
Ketika sampai di kampus, Ica dan Elza bergegas berjalan ke kelas mereka. Namun, langkah keduanya terhenti oleh panggilan seseorang. Sontak Ica dan Elza menoleh ke belakang ketika mereka mendengar panggilan dari sosok pemuda tampan bergaya cool tersebut.
Elza melirik Ica sejenak, terlihat senyuman manis dikedua sudut bibir Ica. Elza dengan dengan sengaja menyenggol lengan Ica, dia merangkul sang kakak.
"Oh pangeran berkuda putih, akhirnya kau datang juga." goda Elza yang mana mampu membuat Ica tersipu.
Pemuda tampan itu sudah berada di hadapan Ica, dia tersenyum manis sesudah menyapa Ica.
"Kamu ingin ke kelas?"
Ica mengangguk malu.
"Bagaimana, jika kita berjalan bersama menuju ke kelas."
"Tidak masalah, ayo."
Elza hanya tersenyum, dia seperti obat nyamuk yang hanya menjadi penjaga kedua insan berbeda gender itu.
Al Farizi Munandar, dia adalah pemuda tampan nan kaya raya. Orang tua Rizi donatur tetap di Universitas Gunadarma, tak sedikit para gadis yang menggilai Rizi hingga diantara mereka ada yang rela memberikan kehormatan dan kehangatan untuk Rezi. Akan tetapi, semua itu Rezi tolak karena dia tidak ingin merusak kesucian gadis manapun. Rizi pernah mencintai seorang wanita bernama Farah, tetapi Farah telah tiada akibat penyakit kanker dan itu membuat Rizi menutup hatinya.
Perjumpaan Ica dan Rizi pada saat MOS di kampus, Rizi sosok pendiam, jutek, dingin dan jarang tersenyum. Hal itu membuat Ica penasaran dengan kakak seniornya yang terlibat sangat berbeda tersebut. Hingga pada akhirnya, Ica diam-diam menaruh hati kepada Rizi. Entah apa yang terjadi, hubungan mereka semakin dekat bahkan Rizi pernah mengajak Ica dinner dan mengantarkan pulang ke rumah.
Semua para Mahasiswi iri dengan Ica, mereka heran mengapa harus Ica yang bisa mendapatkan perhatian lebih dari Rizi. Sementara Rizi, dia menyukai Ica karena sikap lemah lembut, anggun dan pemalu ada dalam diri Ica. Selain itu, Ica juga gadis cantik nan berpikiran dewasa.
"Ca, sepulang dari kampus kamu ad kegiatan lain gak?" Rizi bertanya ketika mereka hendak sampai di kelas Ica.
Ica mengingatnya terlebih dahulu, dia yakin jika hari ini tidak ada tugas apa pun. Dirinya langsung menggelengkan kepala.
"Tidak ada, memangnya kenapa?"
"Aku, ingin mengajakmu jalan-jalan menonton bioskop."
"Uhuk uhuk," Elza sengaja batuk karena dia merasa kehadirannya tidak di anggap.
Ica dan Rizi melirik ke arah Elza.
"Em, nanti aku kabarin." ucap Ica menggantungkan jawabannya.
"Baiklah, sampai ketemu." Rizi melambai lalu pergi menuju kelasnya.
"Oh dunia serasa milik berdua." Elza menggoda Ica berulang kali.
Plak!.
"Kamu ini, bisa diam gak sih? Godain orang Mulu kerjaannya." Ica terkekeh pelan.
Mereka berdua duduk di kursi masing-masing.
"Kakakku tercinta, aku melihat jika Rizi sepertinya menyukaimu." Elza menumpu tangan di meja.
"Pikiranmu salah, mana mungkin pemuda sepertinya menyukai gadis seperti aku." Ica merendahkan diri.
"Hei kakakku, kamu ini aneh! Memang apa kurangnya dirimu? Kamu cantik, pintar, lemah lembut, anggun, dan kaya."
"Bukan aku yang kaya tetapi Papa." ucap Ica tertawa renyah.
__ADS_1
Elza hanya berdecak kesal karena Ica selalu saja berkilah jika mereka sedang membicarakan soal Rizi dan perasaan.
"El, apa kamu tidak ingin mencari kekasih? Ya, tetapi kamu harus bisa menjaga diri jika nanti kamu memiliki seorang kekasih."
Elza menyadarkan tubuhnya di kursi, dia bersidekap sambil melihat ke atap sekolah.
''Aku sedang menunggu kekasihku datang, kak. Aku yakin jika dirinya sebentar lagi pasti akan menemuiku." dirinya berangan-angan.
Ica menjentikkan jari. "Berhentilah mengkhayal,"
Elza mengerucutkan bibir dan tak lama kemudian dosen masuk ke dalam kelas mereka. Pelajaran pun dimulai dan semua Mahasiswa/i hanya diam mendengarkan serta menyimak penjelasan dari sang dosen.
🌺🌺🌺🌺
Di London.
Alvin mengambil jurusan bisnis sesuai dengan keinginan orang tuanya, dia sebenarnya ingin menjadi seorang arsitek tetapi Papa Alvin tidak mengizinkan karena hanya Alvin lah penerus perusahaan JAYA ABADI COMPANY. Mau tidak mau, Alvin menuruti permintaan Mama dan Papanya.
Sepulang dari kampus, Alvin heran melihat ada sebuah mobil sport berwarna gold mengkilap terparkir di halaman rumah mewah milik orang tuanya. Alvin segera masuk ke dalam rumah untuk memecahkan rasa penasaran itu. Sesampainya di dalam, Alvin melihat begitu ramai di ruang tamu.
"Nah, itu dia anaknya sudah pulang. Vin, kemari, Nak!" Papa melambaikan tangannya.
Alvin tersenyum ramah lalu dia duduk di sebelah sang Papa.
"Pa, ada apa ini?" bisik Alvin penasaran.
"Nanti akan Papa jelaskan, intinya kamu harus tetap bersikap baik dan sopan."
Alvin terdiam, dia melihat seorang wanita cantik yang usianya mungkin lebih tua diatasnya dua tahun. Wanita itu tersenyum manis dan matanya tidak pernah lepas menatap wajah Alvin.
Wanita tersebut tidak peduli, dia tetap menatap Alvin dengan senyuman yang tak pernah surut. Parasnya yang sangat cantik bak artis papan atas tidak membuat Alvin tergoda, bahkan Alvin malah merasa kurang nyaman dengan tatapan wanita itu.
Tamu pun beranjak pulang, mereka berpamitan lalu pria dewasa seusia Papa Alvin menepuk pundak Alvin dengan perlahan.
"Sampai jumpa nanti, calon menantuku." ucapnya membuat kening Alvin mengerut.
'Menantu? Siapa yang dia katakan menantu?' perasaan Alvin mulai tidak enak.
Setelah keadaan sunyi, Alvin mengentikan langkah kedua orang tuanya yang saat itu ingin menaiki anak tangga.
"Pa, aku butuh penjelasan untuk saat ini!" teriak Alvin dari lantai bawah.
Sontak kedua orang tua itu menghentikan langkah mereka dan berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri Alvin.
"Penjelasan apa, Alvin?" tanya Papa berpura-pura tidak tahu.
"Kenapa Papa bertanya seperti itu? Bukankah Papa sudah tahu apa maksud dari pertanyaanku?"
Papa melirik Mama sejenak lalu dia menghela napas pelan.
"Mereka adalah calon keluarga barumu."
"Hah?" Alvin melongo. "Keluarga baru? Maksud Papa?"
"Ya, Papa dan Mama sudah menjodohkanmu dengan putri tunggal mereka. Emily Blunt, mereka adalah keluarga terpandang dan terkaya di London. Perusahaan Papa dan perusahaan Tuan Mark Blunt telah bekerja sama. Kami sudah seperti teman dekat hingga ketika pertama kali kamu bertemu dengan Emily, dia sudah tertarik padamu."
__ADS_1
"Kenapa Papa tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu padaku? Seharusnya Papa dan Mama tidak bisa memutuskan hal sebesar ini tanpa persetujuan dariku.'' Alvin tidak terima jika dia dijodohkan oleh wanita lain.
"Kenapa Papa harus meminta persetujuan darimu? Papa yakin jika pilihan Papa benar dan pastinya akan membawa kebahagiaan untukmu."
Alvin menggeleng, dia tertawa sumbar.
"Kebahagiaan? Kebahagiaan apa yang Papa maksud? Jika Papa ingin melihat aku bahagia maka biarkanlah aku memilih jalanku sendiri, aku sudah besar, Pa." Alvin sangat sedih dengan cara berpikir kedua orang tuanya.
"Nak, mereka itu adalah keluarga baik-baik dan terpandang. Kamu pasti akan menyesal jika tidak menikah dengan anak mereka." Mama berkata lembut.
"Intinya aku tidak akan mau menerima perjodohan ini! Papa dan Mama bisa mengatur tentang pendidikanku tetapi tidak untuk masa depanku, pendampingku dan cintaku. Aku telah memiliki pilihan sendiri untuk dijadikan calon istriku."
"Siapa? Katakan pada Papa siapa wanita itu?" Papa pun menjadi penasaran.
"Ica!" tekan Alvin serius.
"Ica? Siapa dia? Apakah dia berasal dari keluarga terpandang? Pendidikannya tinggi?"
"Kenapa harus materi sih, Pa? Tapi, Papa tidak perlu khawatir karena gadis ini berasal dari kalangan atas dan tentunya selevel dengan kita." ucap Alvin yakin jika pilihannya ini direstui oleh sang Papa.
Papa hanya terdiam, dia ingin mendengarkan kelanjutan dari ucapan Alvin.
"Veronica Mahendra, putri dari Vania dan Robi. Sebagai pembisnis tentu Papa mengenal nama itu."
Papa melotot tidak percaya, dia mengangkat sebelah tangannya.
"Papa tidak akan merestui hubunganmu dengan gadis itu!" ucap Papa serius.
Alvin heran, dia mengerutkan keningnya.
"Kenapa, Pa?"
"Apa kamu tidak pernah mendengar isu miring keluarga itu? Mereka bukanlah keluarga yang tepat untukmu. Papa tidak akan setuju jika kamu berhubungan dengan anak mereka!"
"Isu miring? Aku tidak pernah mendengarnya, Pa. Memang, apa yang terjadi?" Alvin menjadi semakin penasaran tentang rahasia keluarga Ica.
"Kamu nanti akan tahu sendiri apa itu isu yang Papa katakan." Papa segera melangkah pergi.
"Pa! Tunggu, Pa! Kita belum selesai bicara!" teriak Alvin tetapi tidak dihiraukan oleh Papa.
Mama menepuk pundak Alvin.
"Nak, jangan seperti ini. Kamu turuti saja ucapan Papamu, toh ini semua juga demi kebaikanmu." nasehat Mama.
"Tapi, Ma—"
Mama menggeleng. "Jangan membuat kami kecewa, Nak." ucapnya lalu pergi meninggalkan Alvin sendirian.
Alvin memukul udara sambil berdecak kesal, dia sangat bingung harus bagaimana.
'Ca, aku berjanji akan pulang ke Indonesia dan melamarmu. Tunggu aku tiga tahun lagi, aku tidak akan menerima perjodohan ini meski apa pun yang terjadi.' tekad Alvin sudah bulat, dia pergi dari rumah ini menenangkan pikirannya sejenak. Dirinya tidak ingin penantian selama ini terbuang sia-sia hanya karena masalah perjodohan.
•
•
__ADS_1
TBC