
Hari Minggu yang cerah ini, Alvin memutuskan untuk pergi ke rumah Elza. Dia akan mengajak kedua kakak-beradik tersebut jogging berhubung hari masih pagi dan matahari belum terlalu tinggi. Alvin pergi ke rumah Elza menggunakan sepeda motornya, dia menaiki motor gede kesayangannya.
Sesampainya di rumah Elza, Alvin segera meminta kepada satpam untuk membukakan pintu gerbang. Satpam tersebut sudah hapal dengan Alvin karena sering mengerjakan tugas sekolah bersama dengan Elza dan Ica.
"Eh, Den Alvin masih pagi udah sampai sini. Pasti mencari Non Elza, ya?" goda sang satpam dengan senyuman.
"Pak satpam tahu aja," Alvin terkekeh pelan. "Ngomong-ngomong, Elza ada di rumahkan?"
"Ada, Den. Silahkan masuk, atau mau saya panggilkan Non Elzanya?"
"Gak usah, Pak. Saya masuk saja sendiri, permisi." Alvin pergi meninggalkan satpam.
Alvin sangat ramah sehingga orang tua Ica dan Elza maupun pekerja disana menyukainya.
Alvin mengetuk pintu, dia berdiri dengan sopan.
Ceklek!
Pintu terbuka dan sang asisten rumah tangga tersenyum ramah.
"Den Alvin, cari Non El ya?"
Alvin mengangguk, semuanya sudah tahu jika setiap Alvin bertamu ke rumah itu pastinya ingin bertemu dengan Elza.
"Ayo masuk, Den. Bibi panggilkan Non Elza dulu."
"Terima kasih, Bi." sahut Alvin ramah dan dia mengikuti asisten rumah tangga itu masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama, Elza berjalan menuruni anak tangga dengan memakai kaos oblong berwarna biru dan celana jeans pendek. Dia terlihat seperti anak laki-laki, rambutnya di gulung ke atas.
"Alvin, tumben kamu pagi-pagi udah sampai sini? Ada apa?" Elza bertanya ketika berada di dekat Alvin.
"Aku sengaja ingin mengajakmu jogging pagi ini, kamu tidak lupakan jika sekarang hari Minggu?" Alvin berdiri dari tempat duduknya.
Elza mengangguk. "Ya, tentu saja aku ingat! Bagaimana bisa aku melupakan hari bahagia ini, jangan tanya kenapa aku menyebutnya bahagia. Kamu pasti sudah tahu alasannya." lanjutnya dengan tawa renyah.
Alvin sangat tahu apa maksud Elza hari bahagia yaitu artinya mereka libur sekolah dan Elza sangat senang akan hal itu. Otaknya berasa bebal jika harus memikirkan tugas sekolah terus menerus, berbeda dengan Ica yang akan suntuk apabila libur telah tiba. Dia pasti menyibukkan diri dengan membaca komik atau buku cerita lainnya, sementara Elza sibuk bermain game online.
"Terlihat dari pakaianmu sepertinya kamu ingin pergi jogging, benarkah?" Elza bersidekap sambil menatap Alvin yang sudah memakai pakaian olahraga dari atas sampai bawah.
Alvin mengedikkan bahu. "Ayo, segera bersiap dan kita akan pergi bersama. Tapi, jangan lupakan sesuatu.'' bisik Alvin pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
__ADS_1
"Sesuatu apa?" Elza menjadi bingung dengan isyarat itu.
"Ica, jangan lupa ajak Ica juga."
Elza terbahak-bahak. "Astaga, Vin! Kamu cuma mau mengatakan ajak kak Ica saja harus—" ucapan Elza terpotong berganti dengan gumaman tidak jelas.
Elza dengan cepat melepaskan bekapan tangan Alvin yang menutupi mulutnya.
"Vin, kamu habis makan apa sih?" Elza mengusap hidungnya.
"Memangnya kenapa?" Alvin mencium tangannya lalu napasnya sendiri.
"Tangan kamu bau tau gak sih!" Elza memicing kesal.
Alvin terkekeh. "Tadi kebetulan Mommy memasak sarapan nasi goreng petai, wanginya harum banget dan membuatku tidak sabar untuk melahapnya."
"Berarti tangan kamu bau petai ? Kok bisa, kamu makan pakai sendok 'kan?"
Alvin mengangguk. "Aku makan memang memakai sendok tetapi aku melalap petai itu dengan tangan, rasanya sangat nikmat."
Elza berteriak lalu dia berlari menaiki anak tangga.
"Tampan kok doyannya petai! Tunggu kami beberapa menit lagi." teriak Elza sebelum sampai di pertengahan tangga.
"Loh, ada Nak Alvin. Pantesan saja ramai," sapa Vania ketika melihat Alvin.
Alvin bergegas menghampiri Vania dan Robi, dia mengecup punggung tangan orang tua Ica itu.
"Selamat pagi tante, om." sapa Alvin pada kedua orang tua itu.
"Pagi, nak. Ayo duduk dulu, pasti sedang menunggu Elza 'kan?" Vania tersenyum tipis.
Alvin mengangguk lalu kembali duduk di kursi.
"Tante dan om apa kabar?"
"Kabar kami baik, nak. Oh ya, kalian mau kemana hari ini? Akh, tante tahu! Pasti kalian ingin jogging ya?" Vania menatap penampilan Alvin dari atas sampai bawah.
Alvin hanya tersenyum menanggapi ucapan Vania.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu, Vin?" tanya Robi.
__ADS_1
"Mereka juga dalam keadaan baik, om."
Robi pun menganggukkan kepala, beberapa menit kemudian turunlah Elza dan Ica bersamaan. Hal itu membuat Alvin mengembangkan senyumannya karena kedatangan dua gadis yang dia tunggu-tunggu.
"Ayo, kami sudah siap!" ajak Elza tidak sabar.
Alvin berpamitan kepada kedua orang tua Ica dan Elza. Mereka bertiga pergi dengan menggunakan sepeda gunung yang ada di rumah.
Setelah sampai di taman, mereka bertiga segera memarkirkan sepeda itu di tempat penjualan minuman. Mereka meminta tolong agar sepedanya diawasi. Sang penjualan minuman tidak keberatan karena dia telah mengenal Alvin.
Mereka berlari bersama sambil mengobrol, Ica hanya sekali-sekali menjawab pertanyaan dari Alvin. Beberapa saat kemudian, Ica terjatuh dan dia mengadu kesakitan.
"Aw," Ica memegang sikunya yang tergores tanah, darah segera keluar dari sana tetapi hanya sedikit. Ica meringis karena rasa perih yang mendera.
Alvin sontak berjongkok di dekat Ica, dia melihat siku milik Ica lalu meniup luka itu.
"Sakit ya? Makanya pelan-pelan, kok bisa jatuh sih?" Alvin bertanya dengan nada khawatir.
Ica mengedarkan pandangan. "Mungkin aku tersandung akar itu." tunjuknya ke arah akar pohon yang tertancap di tanah.
Sementara Elza, dia merasa iri karena Alvin bersikap manis seperti itu. Dia sengaja menjatuhkan dirinya sendiri karena penasaran dengan reaksi Alvin. Apakah sama seperti melihat Ica terjatuh?.
"Aw, aku jatuh." pekik Elza memegangi sikunya.
Alvin melirik Elza sejenak lalu dia tersenyum tipis.
"Ngapain kamu, El? Lebay deh!" ejeknya sambil membantu Ica berdiri.
Elza hanya mengerucutkan bibir. "Vin, apa kamu tidak ada niat untuk membantuku berdiri?"
"Kamu tidak terluka, berdiri saja sendiri. Berkelahi bisa, masa jatuh pelan gitu aja manja." Alvin menggandeng tangan Ica lalu mereka berjalan duluan dengan tawa yang Alvin tunjukkan.
Elza merasa kesal, dia berdiri dan berteriak memanggil nama Alvin.
"ALVIN MAHENDRA!" teriaknya kesal sambil berlari menyusul Alvin dan Ica.
Hal seperti ini sudah terbiasa mereka jalani, ketiganya enjoy dan merasa itu semua adalah humor sesama sahabat.
•
•
__ADS_1
TBC