Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 50 DTH


__ADS_3

Hari pernikahan pun telah tiba, Ica memakai gaun yang sangat indah dengan lengan pendek dan beberapa Payet di bagian dadanya. Hal ini seperti dia sewaktu dia mengikuti kompetisi fashion di sekolah dulu. Ica terlihat sangat cantik dan mempesona, tetapi sayang sekali aura wajahnya tidak seperti parasnya. Dia terlihat sedih dengan pernikahan ini, harusnya dialah yang ada di samping Rizi tetapi sekarang posisinya diambil alih oleh Elza sang adik. Ya, mereka disebut kakak-beradik kandung sebab masih satu Ayah meskipun terlahir dari rahim berbeda.


Ica merelakan calon suaminya karena dia merasa jika Elza lebih membutuhkan Rizi daripada dirinya. Rasa malu tentu saja di tanggung oleh keluarga tersebut, akan tetapi mereka mencoba tidak peduli dan juga pesta tersebut cukup sederhana. Semua persiapan dengan sangat tega dibatalkan dan menjadi pesta sederhana.


"Aku harus kuat, jangan menjadi lemah hanya karena satu pria. Perjalananmu masih panjang, Ica. Setelah ini, kamu fokus saja pada karirmu." titah Ica menyemangati dirinya sendiri.


Suara langkah kaki sudah ramai di luar sana sementara Ica masih setia berada di dalam kamar. Sebuah ketukan pintu membawa Ica menuju keluar.


Ceklek.


Pintu itu terbuka dan terlihat Vania sudah berdiri di ambang pintu. Dia langsung memeluk tubuh Ica karena dirinya yakin jika Ica saat ini sangat rapuh.


"Ma, semuanya akan baik-baik saja." Ica mengelus pundak Vania.


"Jangan berpura-pura kuat, Ica. Mama tahu bagaimana kamu karena Mama yang melahirkan dan merawatmu. Kamu sama seperti Mama sewaktu Mama masih muda, maka dari itu Mama mengerti bagaimana rasanya berpura-pura kuat dan tabah seperti kamu ini.'' Vania meneteskan air mata, dia tidak menyangka jika perjalanan cinta Ica tidak semanis dugaannya.


Pelukan terurai.


"Ma, Ica akan mencoba rela dan mengikhlaskan kak Rizi. Di dunia ini pria bukan hanya satu, Ica tidak ingin terpuruk dan terkurung dalam kesedihan hanya karena satu orang pria." Ica menguatkan sang Mama padahal dirinya sendiri sangat hancur.


Mereka berdua keluar dari dalam kamar karena rombongan Rizi dan keluarga sudah sampai. Ica mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan.


Elza sudah terlihat menunggu di meja ijab kabul, dia menatap rombongan keluarga Rizi dan keluarganya dengan rasa bersalah. Elza benar-benar ingin sekali menyusul sang Mama kandung akibat rasa malu yang tak dapat ditahan.


Beberapa menit kemudian.


Semua sudah berkumpul di meja Ijab kabul, Mama Rizi menguatkan Ica karena dia sudah menganggap Ica seperti anaknya sendiri. Bahkan, Mama sangat marah besar dengan Rizi.


SAH!


Suara jawaban sakral itu terdengar menyakitkan ditelinga Ica, dia berulang kali menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ica harus sabar, dia tidak boleh menangis. Dia mengambil hikmah jika tidak berjodoh maka manusia ini bisa apa, sudah berpacaran hingga bertahun-tahun, bertunangan tetapi ternyata sang calon menjadi milik orang lain. Ica tidak menyalahkan siapapun karena ini adalah takdir dan dia hanya sebagai pemeran, sementara Yang Maha Kuasa telah mengatur scenario ini.


Ketika mereka merasa sedih, satu orang pria berjalan masuk ke dalam lokasi pesta. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi tegap dan penuh wibawa, mampu membuat siapapun terpesona. Alvin, dia datang ke pesta Ica seorang diri. Ya, dia pikir Ica menikah tetapi semuanya berbanding terbalik.


Alvin terkejut saat dia melihat Elza memakai gaun pengantin dengan seorang pria disampingnya sementara Ica memakai gaun biasa.


"Apa-apaan ini? Lelucon garing.'' ujar Alvin bergumam.

__ADS_1


Dia berjalan ke arah Elza, Rizi, Ica dan Vania. Kehadirannya membuat semua orang kaget serta bingung.


"Alvin?" panggil Vania, seketika raut wajahnya berubah karena melihat Alvin, sahabat Ica dulu.


Alvin tersenyum tipis lalu dia berdiri di tengah-tengah keluarga itu.


"Tante apa kabar?" tanya Alvin berbasa-basi, dia tidak tahu dengan kejadian menyedihkan yang menimpa Ica.


"Tante baik, Nak. Kamu sejak kapan berada di Indonesia?" Vania sejenak mencoba melupakan permasalahan yang ada.


"Sudah hampir tiga Minggu, tante." jawab Alvin sambil memandang Rizi dan Elza bergantian.


Vania mengerti apa yang sedang Alvin pikirkan, dia pun segera mengenalkan Rizi sebagai suami Elza.


"Vin, ini Rizi suaminya Elza."


Alvin menjabat tangan Rizi yang terlihat raut wajahnya sangat datar dan dingin. Dia seperti tidak bahagia dengan pernikahan itu.


"El, kamu bilang Ica yang akan menikah. Tapi, kenapa sekarang kamu?" Alvin menatap Ica dan Elza bergantian.


Ica membuang muka, dia pergi dari tempat itu karena pikirannya sedang tidak baik.


"Jangan macam-macam, Rizi. Kamu lupa jika sekarang kamu adalah suami Elza, adiknya Ica? Mama sudah kecewa denganmu dan jangan membuat Mama malu juga kecewa dengan kelakuanmu saat ini." Mama menekan setiap katanya sedikit berbisik.


Rizi pun pasrah, dia berdecak kesal lalu membuang muka ke arah lain.


Alvin heran dengan suasana saat ini, tidak seperti pesta pada umumnya. Dia mengedikkan bahu lalu menjabat tangan Elza.


"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, akan tetapi aku tetap mengucapkan selamat berbahagia untuk kalian berdua. Maaf, aku harus menemui Ica." Alvin tersenyum setelah berpamitan untuk menyusul Ica.


Rizi terlihat marah, dia tidak suka dengan sikap Alvin.


"Dia itu sahabat Ica sewaktu masih sekolah menengah atas, mereka sangat akrab dan Ica selalu bahagia jika berada disampingnya. Syukurlah dia datang disaat waktu yang tepat, mungkin Ica bisa sedikit melupakan permasalahannya." ucap Vania membuat Elza bersedih.


Rizi melirik Elza dari ekor matanya, dia mendengus dan akan membuat hidup Elza berada di neraka nantinya.


Di taman belakang.

__ADS_1


Alvin melihat Ica sedang duduk sendiri di bangku sambil memandang angsa yang ada di kolam. Dia termenung sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Alvin.


Alvin pun duduk disebelah Ica, dia menatap Ica dari samping yang hanya diam saja.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Bukankah harusnya ini menjadi hal terindah dalam hidupmu? Adikmu sudah menikah dan kamu tidak bahagia atas pernikahannya?" Alvin mengikuti arah mata Ica.


Ica melirik Alvin sejenak lalu dia menghela napas.


"Ini bukan waktunya untuk bercanda." ucap Ica singkat.


"Maafkan aku, apa kamu tidak ingin membagi cerita padaku?''


Ica hanya diam saja.


"Ya, baiklah jika kamu ingin membuat aku mati penasaran." Alvin akhirnya pasrah karena dia tidak ingin memaksamu Ica.


Ica tetap diam.


Beberapa menit kemudian, tidak ada suara dari keduanya dan yang ada hanyalah suara tamu-tamu pesta itu. Ica masih setia memandang lurus ke depan melihat angsa yang kini telah berpisah.


"Ca, apa masalahmu begitu besar?" Alvin bertanya dengan nada lembut.


"Vin, aku sedang ingin sendiri. Ku mohon jangan menggangguku terlebih dahulu," ujar Ica penuh permohonan.


Alvin mengangguk paham.


"Baiklah jika itu maumu, kalau kamu sudah siap untuk menceritakan semuanya maka kamu bisa menghubungi ataupun menemuiku." Alvin tersenyum tipis, dia mengelus rambut Ica dengan pelan lalu dirinya beranjak dari bangku itu.


Terlihat tidak ada reaksi apa pun dari Ica yang mana membuat Alvin semakin sedih. Dia merasa jika dirinya hadir disaat yang kurang tepat dimana Ica terlihat masih dalam kesedihan. Begitu banyak pertanyaan di kepala Alvin tentang pernikahan yang terjadi sekarang antara Elza dengan Rizi.




TBC.


__ADS_1


HELLO BABANG ALVIN 😚😚


__ADS_2