
Ica sedang menatap rembulan dimalam hari, saat ini semua dalam keadaan tidak baik-baik saja termasuk hatinya. Dia pun memutuskan untuk berpisah kamar dengan Elza guna menenangkan pikiran, rasa sakit yang diberikan oleh Rizi dan Elza masih membekas di hati Ica. Dia menyandarkan tubuhnya telah pada dinding pintu balkon, matanya tidak lepas dari bulan yang bersinar indah. Ica menghapus air mata dengan kasar, lamunannya tersadar ketika suara ketukan pintu terdengar begitu kencang. Ica pun segera berjalan ke pintu kamar lalu membukanya.
"Elza? Ngapain kamu datang ke kamarku?" tanya Ica tanpa ingin berbasa-basi.
"Kak, maafkan aku. Sikapmu semakin hari makin berubah dan itu membuatku merasa kurang nyaman. Bahkan, Mama juga mulai berubah tidak seperti dulu. Ini semua bukan hanya kesalahanku, kak. Kejadian itu tidak disengaja, bagaimana lagi aku harus membuat kalian semua percaya?" Elza bersimpuh di bawah kaki Ica dengan Isak tangis.
Ica menahan tetesan air matanya, jujur dia sangat sedih melihat Elza yang tidak dipedulikan seperti dulu. Akan tetapi, Ica hanya wanita biasa yang bisa sakit hati.
"Aku sudah memaafkanmu, pergilah. Aku tidak sedang tidak ingin diganggu." ucap Ica datar.
Selama tiga hari ini, Ica tidak mengatur pola makan dengan baik. Bahkan, dalam satu hari itu dia hanya memakan sebungkus roti selai cokelat dan satu gelas susu cokelat. Ica tidak selera makan, semua rencana masa depannya hancur dalam hitungan hari. Dia menutup pintu dan tidak mempedulikan panggilan dari Elza. Dia ingin menguatkan hati ketika nanti Rizi sudah resmi menjadi suami Elza.
Ica menghempaskan tubuhnya di ranjang, dia menangis dengan posisi tengkurap.
"Hiks, sulit untukku agar bisa melupakan semuanya. Aku sangat mencintai kak Rizi," Ica menangis hingga sesegukan, air matanya serasa ingin habis karena dia terus menangis setiap hari.
Diluar kamar, Elza masih betah di depan pintu kamar milik Ica. Dia juga menangis dan saat ini hidupnya serasa tidak nyaman berada di rumah tersebut. Vania tidak lagi mempedulikan dia, hanya Robi—lah yang tetap menyayangi serta memahami Elza.
__ADS_1
Saat merasa lelah, Elza memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Pernikahan antara dia dan Rizi akan dilangsungkan satu Minggu lagi mengingat Rizi sudah menghabiskan malam dengan Elza.
🌺🌺🌺🌺🌺
Alvin mengirimkan pesan ke nomor kontak milik Ica, dia baru mendapatkan setelah mencarinya lewat media sosial. Alvin bukanlah pria bodoh sehingga untuk mencari nomor ponsel seseorang saja dia tidak bisa. Selama tiga tahun lebih ini, Alvin sudah berusaha menghubungi Ica tetapi nomornya selalu tidak bisa dihubungi. Bahkan, nomor yang Elza beri juga tidak bisa dihubungi.
[Hai, selamat malam.] send Ica.
Alvin menunggu balasan dan dia terus memantau aplikasi hijau miliknya, pesan itu sudah centang dua tetapi belum tanda biru yang menandakan Ica aktif namun belum membuka WhatsApp.
[Ya, dengan siapa ini? Ada yang bisa saya bantu?] pesan sopan dari Ica.
Alvin tersenyum membacanya, Ica memang tidak pernah berubah yaitu tetap lemah lembut dan juga sopan.
[Kamu tidak mengingatku?] Alvin kembali mengirim pesan sambil memasukkan fotonya ke dalam pesan tersebut.
Dia menunggu selama hampir lima belas menit tetapi belum ada balasan dari Ica, hanya centang dua dan tandanya belum dibaca.
__ADS_1
Alvin terdiam sambil merebahkan diri di ranjang, dia memikirkan apa yang telah terjadi dengan Ica.
"Ada apa dengannya? Dia melupakan aku dan bahkan sangat lama membalas pesan dariku." Alvin memantau media sosial Ica, di Instagram, dia menemukan caption yang mengatakan jika satu Minggu lagi akan berpisah dengan adiknya.
Alvin mengerutkan dahi sambil berpikir. "Apa pernikahan Ica akan dilangsungkan satu Minggu lagi? Itu tandanya dia sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. Tidak!"
Alvin memutuskan untuk datang ke rumah Ica satu Minggu lagi setelah pernikahan dilangsungkan.
•
•
TBC
SEDANG DALAM FASE INGIN MENYENDIRI (ICA)
__ADS_1