunya wanita yang paling aku cintai, aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu jika kamu mau menerima cintaku ini. Aku bukanlah sosok pria yang sempurna, maka dari itu aku ingin kamu menjadi pelengkap untukku agar aku bisa menjadi sempurna dengan adanya dirimu."
Seketika detak jantung Elza seakan hampir berhenti, dia tidak menyangka jika Alvin akan mengungkapkan perasaannya.
"Mungkin usia kita terbilang masih muda untuk menjalani bahtera rumah tangga, tetapi aku ingin mengikatmu terlebih dahulu dan mengatakan pada dunia jika kamu hanyalah milikku. Apa kamu mau menerima lamaranku? Aku tidak pintar dalam merangkai kata-kata romantis, tetapi intinya ungkapanku ini tulus untukmu." Alvin menyodorkan kotak beludru yang di dalamnya ada cincin bermata berlian.
Elza tersenyum lebar, dia tidak bisa menahan kebahagiaannya saat ini. Dirinya menganggukkan kepala dengan pasti.
"Aku—" belum selesai berbicara, Alvin sudah berdiri dari bersimpuhnya.
"El, bagaimana menurutmu ungkapan perasaanku tadi? Apakah masih ada yang kurang atau memang sangat kurang romantis?" Alvin duduk disebelah Elza.
Elza mengerutkan dahi. "Maksud kamu apa, Vin?"
"Ya, aku tadi hanya mengetes saja karena aku ingin mengungkapkan perasaanku pada seseorang." Alvin menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jadi, ungkapan itu bukan untukku?" air wajah Elza berubah yang tadinya tersenyum kini menjadi sendu.
Alvin menatap wajah Elza yang terlihat sangat berbeda. "El, aku sudah menganggapmu sebagai saudari kandungku sendiri. Bagaimana mungkin aku mengungkapkan semua itu untukmu?" lanjutnya dengan gelengan kepala.
"Tapi, jika itu bukan untukku lalu siapa? Siapa wanita yang ingin kamu lamar?"
"Ica," jawab Alvin pasti dan yakin, dia tidak tahu jika Ica sudah bertunangan dengan pemuda lain.
Alvin tidak berteman dengan Ica di media sosial, bahkan Alvin terbilang tidak pernah lagi bermain media sosial karena dia sangat sibuk mengurusi urusannya. Elza juga tidak memberitahu pada Alvin jika Ica sudah dilamar dan bahkan sebentar lagi akan segera menikah.
"Kamu tidak salah?"
Alvin menggeleng.
Alvin tercengang dengan penuturan Elza. "Tidak mungkin, kamu pasti berbohong." senyum hambar terlihat di kedua sudut bibir Alvin.
"Bohong bagaimana? Apa kamu perlu bukti?" Elza mengeluarkan ponselnya, dia memberitahu foto-foto acara lamaran Ica waktu itu.
"Ini, ini foto tiga tahun yang lalu. Mereka sudah bertunangan saat masih kuliah dan keduanya telah sepakat untuk menikah setelah mereka lulus kuliah. Apa kamu masih tidak percaya denganku?" Elza menatap Alvin dengan lekat, terlihat kekecewaan disana.
__ADS_1
"Sudah lama aku menunggu waktu ini, tiga tahun aku menjaga hatiku untuk Ica tetapi apa ini? Aku akan tetap mengungkapkan perasaanku pada Ica sebelum janur kuning melengkung." tekad Alvin meski pada akhirnya dia akan mendapatkan penolakan dan patah hati.
Elza menggeleng. "Aku yang salah karena aku tidak memberitahumu jika kak Ica sudah memiliki calon suami. Vin, lihat aku! Disini ada aku yang mencintaimu, aku tulus mengatakan hal ini. Dari semasa kita masih memakai seragam putih abu-abu aku sudah tertarik denganmu dan aku memiliki perasaan istimewa untukmu. Vin, lupakan kak Ica dan lihat keberadaanku disini yang benar-benar tulus mencintaimu." ucapnya menatap Alvin dengan sendu.
Alvin berdiri, dia menggeleng. "Aku sudah menganggapmu sebagai saudari kandungku, Elza. Sejak kita masih bersekolah itu pula aku telah mencintai Ica dan aku berjanji pada diriku sendiri akan melamar Ica jika kita sudah beranjak dewasa."
"Tapi nyatanya kak Ica sudah memiliki calon suami, Alvin! Mengapa kamu tidak mengerti sama sekali?" Elza seakan frustasi.
Alvin harus menenangkan diri terlebih dahulu, dia pergi meninggalkan Elza yang mematung di tempatnya. Elza ingin memanggil Alvin tetapi dia mengurungkan niatnya, dia menutup wajah menggunakan telapak tangan dan disitu pula dirinya menangis.
"Hiks, mengapa aku tidak menyadari jika ternyata Alvin menyukai kak Ica dan bukan aku? Rasa ini sudah menyebar sehingga sulit untukku melepaskan Alvin begitu saja." ucap Elza disela tangisannya.
Pikirannya saat ini sedang kacau dan dia akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
•
•
TBC
__ADS_1
ALVIN SEDANG GALAU 🥲