
Dua bulan kemudian.
Hari ini Ica akan pergi ke luar kota untuk menghadiri kompetisi busana yang mendatangkan begitu banyak desainer terkenal dari berbagai kota, tentu saja hal tersebut membuat Ica sangat antusias untuk memamerkan karya indahnya yaitu model pakaian terbaru dan pastinya tidak ada satu pun yang merancang gaun seperti itu.
Ica berdoa dalam hati semoga setelah ini kariernya semakin melonjak pesat. Dia sudah bersiap dengan memakai setelah kemeja, sepatu heels tinggi dan tas jinjing bermerek Gucci. Dirinya sangat tampil cantik dan elegan, meski gaya busananya terbilang cukup sederhana.
Ica berjalan menuruni anak tangga, disana sudah ada kedua orang tuanya yang bersiap untuk memulai sarapan.
"Morning," sapa Ica seraya mengecup pipi Vania dan Robi, tak lupa dia mengacak rambut adik bungsunya yang sangat kesal akan hal itu.
"Kakak kebiasaan deh!" ketua sang adik sambil melengos.
Ica hanya tertawa pelan lalu dia mengambil piring, roti dan selai cokelat kesukaannya. Selesai menyiapkan sarapan, Ica segera melahapnya dengan santai.
"Sayang, berapa hari kamu berada di luar kota?'' tanya Vania kepada Ica.
"Em, mungkin sekitar dua sampai tiga hari, Ma. Setelah selesai kompetisi, Caca berniat mengajak karyawan dan model di butik Caca untuk jalan-jalan terlebih dahulu." ujar Ica setelah dia menelan sarapannya.
"Mama pasti akan sangat merindukanmu." ucap Vania lesu.
Ica hanya tertawa kecil, sementara Robi menggelengkan kepala.
"Ma, di rumah ini masih ada aku dan Rivan yang menemani kamu. Jangan menganggap kami tidak ada sehingga kamu nantinya akan membuat Ica tidak tenang berada di luar kota." nasehat dari Robi.
"Benar kata Papa, Ma. Caca 'kan bakalan pulang, hanya tiga hari saja." Ica melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Caca pergi dulu, ya? Takut terlambat." lanjutnya seraya berdiri dari tempat duduk dan kembali mengecup pipi Vania juga Robi.
"Bye, gembul kakak." Ica mengecup pucuk kepala Rivan lalu dia bergegas keluar dari rumah.
__ADS_1
Vania menatap punggung belakang Ica dengan kesedihan, entah mengapa dia berat melepaskan Ica pergi ke luar kota. Robi yang mengerti akan kerisauan Vania langsung mengelus pundak Vani, dia tersenyum seakan menguatkan Vania.
Sementara di mobil, Ica memasang earphone untuk menghubungi para karyawannya, dia mengatakan jika dirinya lima belas menit lagi akan sampai di butik dan mereka harus sudah bersiap ketika Ica sampai disana. Semua pegawai menjalankan perintah yang Ica katakan, tak lama kemudian panggilan terputus.
Ica bersenandung ria, jemarinya mengetuk stir mobil sambil menggoyangkan kepalanya seakan menikmati lantunan musik di dalam mobil itu. Entah mengapa tiba-tiba dibenaknya terlintas wajah tampan Alvin, dia menghembuskan napas pelan karena sudah hampir satu bulan Alvin tidak menghubunginya.
"Ada apa dengannya? Apa dia sengaja tidak menghubungi aku agar aku merasa kehilangan? Hm, basi!" cibir Ica seraya tersenyum tipis.
Di jalanan yang cukup sepi, sebuah mobil berwarna hitam mengkilap sengaja mengikuti Ica dari arah belakang. Ica tidak menyadari itu, dia masih asyik mendengarkan musik di dalam mobilnya.
Saat sampai di jalan berkelok dekat tepi jurang, Ica baru menyadari jika mobil di belakangnya sangat aneh dan terus mengikuti laju mobilnya. Ica mencoba memelankan laju mobil tetapi kendaraan di belakangnya ikut melaju pelan.
"Mobil itu sepertinya mengikutiku, tapi apa mungkin? Aku tidak tahu itu mobil siapa, atau—" Ica tidak meneruskan ucapannya tetapi dia langsung bertindak.
Dirinya menghentikan mobil, namun kendaraan di belakangnya ikut berhenti. Perasaan Ica semakin kacau dan tidak karuan, padahal sebentar lagi dia akan segera sampai di butiknya. Ica membuang pikiran buruk itu, dia segera melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi mencapai 80km/jam. Tak hanya berhenti disitu, mobil tadi tetap mengikuti Ica.
Beberapa kilometer kemudian, mobil Avanza hitam itu semakin mendekati Ica, pengendaranya sebagian memepet mobil Ica hingga hampir saja terjun ke jurang.
Ica menelan ludah, jantungnya hampir copot akibat mobil disampingnya. Ica membuka jendela agar bisa berbicara dengan sang pengendara tetapi hal itu sepertinya percuma.
"Astaga, punya masalah apa orang itu denganku?" gumam Ica ketakutan karena mobil yang mengikutinya sudah berada di depan.
Ica dapat melihat plat mobil tersebut, dia memicing dan mengingatnya. Namun, secara tiba-tiba, terdengar suara tembakan dan membuat mobil Ica melaju tidak tentu arah. Bagaimana tidak, sang pengendara di depan Ica membuka jendela mobil belakang. Dia melihat ke sekitar terlebih dahulu, setelah dirasa aman, dirinya langsung melambungkan tembakan tepat pada ban mobil Ica hingga membuat mobil tersebut oleng tak tentu arah.
Sang pengendara memelankan laju mobil mereka, keduanya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dan....
BRAK!
__ADS_1
Suara teriakan Ica sangat kencang dan histeris, mobil miliknya terjatuh ke jurang karena Ica tidak bisa mengontrol dengan baik laju mobil tersebut hingga keseimbangannya hilang begitu saja dan menyebabkan mobil tersebut terjatuh ke dalam jurang.
Bom!
Suara letusan mobil pun terdengar sangat kuat hingga ke jalanan, kedua pria yang ada di dalam mobil hanya tersenyum penuh kemenangan karena misi mereka telah berhasil.
"Ayo, kita kembali ke markas! Bos pasti akan senang mendengar kabar ini." ucap sang penembak dan rekannya langsung melajukan mobil pergi dari jalanan itu.
Jalanan tersebut memang jarang di lewati oleh orang atau pengendara lainnya, sebab begitu banyak korban disana yang nyaris meninggal di tempat akibat kecelakaan maut. Hal itu membuat banyak pengendara takut dan tidak berani melewati jalan itu.
Di rumah.
"APA!" Vania berteriak kaget hingga telepon rumah yang dia pegang jatuh begitu saja di atas lantai.
Vania membekap mulut, tangannya gemetaran dan lidahnya keluh seperti sulit untuk bicara. Air mata turun tanpa permisi hingga membasahi kedua pipi Vania, tatapannya kosong seperti orang frustasi.
"TIDAK!" teriak Vania kencang hingga suaranya menggema di seluruh penjuru rumah mewah itu.
Tubuh Vania luruh ke lantai, dia meraung tidak karuan setelah mendapat kabar dari pihak polisi jika Putrinya mengalami kecelakaan di jalan mangga km.39. Polisi mengatakan jika mobil Ica terjun ke jurang dan meledak hingga membuat mobil tersebut hancur berkeping-keping, untung saja polisi bisa menemukan kartu tanda penduduk milik Ica dan mereka segera menghubungi pihak keluarga korban.
Salah satu pengendara motor yang lewat curiga karena ada asap besar dari bawah jurang, dia menghentikan laju motornya dan melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya saat yang dia lihat ternyata sebuah mobil terbakar hangus di bawah sana. Pengendara itu segera menghubungi pihak berwajib agar bisa mengeksekusi korban kecelakaan.
•
•
•
__ADS_1
TBC