
Enam belas tahun sudah berlalu dengan begitu cepat, kedua putri Vania tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik dan manis. Vania bersyukur karena kedua putrinya bisa akrab hingga dia sedikit lega. Ica dan Elza sudah bersekolah kelas satu menengah atas. Ica sangat cantik dengan bulu mata lentik dan wajah yang menggemaskan sementara Elza, dia juga memiliki wajah mungil dan siapapun yang memandangnya tidak akan bosan.
"Kak!" panggil Elza berlari ke arah Ica.
Ica menoleh, dia tersenyum melihat Elza.
"El, tumben kamu keluar cepat? Biasanya aku harus menunggumu hingga setengah jam kemudian." Ica terkekeh pelan.
"Ck, kakak ini. Sungguh jahat!" decak Elza dengan kesal, dia memiliki sifat yang bar-bar dan sedikit tomboi.
"Bagaimana pelajarannya, apa ada yang sulit?"
Elza menggelengkan kepala. "Cukup mudah."
Mereka berjalan menuju gerbang sekolah, Ica sendiri sangat feminim dan anggun berbeda dengan Elza. Sesampainya di gerbang, tiga orang siswa menghampiri Elza dan Ica.
"Hai, Ca." sapa pemuda yang berdiri di tengah-tengah kedua temannya.
"Ada apa panggil-panggil? Kakak kurang kerjaan ya?" Elza berkacak pinggang di depan Ica.
"Dek?" peringatan dari Ica agar Elza tidak berkelahi karena dari pertama mereka masuk sekolah menengah pertama, Elza sangat suka berkelahi dengan siapapun. Bahkan, tak sekali saja Vania di panggil ke sekolah karena ulah dari Elza.
Vania masih sabar menghadapi Elza meskipun dia terkadang merasa lelah melihat sikap tomboi Elza.
"Biarkan saja, kak! Aku yakin dia pasti ingin merayumu, dasar laki-laki tidak berguna!" tukas Elza penuh kekesalan melihat wajah tiga remaja di depannya.
Mereka bertiga adalah kakak kelas Ica, ketua geng bernama Davin Mahendra yang sangat menyukai Ica. Dia tergila-gila dengan kecantikan Ica padahal usia mereka baru menginjak belasan tahun dan sebenarnya belum mengetahui apa arti cinta.
"Kau, berani-beraninya berbicara asal seperti itu! Kau belum tahu siapa aku disini!" lawan Davin tidak terima.
__ADS_1
"Kau pikir aku takut, hah! Sini maju, badan doang besar tapi otak gak di pakai. Kau berani melawan seorang perempuan? Banci!"
Davin merasa kesal dengan Elza, dia mengepalkan tangan ingin memukul Elza tetapi tatapan mata dari Ica seakan menyihirnya.
"Ica, apa kamu mau pulang? Bagaimana, jika kita pulang naik motorku saja?"
Elza menggeleng dan Ica hanya mengangguk pelan, dia juga bukan perempuan gampangan yang mau diajak pulang bersama begitu saja, apalagi dia tahu jika Davin sosok pemuda yang sudah bergonta-ganti pacar meskipun usianya masih enam belas tahun.
"Kau duluan saja, sebentar lagi sopir kami akan segera sampai." ujar Ica penuh kelembutan karena dia memang sosok perempuan yang lemah lembut.
Davin menghela napas, dia mengedikkan bahu dan menepuk pundak kedua temannya.
"Ayo cabut!" ucapnya kepada sang teman.
"Ca, kami pulang duluan ya? Kamu hati-hati dijalan." ucap Davin sok romantis.
"Cih!" decih Elza tidak suka.
"Awas kau!" gumamnya pelan.
Elza hanya menjulurkan lidah guna mengejek Davin yang terlihat kesal.
"El, kapan kamu mau berubah? Jika sikapmu masih seperti ini sampai dewasa, aku yakin semua pemuda akan takut denganmu dan tidak berani mendekatimu."
"Kamu tau, kak. Aku tidak memikirkan soal pemuda, menikah bukanlah keinginanku dan tidak masalah jika aku menikahnya lama. Lagipula, kita ini masih bersekolah dan perjalanan kita masih panjang, lalu kenapa pikiran kakak sudah sampai disana?" Elza bersidekap sambil menatap Ica dengan tajam.
"Kamu ini, aku hanya iseng. Kenapa serius sekali, aku 'kan hanya bilang jika kamu harus mengubah sikapmu sedikit. Jadilah feminim dan jangan suka berkelahi seperti seorang laki-laki."
"Itu sudah menjadi hobiku, lalu bagaimana lagi?" Elza tertawa lebar diikuti oleh Ica.
__ADS_1
Kedatangan seorang siswa lain menghentikan tawa keduanya, Elza segera tersenyum lebar ketika tahu siapa yang berjalan menghampiri dia dan Ica.
"Hai, kalian berdua sedang menunggu jemputan?" tanyanya ketika sudah berada di dekat Ica dan Elza.
Kedua kakak-beradik itu mengangguk.
"Kau sendiri, apa kau juga sedang menunggu jemputan?"
"Tidak, aku bawa motor hari ini." jawab siswa itu, dia adalah Alvin. Remaja tampan dengan sejuta pesona dan banyak di gemari oleh para siswi di sekolah.
Alvin Rajaksa, anak bungsu dari seorang pengusaha batu bara terkenal bernama Abdi Rajaksa. Paras Alvin yang tampan karena memiliki garis keturunan Turki, sikapnya baik dan hubble, dia bahkan berteman dengan siapa pun meski dirinya orang kaya. Dia sahabat dari Ica dan Elza mulai mereka duduk di bangku menengah pertama, rumah mereka juga tidak terlalu jauh dan hanya beda komplek saja.
"Apa kau tidak ada kegiatan? Bagaimana jika kita jajan bersama nanti malam?" tanya Alvin sambil merangkul Elza.
Elza menggeleng. "Sepertinya aku tidak ada tugas, aku akan mengabarimu nanti." jawabnya dengan senyuman.
Ica hanya diam saja sambil menyimak obrolan keduanya, dia sedikit pendiam dan tidak banyak bicara berbeda dengan Elza.
Alvin tersenyum dan dia melirik Ica sekilas, lirikan itu tidak diketahui oleh siapapun.
•
•
TBC
VERONICA KECIL
__ADS_1
ELZA KECIL