Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 58 DTH


__ADS_3

Hanum keluar dari kamarnya, dia menuruni anak tangga lalu melihat kedua orang tuanya yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Hanum heran karena tidak biasanya mereka seperti itu, bahkan saat ini keduanya menatap Hanum dengan penuh kecemasan.


Hanum pun duduk di seberang kedua orang tuanya, dia menatap Mama dan Papa dengan tatapan penuh tanya.


"Bun, Yah, ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Hanum untuk memecahkan kebingungan.


Kedua orang tua itu saling tatap dan menghela napas pelan.


Bunda dan Ayah ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan kamu, Hanum."


Hanum mengedikkan bahu dan bersiap mendengarkan perkataan orang tuanya.


"Kami berdua sudah sepakat untuk menjodohkanmu." ujar Bahri membuat Hanum tercengang.


"Apa! Menjodohkan? Apa Ayah dan Bunda tidak salah bicara?" Hanum menatap kedua orang tuanya dengan rasa tidak percaya.


"Ini semua demi kebaikanmu, Nak. Lagipula, kamu pasti akan menyukai pemuda ini dan dia sangat cocok untukmu."


"Siapa pemuda itu?" Hanum ingin tahu siapa lelaki yang sudah membuat kedua orang tuanya seperti ini.


"Ali." jawab Bahri singkat dan tegas.


Hanum seketika terjingkat hingga dia berdiri dari tempat duduknya, dirinya menggeleng lalu tertawa remeh.


"Ali? Guru ngaji di desa ini?" Hanum terus menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Benar, Sayang. Bunda harap kamu menerima perjodohan ini, usiamu sudah matang untuk menikah dan kami melakukan ini semua demi kebaikanmu."


"Demi kebaikanku, iya? Jika Bunda dan Ayah ingin melihat aku bahagia tidak begini caranya. Aku bisa menentukan siapa pria yang akan menjadi suamiku kelak, aku tidak menyukai Guru ngaji yang sok suci itu, aku gak mau dijodohkan dengan dia!" teriak Hanum hingga suaranya menggema di seluruh ruangan, dadanya naik turun menandakan dia sedang emosi.


"Tapi, Hanum! Kami sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan Ali, Umi Ali juga telah merestui hubungan kalian. Ayah minta agar kamu memikirkan ini lagi."


Hanum tetap bersikeras tidak ingin menuruti ucapan orang tuanya.


"Aku tetap tidak mau! Dan lagi, aku sudah memiliki seorang kekasih dan dia akan segera melamarku." Hanum akhirnya mengatakan tentang statusnya dan sang kekasih.


Kedua orang tua Hanum saling tatap, mereka tidak percaya dengan lelaki pilihan Hanum.


"Apa Ayah dan Bunda tidak percaya dan tidak merestui hubungan kami, hm? Meskipun aku tidak memiliki kekasih, aku tetap tidak akan mau dijodohkan oleh Guru ngaji itu!" Hanum segera pergi meninggalkan orang tuanya, dia harus mencari tempat untuk menenangkan pikiran.


"Hanum! Hanum!" teriak Bahri hingga urat lehernya menegang.


Bahri mengusap wajah dengan kasar dan dia memukul udara.


"Yah, sabar. Biar nanti Bunda yang akan bicara pada Hanum pelan-pelan."


"Ini semua salah kita, Bun! Kita yang sudah memanjakan anak itu sehingga dia bersikap seenaknya ketika beranjak dewasa seperti ini." sesal Papa.


Siska hanya diam saja mendengarkan ucapan Bahri, dia menghela napas dan mencoba untuk tidak melawan Bahri karena urusan bisa rumit jika seperti itu.


Di sungai, Hanum duduk di atas batu, dia memasukkan kakinya ke air hingga tenggelam sebatas betis. Hanum melihat pemandangan yang indah disana, air jernih sungai itu mampu melarutkan kekesalan Hanum meski hanya sedikit.

__ADS_1


Dari kejauhan, Ali yang ingin pergi ke sungai melihat seorang wanita. Dia tidak tahu jika wanita itu adalah Hanum, hanya saja Ali mengelus dada sebab wanita yang dia lihat pakaiannya sangat terbuka. Bagaimana tidak, Hanum saat ini memakai dress di atas lutut hingga memamerkan keindahan pahanya yang mulus.


Perlahan, langkah Ali mendekati wanita yang tidak dia kenali itu.


"Assalamualaikum, permisi." Ali menunduk sopan.


Hanum terdiam, gerakan kakinya yang ada di dalam air seketika terhenti. Dia mengerutkan dahi karena sangat mengenal suara itu, kepala Hanum berputar Seratus delapan puluh derajat, dia memutarkan bola matanya malas.


"Anda, kenapa ada disini? Apa Anda sengaja mengikuti saya?" tanya Hanum tanpa merasa malu.


Ali terus beristighfar dalam hati.


"Anda jangan su'uzan, Hanum. Saya tadi tidak sengaja melihat Anda, saya ke sungai ini hanya ingin mandi. Maaf jika Anda terganggu dengan kedatangan saya, tapi saya hanya ingin mengatakan padamu, tidak baik anak perempuan berada di tempat sepi seperti ini sendirian."


"Memangnya kenapa? Ada hantu?'' Hanum tersenyum sinis.


"Bukan itu, bisa saja yang lebih mengerikan." ujar Ali memberikan clue.


"Aku tidak takut dengan apa pun, Anda tahu itu?" Hanum berdiri dari duduknya dan dia bergegas pergi meninggalkan Ali yang mengelus dada.


Setelah Hanum menjauh, Ali langsung menegakkan kepalanya dan menatap ke arah air sungai.


"Dia wanita yang akan menjadi calon istriku? Sepertinya akan sulit bagiku untuk meluluhkannya, dia tipe wanita yang jutek, keras kepala dan tidak mau kalah." ujar Ali mengingat kemarahan Hanum tadinya.


__ADS_1



TBC


__ADS_2